Isi Lengkap Ceramah Viral Eks Mentan SYL di Lapas, Singgung Rp2.400 Triliun
Darwin Sijabat March 07, 2026 10:11 AM

TRIBUNJAMBI.COM - Sebuah rekaman video memperlihatkan mantan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), tengah memberikan ceramah viral di media sosial dan grup WhatsApp. 

Menariknya, SYL membawakan materi dengan gaya yang tidak lazim, yakni layaknya mentor dalam sebuah in-house training.

Berlokasi di Masjid Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Sukamiskin, Bandung, SYL tampil mengenakan kemeja dan celana serba putih lengkap dengan kopiah. 

Di hadapan para warga binaan yang duduk melingkar, mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini berdiri di depan papan tulis sambil memaparkan "klarifikasi" atas kasus hukum yang menjeratnya.

Dalam potongan video tersebut, SYL secara terang-terangan menyinggung kontribusinya bagi negara yang ia klaim mencapai ribuan triliun rupiah.

Dia membantah tuduhan penyelewengan uang negara dan justru menyebut keberadaannya di dalam Lapas sebagai bagian dari menikmati hidayah Allah.

"Saya berkontribusi kepada negara Rp2.400 triliun. Dalam setiap tahun, yang saya ambil hanya Rp44 miliar, itu pun untuk perjalanan ke luar negeri dan lain-lain. Ini supaya jelas. Bukan saya mau membela diri di sini. Tidak ada gunanya membela diri. Yang ada adalah menikmati hidayah Allah. Salah satunya, kalian ada di pesantren ini. Itu sudah betul. Daripada yang tidur di sana," tegas Syahrul Yasin Limpo sebagaimana dikutip pada Jumat (6/3/2026).

Istilah "pesantren" yang ia gunakan untuk merujuk pada Lapas Sukamiskin menjadi sorotan warganet. 
SYL seolah ingin memberikan perspektif baru bagi rekan-rekan sesama penghuni Lapas agar melihat masa tahanan mereka sebagai proses pembelajaran spiritual daripada sekadar menjalani hukuman. 

Hingga kini, video tersebut terus menuai beragam reaksi dari publik terkait perbandingan angka kontribusi dan nilai kasus yang ia sampaikan.

Isi Lengkap Ceramah SYL di Lapas Sukamiskin

Selengkapnya, berikut transkrip ceramah Syahrul di "pesantren" Lapas Klas I Sukamiskin:

"Membuat gerakan itu benar-benar mencapai sasaran. Tidak boleh ada pemborosan dalam pembiayaan.

Pemimpin itu, makanya, kalau agak pelit sedikit tidak apa-apa. Karena dia akan terus bertanya, 'Betulkah ini harganya segini?'

Baca juga: Aksi Viral AKBP Natalena Eko di Bungo sebelum Didemosi, Bakar Dompeng-Ngamuk di SPBU

Baca juga: Duka Ramadan di Kumpeh Jambi: Rumah Nenek Sebatang Kara Ludes Terbakar

Kalau ada pemimpin yang berkata, 'Ah sudahlah, tidak apa-apa boros-boros saja,' itu bukan pemimpin yang baik.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu mengefisienkan gerakan, mengefektifkan gerakan, dan menghindari kebocoran, bahkan menghindari penyelewengan.

Sekali lagi, saya masuk di sini bukan karena penyelewengan. Bukan. InsyaAllah. Saya janjikan dunia akhirat di masjid ini.

Saya berkontribusi kepada negara Rp2.400 triliun. Dalam setiap tahun, yang saya ambil hanya Rp44 miliar, itu pun untuk perjalanan ke luar negeri dan lain-lain.

Ini supaya jelas. Bukan saya mau membela diri di sini. Tidak ada gunanya membela diri. Yang ada adalah menikmati hidayah Allah.

Salah satunya, kalian ada di pesantren ini. Itu sudah betul. Daripada yang tidur di sana, kalian sudah betul. Dan ini tidak boleh kalian sia-siakan.

Karena pekerjaan kalian nanti setelah keluar dari sini luar biasa.

Makanya waktu saya dipanggil, saya bilang: oke, kalau untuk pesantren, saya siap. Semua ilmu yang saya miliki, insyaAllah akan saya bagikan. Dan saya sampaikan apa adanya.

Salah satu tugas pemimpin adalah mengharmonisasi anak buah, membuat anak buah mesra satu dengan yang lain.

Tidak boleh kita menjadi pemimpin yang membuat mereka saling berbenturan.

You’re not a leader kalau kamu membangun polarisasi. Kamu bukan pemimpin kalau mengatakan, 'Oh kamu suku Makassar di sini, kamu suku Bugis di sana.'

