Bola Terpopuler: Tottenham Hotspur Jika Degradasi Hingga AC Milan Gigit Jari Jika Juventus Gencar
Torik Aqua March 07, 2026 03:32 PM

 

Selanjutnya ada AC Milan gigit jari jika Juventus gencar di bursa transfer.

Hingga ada Donald Trump yang menggoda Lionel Messi saat berkunjung.

Berikut selengkapnya:

Daftar kerugian Tottenham jika degradasi

Deretan kerugian akan dialami Tottenham Hotspur jika harus degradasi ke divisi dua Liga Inggris, Championship.

Bahkan, Tottenham ditaksir akan mengalami kerugian senilai 250 juta pound atau sekitar Rp 5,6 triliun.

Klub yang bermarkas di London itu kini sedang terpuruk di peringkat bawah 16 klasemen Liga Inggris.

Hal ini dialami setelah kalah 1-3 dari Crystal Palace, Jumat (6/3/2026).

Baca juga: AC Milan Bakal Gigit Jari Jika Juventus Siapkan Transfer Tiga Bintang, ada Sang Mantan

Kekalahan tersebut membuat Tottenham hanya selisih satu angka dengan West Ham yang berada di batas zona degradasi (18).

Sementara dua tim lainnya, Burnley dan Wolves, sudah hampir dipastikan turun kasta musim ini.

Dengan sembilan pertandingan yang tersisa, apakah bisa Tottenham lolos dari jeratan degradasi musim ini?

Pelatih Tottenham, Igor Tudor, optimis bisa menyelamatkan tim berjuluk The Lilywhites itu dari turun kasta ke Championship dan menjanjikan penampilan yang berbeda setelah hasil minor ke-11 sepanjang tahun 2026 di Liga Inggris itu.

Terlepas dari itu, bagaimana jika Tottenham degradasi dan seberapa besar dampak terhadap pemasukan mereka?

Analis BBC mengungkapkan, jumlah pemasukan Tottenham bisa menyusut hingga 261 juta pound.

Pada tahun 2025, Tottenham memperoleh pendapatan senilai 690 juta pound, menurut data dari laporan keuangan dan investasi klub Eropa UEFA.

Jumlah tersebut menempatkan Tottenham di peringkat kesembilan secara keseluruhan dari klub Eropa.

Dampak yang paling berpengaruh adalah pendapatan dari tiket pertandingan karena hal ini adalah salah satu pendapatan terbesar bagi Tottenham.

Dari tiket pertandingan, Tottenham bisa menghasilkan 130 juta pound, tertinggi kelima di seluruh benua.

Saat ini, para pendukung Tottenham mengeluarkan 76 pound atau sekitar Rp 1.700.000 untuk sekali pertandingan kandang, dan hanya lima klub di Eropa yang mengenakan biaya lebih tinggi.

Jadi, harga tiket tersebut sudah tergolong tinggi di Inggris.

Tottenham juga menyediakan penjualan tiket VIP dan paket perusahaan untuk pertandingan, tentunya dengan bundling harga yang lebih mahal dan tawaran yang lebih istimewa.

Namun, konsep itu tidak bisa mereka terapkan ketika bermain di Championship melawan Lincoln City, contohnya.

Tim yang saat ini berada di dua urutan teratas bersama Cardiff City untuk promosi ke kasta kedua Liga Inggris (jika mereka promosi).

Tidak hanya harga tiket pertandingan yang akan turun, tetapi juga animo dan jumlah penonton yang diprediksi akan mengalami nasib yang serupa, yakni penurunan.

Selain tiket, pendapatan penyiaran juga bisa anjlok.

Pendapatan puluhan juta dari pendapatan TV Liga Champions juga akan lenyap, terkecuali jika Tottenham bisa juara musim ini, meskipun degradasi musim depan.

Status juara yang dipegang Tottenham bisa diaplikasikan di musim berikutnya meskipun mereka bermain di kasta kedua.

Banyak lagi sumber-sumber pendapatan Tottenham yang bisa tergerus.

Pendapatan komersial misalnya. Tahun lalu angkanya cukup fantastis dan memecahkan rekor klub, yakni sebesar 269 juta pound.

Lalu kesepakatan kerja sama dengan sponsor, Nike, AIA, dan lain-lain.

AIA mengeluarkan dana sekitar 70 juta pound per tahun agar merek mereka tercantum di bagian depan jersey Tottenham.

"Bagi klub dengan ambisi dan skala finansial seperti Spurs, degradasi bukan hanya kemunduran olahraga jangka pendek," komentar pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, dikutip dari BBC.

"Ekonomi sepak bola Inggris membuat pemulihan menjadi proyek multi-tahunan," sambungnya.

Berikut dampak pendapatan yang bisa dialami Tottenham jika degradasi:

Penyiaran Liga Inggris - 128 juta pound menjadi 45 juta pound sebagai dana kompensasi turun kasta

Penyiaran Liga Champions - 71 juta pound lebih menjadi tidak ada

Pertandingan - 131 juta pound menjadi 79 juta pound

Komersial - 279 juta pound menjadi 224 juta pound

Total = 609 juta pound menjadi 348 juta pound

Kerugian Tottenham

Tottenham tidak hanya memperoleh pendapatan tertinggi pada tahun lalu, tetapi mereka juga memiliki pengeluaran yang fantastis.

