Kemenkop Pacu Koperasi Merah Putih Jadi Pemain Global, Gandeng Disabilitas dan Petani Kintamani Bali
Putu Dewi Adi Damayanthi March 07, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kementerian Koperasi dan UKM memperkuat ekonomi desa melalui penguatan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang berfokus pada komoditas unggulan daerah di Bali.

Di tengah pesatnya industri kopi nasional yang tumbuh menjamur, pemerintah mendorong agar nilai tambah komoditas ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar.

Tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan perempuan, inklusivitas disabilitas, hingga kelestarian lingkungan di Kintamani.

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi target pembangunan berkelanjutan (SDGs 17) dan penguatan ekonomi inklusif melalui program GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion).

Baca juga: Kinerjanya Dinilai Lambat Oleh Gubernur, Ini Tanggapan Kadiskop UKM dan Pariwisata Bali 

Asisten Deputi Pemetaan Potensi Usaha Kementerian Koperasi, Leli Hiswendari, mengungkapkan antusiasmenya terhadap geliat industri kopi saat ini.

"Oh, sangat luar biasa ya industri kopi di Indonesia saat ini. Tentunya itu dengan dilihat dari berbagai macam kedai-kedai kopi dan juga kafe di kota-kota besar," ujarnya saat ditemui Tribun Bali di sela acara "Coffee, Carbon and Climate" di Starbucks Dewata, Kuta, pada Jumat 6 Maret 2026.

Leli menekankan bahwa keberhasilan industri ini harus dirasakan oleh kelompok rentan.

Pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap pemberdayaan rekan-rekan wanita dan penyandang disabilitas yang istimewa melalui koperasi KDKMP.

Menurutnya, sektor kopi yang sangat luar biasa saat ini harus diimbangi dengan pengelolaan limbah yang produktif agar berdampak pada ekonomi warga.

"Untuk kegiatan seperti ini dari Kementerian Koperasi tentunya kami sangat mendukung untuk pemberdayaan terhadap rekan-rekan wanita dan juga rekan-rekan disabilitas yang istimewa ini, terutama melalui koperasi KDKMP ya untuk usahanya," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan dukungan dana yang substansial.

Guna mendukung operasional tersebut, pemerintah melalui skema Inpres 17 telah menyiapkan dukungan pendanaan yang signifikan.

Leli mengungkapkan bahwa skema pembiayaan ini bisa mencapai angka Rp3 miliar dalam bentuk capex dan opex yang dikelola melalui Agrinas.

Di mana saat ini sudah terdapat lebih dari 1.000 gerai KDKMP yang dibangun secara fisik di seluruh Indonesia dengan berbagai sektor usaha seperti toserba hingga pergudangan.

"Untuk skemanya itu sampai dengan 3 miliar rupiah seperti itu, itu berupa CapEx (Capital Expenditure) dan OpEx (Operating Expenditure) nya. Ini dapat berperan menggantikan para tengkulak-tengkulak yang sekarang memang menguasai perekonomian di desa maupun di kelurahan," jelasnya.

Upaya ini diperkuat oleh Reza Fabianus, pihak Pengembangan Usaha Koperasi Desa Merah Putih se-Nasional, yang telah membina sektor perkebunan kopi Bali selama delapan tahun.

Reza menjelaskan bahwa fokus pemerintah kini semakin mendalam hingga ke level desa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

"Kalau dulu kan mungkin levelnya itu fokusnya provinsi gitu ya, sekarang kan lebih detail sampai ke desa. Jadi hari ini kita memang membawa khusus program pemberdayaan kopi, petani kopi," kata Reza.

Ia juga menyoroti inklusivitas sebagai pilar utama, di mana penyandang disabilitas kini diberikan panggung nyata.

"Kadang-kadang kan mereka tidak mendapat kesempatan. Nah, dalam rangkaian pengembangan usaha kopi ini mereka kita libatkan," tuturnya.

"Ada yang petani, disabilitas, tapi mereka kita libatkan untuk bekerja di dunia kopi," sambung Reza.

Tak hanya itu, melalui kerja sama dengan Pertamina Patra Niaga, inovasi ekonomi sirkuler turut diperkenalkan.

"Kami berkomitmen membina para penyintas skizofrenia untuk mengolah ampas kopi yang selama ini ampas kopi itu dibuang begitu saja. Ini bisa diolah menjadi dupa," kata Reza.

Dari sisi teknis keberlanjutan, Sascha Poespo selaku Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, menyoroti tantangan regenerasi petani yang mulai tergerus minatnya oleh sektor perhotelan.

Salah satu strateginya adalah melalui pendekatan teknologi dan kesadaran lingkungan.

"Anak muda sekarang suka membuat konten video, tapi mereka mungkin belum tahu tentang dosa karbon," kata dia.

"Kami mengajarkan mereka untuk menjaga pertumbuhan kopi dan replanting guna menjaga bumi dengan menghitung karbon yang masuk dan keluar," imbuh Sascha.

Program ini juga menyasar pemberdayaan wanita tani di Desa Catur melalui Farmers Support Center. Sascha berambisi agar di tahun 2026 ini, para ibu petani mampu berdikari.

"Target kami di 2026 ini, ibu-ibu harus bisa mendistribusikan kopi Catur ke kafe-kafe di atas. Kami ingin mereka menjadi barista yang sesungguhnya," tegasnya.

Hal ini sejalan dengan komitmen penanaman 100.000 pohon kopi varietas B-1 Kopyol di Kintamani yang telah dijalankan sejak Januari 2026.

Namun, di tingkat tapak, masih terdapat tantangan praktis yang harus dihadapi untuk mendukung Coffee Ecotourism.

Pada kesempatan yang sama, Wiwi, seorang petani kopi Kintamani yang turut hadir, mengakui adanya kendala teknis terkait kenyamanan wisatawan.

"Lalat itu musiman, biasanya saat musim buah lebih banyak. Tapi pengaruh utamanya memang dari pupuk kandang," ungkap Wiwi.

Menanggapi hal itu, pihak yayasan dan pemerintah terus mendorong transisi ke pupuk organik yang lebih ramah lingkungan dan tidak mengundang lalat agar pengalaman wisatawan di kebun kopi tetap terjaga.

Acara yang turut melibatkan Dinas Sosial Kota Denpasar dan Yayasan Corti ini menjadi bukti nyata bahwa kopi bukan sekadar komoditas, melainkan alat perjuangan sosial untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh pelaku rantai pasok, mulai dari petani hingga penyandang disabilitas di Bali. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.