Tidak boleh.

Kita pemimpin. Kita bapaknya. Kita harus membuat harmonisasi satu dengan yang lain. Harmonisasi itu membuat semua menjadi bersama dan mesra.

Tugas berikutnya, pemimpin harus memperhatikan kesejahteraan anak buah.

Tidak boleh kamu menyuruh orang pergi ke sana, pergi ke pasar, tetapi tidak diberi ongkos. Itu bukan pemimpin.

Kesejahteraan anak buah, termasuk gaji mereka, harus diperhatikan oleh pemimpin.

Jadi salah kalau ada pemimpin yang suka memalak ke bawah.

Dalam konsep kepemimpinan orang Bugis, justru raja yang memberi uang kepada rakyatnya, bukan sebaliknya.

Bukan rakyat yang memberi uang kepada pemerintah.

Saya masih ada materi, tetapi saya kira waktunya sudah cukup. Kalau Pak Tommy masih membutuhkan, masih ada tiga lembar lagi.

Baik, saya sampaikan yang terakhir saja.

Kalau kalian ingin menjadi pemimpin yang baik, kalian harus bisa menjadi anak buah yang baik.

Kamu baru bisa menjadi pemimpin yang baik kalau ketika menjadi anak buah kamu taat kepada komandanmu.

Kalau kamu menjadi anak buah yang jahat atau pengkhianat, kamu tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik.

Yang kedua, kalau ingin menjadi pemimpin yang baik, kamu harus menemukan harapan dan kebutuhan anak buah.

Harapan dan kebutuhan rakyat.

Harapan dan kebutuhan pimpinan yang ada di atasmu.

Waktu saya menjadi menteri, salah satu yang harus saya penuhi adalah bagaimana Presiden Pak Jokowi bisa merasa puas.

Bagaimana saya menemukan harapan dan kebutuhan Presiden.

Baca juga: Viral Jenazah Dilarang Warga Dimakamkan Gegara Utang Rp 200 Juta, Apa Hukumnya di Islam?

Baca juga: Sahur Kelam di Muara Bulian: Ambulans Terjepit 4 Lapis Truk Batu Bara

Saya juga berusaha menemukan harapan dan kebutuhan para staf saya, para dirjen saya.

Saya berusaha menemukan harapan dan kebutuhan para petani terhadap sektor pertanian.

Bisa paham sampai di sini?

Jadi kalau kita bersama lima orang, kita harus tahu apa kebutuhan mereka dan apa harapan mereka kepada kita. Itu baru pemimpin.

Yang berikutnya, semua masalah yang kita hadapi tidak boleh hanya dipecahkan sendiri oleh pemimpin.

Jangan merasa pemimpin paling jago, paling pintar.

Pemimpin yang baik adalah yang menyelesaikan masalah bersama rakyat.

Kalau saya gubernur dan melihat suatu tempat kumuh, maka saya akan mencari solusi bersama.

Misalnya membuatkan penerangan listrik agar masyarakat bisa bergotong royong memperbaikinya."

Syahrul Yasin Limpo dan Kasusnya

Sebelumnya, Syahrul terjerat kasus korupsi dan pemerasan kepada bawahan di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan).

Ia terbukti menerima aliran dana Rp44,5 miliar untuk keperluan pribadi dan keluarga, mulai dari istri, anak, hingga cucu.

Atas perbuatannya itu, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti senilai Rp 14,1 miliar dan 30.000 dollar AS, sedangkan Pengadilan Tinggi Tipikor Jakarta menghukum Syahrul untuk membayar uang pengganti senilai Rp 44,2697 miliar dan 30.000 dollar AS.

Awalnya, dia divonis 10 tahun penjara.

Namun, diperberat menjadi 12 tahun di tingkat banding atau sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hukuman dendanya juga dinaikkan dari semula Rp 300 juta subsider 4 bulan kurungan menjadi Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Pada Mei 2025, dia mulai ditahan di Lapas Sukamiskin.

Dia mengistilahkan penjara sebagai "pesantren".

Baca juga: Sahur Kelam di Muara Bulian: Ambulans Terjepit 4 Lapis Truk Batu Bara

Baca juga: Jadwal Pemadaman Listrik Sabtu 7 Maret 2026 - Muara Sabak, Bulian, Aurduri

Baca juga: Tinggal Sebatang Kara, Rumah Nenek Asiah di Kumpeh Muaro Jambi Kebakaran

Baca juga: Ambulans Terjebak Macet, Jalur Muara Bulian Jambi Lumpuh Total Akibat Batu Bara

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.