TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Bantuan Hari Raya (BHR) dari aplikator untuk ojek online akhirnya cair.
Tidak semua pengemudi ojek online menerima BHR ini.
Sementara besaran BHR masing-masing penerima berbeda, mulai dari 200.000 hingga Rp 900.000.
Besar kecilnya BHR yang diterima oleh driver ojek online tergantung dari performanya masing-masing.
Jika performanya bagus, driver ojol bisa menerima BHR level tertinggi yakni Rp 900 ribu.
Dikutip dari Kompas.com, salah satu ojek online yang biasanya beroperasi di daerah Grogol Petamburan, Jakarta Barat bernama Teguh (36) mengaku sudah menerima BHR dari aplikator
Tahun ini dia mendapatkan BHR sebesar Rp 250 ribu.
Uang itu ditransfer oleh aplikator pada Kamis (5/3/2026) kemarin.
"Saya THR dapet Rp 250.000, kemarin ditransfernya. Jadi driver sih sudah 11 tahun ya total, dari awal-awal," ungkap Teguh saat ditemui Kompas.com, Jumat (6/3/2026).
Menurut Teguh, pihak aplikator membagi BHR menjadi tiiga level yakni Harapan, Andalan, hingga Jawara.
"Ada yang bisa dapet Rp 400.000, Rp 500.000, paling gede sampai Rp 900.000. Bedanya dari performa. Ada level-levelnya. Jadi tiap level itu beda-beda dapet THR-nya," jelasnya.
Namun, untuk menyentuh angka maksimal Rp 900.000, syarat yang dipatok aplikator disebut sangat sulit.
Pengemudi harus mempertahankan level tertinggi, yakni "Jawara", selama 12 bulan penuh dalam satu tahun.
Artinya, pengemudi harus menyapu bersih seluruh pesanan tanpa boleh menolak atau melakukan pembatalan (cancel).
"Kemarin saya Jawara-nya cuma 4 bulan, sisanya enggak. Jadi dapetnya Rp 250.000. Emang kalau mau dapet Rp 200 ribuan minimal harus Jawara 4 kali," ucapnya.
Sementara driver ojol lainnya bernama Amri(35) mengaku hanya menerima BHR sekitar Rp 200 ribu
"Masalahnya susah jadi driver tuh, kita kan kadang mau enggak mau harus nolak kalau emang enggak bisa. Misalnya lagi banjir kemaren kan, jadi banyak nge-cancel gara-gara customer enggak tau kalau di situ banjir. Kalau dipaksa motor kita rusak, di-cancel performa kita turun," ujar Amri.
Sistem tersebut juga dinilai merugikan karena pengemudi tetap menanggung sanksi penurunan performa meskipun penumpang yang membatalkan pesanan.
"Kalau customer cancel kita kena pelanggaran. Padahal customer nih yang cancel, performa kita ikutan turun. Jadi mau jagain Jawara setahun juga dibela-belain susah, saya mah ngalir aja dah," ucapnya.
Baca juga: Empat Isu Besar Reformasi Polri Disiapkan untuk Presiden Prabowo
Di sisi lain, sejumlah driver mengaku tak mendapat BHR.
Salah satunya Setiawan, yang merasa kecewa tak dapat BHR meski pemerintah telah mengimbau seluruh aplikator memberikan insentif.
Meski begitu, Setiawan mengaku tak kaget dan memilih tak ambil pusing terkait BHR tersebut.
"Dari dulu emang saya enggak pernah dapet sih. Tapi dapet juga enggak seberapa, jadi enggak gimana-gimana sih, capek doang ngejar gituan, giliran aplikator ngasihnya enggak niat," tuturnya.
Raup Rp 900.000
Berbeda dengan pengemudi di Bekasi, Edi Sugiyanto (50). Ia mengaku menerima BHR Rp 900.000 karena kinerja setahunnya dinilai tinggi.
“Kalau untuk saya pribadi menerima kisaran Rp900.000. Tahun kemarin juga sama Rp 900.000,” ujar Edi.
Ia menjelaskan, besaran BHR dipengaruhi banyaknya trip, sedikit cancel, waktu online, dan level driver.
“Namanya manusia pasti berharap, tapi saya nggak terlalu berharap harus dapat sekian. Semua itu rezeki,” tambahnya.