Spurs mengalami kerugian 129 juta pound pada tahun 2025, dan angkanya bisa lebih besar jika terdegradasi.

Namun dalam beberapa konteks, pengeluaran Tottenham juga akan berkurang karena klausul pemain. Gaji para pemain akan dipangkas 50 persen.

Jika klausul tersebut berlaku di setiap kontrak pemain dalam skuad, maka tagihan gaji tahun 2025 yang mencapai 276 juta pound akan turun ke angka 138 juta pound.

Tahun lalu, Tottenham memiliki biaya operasional tertinggi ketiga di seluruh Eropa, dengan pengeluaran 260 juta pound.

Jumlah tersebut meningkat 27 juta pound dari tahun sebelumnya, dan angka tersebut bisa meningkat jika kebutuhan pokok terus meningkat dalam perekonomian global.

Belum lagi soal karyawan.

Tottenham memiliki 877 karyawan tetap tahun lalu dan menjadikan klub London Utara itu sebagai tim dengan jumlah karyawan terbanyak ke-12 di Eropa.

AC Milan bisa gigit jari jika Juventus gencar di bursa transfer

AC Milan tampaknya bisa gigit jari jika Juventus benar-benar melancarkan transfermya di musim panas 2026 Juli mendatang,

Sebab, Juventus mengincar tiga pemain yang juga menjadi incaran AC Milan.

Di antaranya ada mantan pemain AC Milan.

Bagi Juventus, prioritas utama transfer musim panas mendatang adalah sektor gelandang.

Baca juga: Casemiro Pamitan, Peluang Gabung AC Milan untuk Reuni dengan Luka Modric Terbuka

Sandro Tonali dari Newcastle United kini berada di posisi teratas dalam daftar belanja klub raksasa asal Turin tersebut.

Langkah ini diambil setelah Si Nyonya Tua merasakan dampak buruk dari minimnya kedalaman skuad di lini tengah pada jadwal padat Februari lalu.

Performa tim yang sempat goyah memaksa manajemen untuk segera mencari solusi berkualitas tinggi.

Berdasarkan informasi terbaru, pihak klub kabarnya sudah menjalin komunikasi awal dengan perwakilan sang pemain.

Proses negosiasi ini diharapkan bisa membawa pulang bintang Timnas Italia dan mantan pemain AC Milan itu ke Liga Italia.

Sejak tahun 2025, sosok Tonali memang sudah dipandang sebagai target impian untuk menambah kekuatan di jantung permainan.

Gelandang berusia 25 tahun ini telah menjadi pilar penting sekaligus idola baru bagi para penggemar Newcastle United.

Kabar baiknya, mantan penggawa AC Milan ini dikabarkan sangat terbuka untuk kembali merumput di tanah airnya.

Pihak manajemen sangat berhasrat untuk mewujudkan kepulangan sang pemain ke kompetisi domestik dalam waktu dekat.

Akan tetapi, manajemen menyadari bahwa biaya untuk menebusnya dari St James' Park tidak akan murah.

Newcastle United dikabarkan mematok harga sekitar €70-75 juta (sekitar Rp1,37 triliun hingga Rp1,47 triliun) bagi siapa pun yang berminat.

Angka sebesar itu hanya bisa dipenuhi jika tim asuhan Luciano Spalletti berhasil lolos ke Liga Champions.

Selain itu, Juventus mungkin perlu melepas pemain seperti Teun Koopmeiners atau Douglas Luiz demi menyeimbangkan neraca keuangan.

Opsi Cadangan Sandro Tonali

Selain mengejar tanda tangan Tonali, manajemen Juventus juga mulai mendekati Bernardo Silva dan Leon Goretzka, seperti yang dilaporkan SempreMilan.

Kedua pemain berpengalaman tersebut akan segera mengakhiri masa bakti mereka di Manchester City dan Bayern Munchen.

Karena kontrak mereka segera habis, kedua bintang ini bisa didatangkan secara cuma-cuma tanpa biaya transfer, tetapi tetap membutuhkan dana besar untuk pengeluaran lainnya.

Hal ini menjadi peluang menarik bagi klub untuk menambah kualitas tanpa harus membayar biaya tebusan kepada klub asal.

Namun, mendatangkan pemain bebas transfer papan atas tetap memerlukan biaya komisi agen dan bonus tanda tangan yang signifikan.

Gaji yang mereka minta juga diprediksi akan menjadi beban cukup berat bagi standar finansial klub saat ini.

Pihak manajemen baru saja menetapkan batas gaji maksimal sebesar €7 juta (sekitar Rp137,5 miliar) per tahun setelah pembaruan kontrak Kenan Yildiz.

