TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pameran seni rupa kembali digelar di Yogyakarta melalui program Broken White Project edisi ke 31 yang bertajuk ‘Sekutu Para Hantu’.
Pameran ini menghadirkan sejumlah perupa lintas generasi yang mengolah gagasan tentang memori, tradisi, serta narasi magis dalam bentuk visual yang beragam.
Pameran ‘Sekutu Para Hantu’ berlangsung pada 6 Maret hingga 24 April 2026 di Ace House - Langgeng Art Space, Jalan Suryodiningratan No. 37, Mantrijeron, Yogyakarta.
Sejumlah seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain Kuncir Sathya Viku, Nalta, Nasirun, Noviadi Angkasapura, serta Nyoman Darmawan.
Penulis pameran, Bagus Purwoadi, menjelaskan bahwa gagasan pameran ini terinspirasi dari pendekatan realisme magis yang dikenal luas melalui karya penulis Amerika Latin seperti Gabriel García Márquez.
Menurut Bagus, realisme magis menempatkan peristiwa peristiwa ajaib sebagai sesuatu yang dituturkan secara wajar, seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari.
“Dalam dunia yang dibangun Gabo, fenomena fenomena ajaib justru ditanggapi secara biasa saja, seolah menjadi bagian dari realitas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut juga menjadi inspirasi bagi para seniman dalam pameran ini.
Kisah kisah yang bersumber dari memori leluhur kemudian diolah kembali melalui pengalaman hidup para perupa di masa kini.
“Seperti juga Gabo, ‘Sekutu Para Hantu’ mengambil inspirasi dari hal hal magis warisan masa lalu untuk menyampaikan realitas, baik yang gamblang maupun yang samar dan esoterik,” kata Bagus.
Baca juga: Update Harga Emas Antam, UBS dan Galeri24 Hari Ini, 7 Maret 2026 Pukul 12.30 WIB
Dalam pameran ini, tiap seniman menghadirkan pendekatan visual yang berbeda.
Nasirun dan Nalta sama sama merujuk pada tradisi wayang, namun dengan karakter artistik yang berbeda.
Nasirun cenderung menggunakan pendekatan ekspresionistik, sementara Nalta menghadirkan warna dan komposisi yang lebih dekat dengan estetika pop art.
Sementara itu, Nyoman Darmawan mengembangkan gaya lukisan yang berakar dari tradisi Pengosekan di Bali, namun diolah menjadi lanskap surealistis yang lebih personal.
Di sisi lain, Kuncir Sathya Viku membangun fragmen visual yang menggambarkan pengalaman hidup di era percepatan informasi.
Noviadi Angkasapura menghadirkan figur figur janggal dengan garis organik yang menyiratkan makna yang tertunda.
Program Broken White Project sendiri merupakan rangkaian pameran yang diinisiasi oleh Ace House Collective.
Program ini dirancang untuk menghadirkan seniman pilihan sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi kembali proses berkarya melalui pendampingan kuratorial secara intensif.
Salah satu seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah Nasirun. Bagi perupa senior tersebut, keterlibatannya dalam proyek ini menjadi kesempatan untuk terus berinteraksi dengan publik dan generasi seniman yang lebih muda.
“Dari dulu saya kepingin menjadi bagian publik. Kalau berkesenian hanya berhenti untuk dirinya sendiri, berarti bukan milik publik,” kata Nasirun.
Ia juga menyebut keterlibatan dalam pameran bersama seniman yang lebih muda menjadi pengalaman yang penting dalam perjalanan berkesenian.
“Saya ingin justru kolaborasi ataupun ikut partisipasi dalam pameran anak muda. Dengan kita interaksi dengan publik, kita mendapatkan banyak sekali asupan ataupun inspirasi baru,” ujarnya. (*)