TRIBUNKALTENG.COM - Update perang Iran vs Amerika, Atas permintaan Yordania dan negara-negara Arab lainnya dan pertemuan darurat. Sementara Azerbaijan tak tinggal diam.
Ya, Dewan Liga Arab dilaporkan akan mengadakan pertemuan luar biasa para menteri luar negeri melalui konferensi video membahas serangan terang-terangan Iran.
Baca juga: Inilah Kegiatan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Saat Iran vs Amerika-Israel Saling Serang Saat ini
Kemudian kini Azerbaijan telah mengambil sikap yang dapat digambarkan sebagai sikap agresif-defensif karena pemerintah berupaya mencegah terulangnya serangan pesawat tak berawak Iran pada 5 Maret di wilayah eksklave Nakhchivan.
Bagi para pejabat di Baku, dampak psikologis dari serangan Iran mungkin lebih signifikan daripada kerusakan dan cedera fisik yang ditimbulkannya.
Presiden Ilham Aliyev dan para pembantunya di pemerintahan telah melakukan upaya yang signifikan untuk membina hubungan baik dengan kepemimpinan Iran selama hari-hari awal serangan kilat AS-Israel, tindakan yang mereka yakini dapat melindungi Azerbaijan dari perang yang semakin meluas.
Dikutip Tribunkalteng.com, Sabtu 7 Maret 2026 dari Eurasianet bahwa Betapa terkejutnya mereka ketika asumsi mereka terbukti salah. Indikator guncangan yang ditimbulkan oleh insiden drone tersebut dapat dilihat dari tanggapan awal para pejabat Azerbaijan, yang menggunakan kata-kata seperti " tidak tahu berterima kasih ," "kemunafikan," dan " tercela " ketika menggambarkan perilaku Iran.
Sementara itu, para pejabat Azerbaijan, yang didukung oleh media-media yang berafiliasi dengan negara, terus melancarkan retorika konfrontatif yang tampaknya bertujuan untuk menakut-nakuti Iran agar tidak mengirimkan lebih banyak drone ke arah Azerbaijan.
Pada saat yang sama, pemerintah dan media yang berpihak pada negara telah menerbitkan berbagai pernyataan dan laporan tentang dukungan internasional untuk Azerbaijan dan kecaman terhadap serangan pesawat tak berawak.
Sebagai tindakan balasan langsung, Azerbaijan menutup perbatasan daratnya dengan Iran, mencegah transit kargo yang diangkut truk antara kedua negara.
Pernyataan pemerintah mencatat bahwa penutupan tersebut merupakan tindakan sementara, yang menunjukkan bahwa lalu lintas dapat dilanjutkan jika hubungan bilateral dapat kembali stabil. Baku juga memerintahkan evakuasi diplomatnya dari Teheran, dengan alasan kekhawatiran akan keselamatan.
Ke depannya, kekhawatiran besar bagi Azerbaijan tampaknya adalah menjaga agar perjanjian perdamaian sementara Armenia-Azerbaijan tetap berjalan sesuai rencana, khususnya inti dari kesepakatan tersebut, yaitu Rute Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Internasional, atau TRIPP , yang dibayangkan sebagai penghubung penting dalam jaringan perdagangan Koridor Tengah yang sedang berkembang. Serangan pesawat tak berawak tersebut menyoroti kerentanan TRIPP terhadap potensi campur tangan Iran setelah beroperasi penuh.
Pada malam tanggal 5 Maret, Menteri Luar Negeri Azerbaijan Jeyhun Bayramov berkonsultasi melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Armenia, Ararat Mirzoyan, untuk membahas dampak serangan pesawat tak berawak terhadap pengembangan TRIPP.
Keduanya menekankan “pentingnya memastikan perdamaian berkelanjutan antara Armenia dan Azerbaijan,” menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Azerbaijan
Para pejabat Azerbaijan menyatakan bahwa setiap upaya untuk menstabilkan hubungan Baku dengan Iran harus dimulai dengan pengakuan tanggung jawab Iran atas insiden pesawat tak berawak tersebut dan hukuman bagi mereka yang bertanggung jawab. Para pejabat militer Iran sejauh ini membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Pertemuan Liga Arab
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menggambarkan serangan Iran terhadap negara-negara Arab sebagai "berbahaya".
"Serangan yang dilakukan oleh Iran sepenuhnya dikutuk, dan bukan hanya pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, tetapi juga serangan terhadap prinsip-prinsip bertetangga baik," kata Aboul Gheit.
Aboul Gheit memperingatkan bahwa serangan Iran "menciptakan keadaan permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan negara-negara Arab tetangga, dan menciptakan keretakan yang dalam antara Iran dan kawasan ini, yang akan meninggalkan dampak besar di masa depan."
Ia menekankan bahwa "tidak ada yang meremehkan kengerian perang yang dihadapi Iran.
"Tetapi pada saat yang sama tidak ada pembenaran yang dapat diterima bagi Iran untuk menargetkan negara-negara Arab tetangga dengan tujuan menyeret mereka ke dalam perang yang bukan perang mereka, terutama karena sejumlah negara Arab telah bekerja tanpa lelah untuk menghindari perang yang mengerikan ini," kata dia.
Mau Ikut Perang?
Agenda pertemuan darurat ini memantik spekulasi kalau kondisi yang makin tidak terkendali memaksa negara-negara Arab untuk ikut menyerang Iran.
Iran diketahui menyerang negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dengan menyasar lokasi-lokasi yang menampung aset-aset Amerika Serikat (AS).
Selain aset-aset AS di kawasan Teluk, Iran juga secara langsung menargetkan negara pendudukan, Israel.
Serangan ini sebagai balasan atas agresi gabungan AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer, termasuk para pimpinan komando Pasukan Garda Revolusi.
Sejauh ini, serangan Iran belum dibalas dengan serangan balasan dari negara-negara Arab.
Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, misalnya. Dua negara tersebut sejauh ini hanya bersikap defensif dengan hanya mencegat rudal dan drone-drone Iran yang masuk menyerang.
Sebagian rudal dan drone Iran itu tidak mampu diintersep, seperti contohnya di Bahrain, Dubai, dan Arab Saudi.
Kekhawatiran terjadinya perang yang lebih luas yang mengoyak perekonomian dan stabilitas kawasan menjadi pertimbangan utama negara Arab untuk tidak membalas secara ofensif serangan Iran meski terus mendapat dorongan dari AS dan bahkan negara-negara Eropa.
(Tribunkalteng.com/Tribunnews)