Mereka mungkin harus membuat pengecualian untuk Silva dan Goretzka yang meminta gaji tahunan sebesar €8 juta (sekitar Rp157,1 miliar).

Alasan AC Milan Bisa Tak Terima

Seperti disinggung awal, transfer pemain tiga serangkai yang direncanakan Juventus bisa membuat Rossoneri kelabakan.

Alasannya jelas, nama pertama adalah Sandro Tonali.

Bagaimanapun AC Milan mendepaknya dari San Siro, Tonali merupakan bagian dari sukses Rossoneri meraih Scudetto.

Akan menjadi pukulan telak bagi Milan jika terealisasi mantan pemain Brescia itu menyeberang ke Turin untuk memperkuat Juventus.

Kedua adalah Leon Goretzka.

Bagi Milan, pemain berusia 31 tahun ini masuk rencana transfer di musim panas mendatang.

Penggawa Bayern Munchen ini diproyeksikan sebagai pengganti Luka Modric yang konon kabarnya akhir musim nanti bisa meninggalkan San Siro.

Terakhir adalah Bernardo Silva.

Sama seperti Goretzka, AC Milan menginginkan Bernardo Silva untuk memperkuat lini serang tim.

Apalagi dengan keinginan Cristian Pulisic kembali ke Premier League dan Rafael Leao ingin menghapus klausul rilisnya sehingga lebih mudah meninggalkan AC Milan, kompatriot Cristiano Ronaldo itu diprospek sebagai penyerang sayap.

Pengalamannya di Manchester City akan sangat membantu Milan yang berambisi tampil apik pada comeback-nya ke Liga Champions 2026/2027.

Donald Trump goda Lionel Messi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sempat menggoda Lionel Messi saat menyambutnya di Gedung Putih pada Kamis (5/3/2026) waktu setempat.

Saat itu Lionel Messi bersama klubnya, Inter Miami yang baru saja menjuarai kompetisi Liga Amerika Serikat atau MLS musim 2025, mengunjungi Gedung Putih.

Inter Miami hadir bersama dengan seluruh skuad yang juga tentu saja Lionel Messi ikut rombongan.

Tampak, cara masuk Messi berbeda saat masuk ke ruang utama Gedung Putih.

Baca juga: Amerika Bakal Lanjutkan Invasi ke Kuba setelah Gandeng Israel Menyerang Iran

Ia masuk bersama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan keduanya berjalan beriringan.

Perwakilan pemain pun mengobrol hangat dengan orang nomor 1 di Amerika Serikat tersebut.

Selepas itu, Trump memberikan sambutannya kepada pers dan tim Inter Miami yang hadir di sana.

Ada beberapa topik yang menjadi pembahasan Trump.

Salah satunya adalah soal pemain terbaik dalam sejarah sepak bola dunia.

Ia tentu saja menyebutkan nama Messi di dalam pidatonya tersebut.

Namun Messi bukan menjadi satu-satunya nama yang disebutkan Trump.

Ia juga menyebutkan Pele sebagai pesepak bola yang pantas menjadi pertimbangan.

Trump lantas menggoda orang-orang yang hadir di Gedung Putih itu dengan membuat perbandingan.

"Siapakah pesepak bola terbaik sepanjang masa? Pele atau Messi?" tanya Trump.

Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu pun menjawab Messi sebagai pemain pilihan mereka.

Trump pun setuju dengan pilihan tersebut sembari menoleh ke arah La Pulga.

"Saya setuju. Saya pikir dia adalah yang terbaik," sambungnya.

Kunjungan Inter Miami ke Gedung Putih ini bukan menjadi sesuatu yang tanpa rencana.

Aktivitas mengunjungi Gedung Putih biasa dilakukan tim-tim yang menjadi juara di sebuah kompetisi olahraga di Amerika Serikat.

Alhasil, tak hanya cabor sepak bola saja yang pernah mengirim wakil ke gedung oval tersebut.

Tim-tim dari kompetisi bola basket NBA, American Football (NFL), baseball (MLB), hoki es (NHL), juga rutin melakukan kunjungan setelah menjadi juara di kejuaraan masing-masing.

Biasanya juga kedatangan tim-tim olahraga itu disambut hangat Presiden Amerika Serikat.

Hal yang sama seperti yang dilakukan dan dirasakan Inter Miami saat mengunjungi Gedung Putih pada kesempatan kali ini.

Setelah melakukan kunjungan tersebut, Inter Miami akan langsung kembali fokus ke Liga Amerika Serikat.

Mereka akan kembali bertanding di kompetisi negeri Paman Sam dalam beberapa waktu mendatang.

The Herons, julukan Inter Miami, akan menghadapi DC United yang menjadi lawan selanjutnya.

Dengan jadwal tersebut, tim asuhan Javier Mascherano tak perlu cemas soal jarak tempuh ke markas DC United.

Pasalnya Gedung Putih juga berada di Washington DC yang notabene rumah dari tim DC United.

Pertandingan Inter Miami melawan DC United akan digelar pada 8 Maret 2026 pukul 04.30 WIB mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.