Jelang Lebaran 2026, Dua PLTU Cirebon 'Dipaksa' Kerja Maksimal Agar Pasokan Listrik Jawa-Bali Aman
Mutiara Suci Erlanti March 07, 2026 06:11 AM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Menjelang arus mudik dan libur panjang Lebaran 2026, dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Cirebon dipastikan bekerja maksimal demi menjaga pasokan listrik di sistem kelistrikan Jawa-Bali tetap aman.


PT Cirebon Electric Power (Cirebon Power) memastikan kedua unit pembangkit yang dimilikinya akan dioperasikan secara optimal untuk mendukung ketersediaan listrik selama periode Idul Fitri, ketika mobilitas masyarakat meningkat meski aktivitas industri menurun.


Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila mengatakan, pihaknya tetap menjalankan operasional pembangkit secara penuh untuk menjaga stabilitas pasokan listrik di jaringan transmisi utama.

Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, DPR RI Ingatkan Potensi Gangguan Haji dan Umrah


“Kami tetap bekerja. Kedua pembangkit milik Cirebon Power beroperasi optimal untuk mendukung ketersediaan listrik di jaringan 150 kV dan 500 kV,” ujar Joseph saat diwawancarai media, Jumat (6/3/2026).


Ia menjelaskan, kebutuhan listrik saat Lebaran umumnya cenderung menurun karena banyak aktivitas industri dan pabrik yang berhenti sementara selama libur panjang.


Menurutnya, kondisi tersebut justru membantu menjaga stabilitas sistem kelistrikan karena beban listrik tidak sebesar hari-hari normal.


“Biasanya saat Lebaran kebutuhan listrik memang lebih rendah karena banyak industri yang berhenti sementara. Hal ini membuat beban sistem kelistrikan ikut menurun,” ucapnya.


Meski demikian, Cirebon Power tetap mewaspadai potensi kendala pasokan batu bara yang menjadi bahan bakar utama dua unit PLTU tersebut.

Baca juga: Ribuan Orang di Majalengka Minta Perang Amerika vs Iran Dihentikan


Joseph mengungkapkan, kelangkaan batu bara yang sempat terjadi beberapa waktu terakhir dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya kebijakan domestic market obligation (DMO) yang membuat harga batu bara untuk pembangkit listrik lebih rendah dibandingkan sektor industri lain.


Ia menjelaskan, harga batu bara untuk pembangkit listrik berada di kisaran 70 dolar AS per ton, sementara untuk sektor lain seperti industri semen bisa mencapai sekitar 90 dolar AS per ton, bahkan untuk smelter mengikuti harga pasar.


Dengan selisih harga tersebut, kata dia, pemasok batu bara kerap memprioritaskan penjualan ke sektor dengan nilai lebih tinggi sehingga pasokan untuk pembangkit listrik berpotensi berkurang.


Joseph menyebutka, stok batu bara di pembangkit Cirebon saat ini masih bervariasi.


Sebagian unit memiliki cadangan di atas 10 hari operasi, sementara sebagian lainnya berada di bawah angka tersebut.


Karena itu, pemerintah saat ini tengah melakukan pembicaraan dengan para pemasok batu bara agar pasokan untuk pembangkit listrik dapat ditingkatkan.


“Kami berharap ada keberpihakan dari pemerintah untuk menambah pasokan batu bara ke pembangkit listrik,” jelas dia.


Ia menegaskan, bahwa PLTU tidak memiliki alternatif bahan bakar lain dalam jangka pendek karena seluruh fasilitas pembangkit telah dirancang khusus menggunakan batu bara dengan spesifikasi tertentu.


“PLTU batu bara memang didesain untuk memakai batu bara. Bahkan mengganti dengan jenis batu bara lain pun tidak mudah karena setiap pembangkit memiliki spesifikasi bahan bakar yang berbeda,” katanya.


Di sisi lain, ia menuturkan bahwa pada akhir Februari 2026 PLTU Cirebon Unit II telah menyelesaikan proses pemeliharaan fasilitas atau major overhaul (MOH) tipe C sesuai target.


Proses pemeliharaan tersebut berjalan lancar tanpa insiden sehingga perusahaan berhasil mencatatkan pencapaian 4,9 juta jam kerja aman (safe man hours).


“Kami pastikan pasokan listrik tetap aman dengan pengoperasian dua unit PLTU Cirebon,” ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.