Gara-Gara Ucapan Bahlil Soal Stok BBM Cuma 21 Hari Lagi, DPR Sampai Turun Tangan
Rita Lismini March 07, 2026 03:53 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memicu reaksi dari publik. Bahlil menyebut stok BBM di negeri cuma cukup selama 21 hari akibat perang Iran vs Israel. 

Pernyataan Bahlil menghasilkan kepanikan di tengah masyarakat. 

Demi menenangkan masyarakat, DPR RI memanggil Bahlil untuk menjelaskan pernyataannya itu. 

Rencananya, pemanggilan tersebut akan dilakukan usai masa reses DPR berakhir

"Kebetulan memang sekarang kan masa reses, sehingga para anggota masih di dapil (daerah pemilihan) masing-masing. Tapi nanti setelah dimulai masa persidangan, pasti akan segera diagendakan untuk membahas masalah ketahanan BBM ini," kata Putri kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).

Putri mengaku telah mendapat isu mengenai stok BBM nasional akan habis dalam 21 hingga 25 hari.

Sebab itu, menurutnya pemerintah sedang menyiapkan upaya memperkuat ketahanan energi, satu di antara caranya dengan memperbesar kapasitas penyimpanan BBM.

"Pak Menteri juga sudah menyampaikan bahwa arahan langsung dari Bapak Presiden itu storage (penyimpanan) kita nanti akan diperbesar. Memang sekarang storage kita itu hanya cukup untuk 21 sampai dengan 25 hari," ujar Ketua Fraksi PAN DPR RI itu.

Lebih lanjut Putri menuturkan, lokasi penyimpanan BBM yang lebih besar, rencananya akan dibangun di Pulau Sumatera.

"Jadi ke depannya akan dibangun storage yang lebih besar, kemungkinan di Provinsi Sumatera sedang dijajaki dulu," ucapnya.

"Saya rasa ini momentum yang tepat, memang ketahanan energi dan swasembada energi itu menjadi sesuatu yang sangat penting agar kita bisa memiliki kecukupan energi di Indonesia," tandasnya.

Pertamina Patra Niaga: Stok BBM Aman

PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan terkendali. 

Terkait isu stok BBM tersisa sekitar 21 hari yang ramai diperbincangkan belakangan ini, dipastikan kalau itu merupakan stok atau pasokan operasional yang secara normal dikelola dalam sistem logistik energi nasional.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun memastikan pasokan operasional yang dimaksud tersebut merupakan pasokan BBM yang disimpan dan sudah memenuhi kapasitas penimbunan BBM secara nasional yang akan disalurkan kepada masyarakat.

Meski demikian, jumlah pasokan tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui atau dipenuhi kembali sesuai dengan kebutuhan konsumsi energi masyarakat.

Meski demikian, jumlah pasokan tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui atau dipenuhi kembali sesuai dengan kebutuhan konsumsi energi masyarakat.

"Stok sekitar 21 hari yang dikelola Pertamina Patra Niaga merupakan stok BBM yang secara normal selalu dijaga dalam sistem logistik energi nasional," kata Roberth dalam keterangan resminya, Jumat (6/3/2026).

Sementara itu, stok tersebut dipastikan oleh Roberth akan terus dilakukan pembaruan baik melalui suplay di kilang, atau melalui impor yang dipesan sejak jauh hari.

Atas hal itu, dia meminta kepada publik untuk tidak perlu khawatir soal ketersediaan BBM nasional.

"Stok ini terus dilakukan top-up / re-fill atau penambahan produk melalui produksi dari kilang domestik maupun pengadaan impor yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya, secara rutin berkala juga dilakukan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM," ujar dia.

Klarifikasi Bahlil 

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia hanya berkisar 21-25 hari.

Seketika ucapan Bahlil itu pun langsung viral dan menuai beragam reaksi dari masyarakat. 

Di beberapa wilayah bahkan telah terjadi antre BBM yang mengular akibat masyarakat yang panic buying. 

Setelah kejadian ini viral, kini Bahlil pun menyampaikan klarifikasi soal ucapannya tersebut. 

Bahlil menjelaskan, stok BBM yang ia maksud bukanlah cadangan untuk kondisi darurat, melainkan kemampuan daya tampung atau storage yang sudah dimiliki oleh Indonesia. 

Eks Menteri Investasi itu menerangkan, minimal standar nasional stok BBM berada di kisaran 20-21 hari, sementara cadangan maksimalnya 25 hari. 

"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan, rerata ketahanan cadangan BBM secara nasional berada di level 22-23 hari.

Penyebab Stok BBM Indonesia Kisaran 20 Hari 

Bahlil menjelaskan, rata-rata stok BBM nasional hanya 22-23 hari bukan karena keterbatasan pasokan energi, tetapi keterbatasan fasilitas penyimpanan.  

Kapasitas tangki yang ada belum memungkinkan penambahan cadangan dalam jumlah lebih besar. “Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.

Bahlil meminta agar informasi mengenai ketahanan stok BBM tidak disalahartikan sebagai sinyal darurat.  

Ia memastikan persoalan yang dihadapi berkaitan dengan infrastruktur penyimpanan, bukan ketersediaan energi di dalam negeri.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah untuk meningkatkan kapasitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional.  

Upaya tersebut dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insya Allah rencana sampai dengan tiga bulan," katanya.

Pemerintah menargetkan kapasitas cadangan energi nasional dapat ditingkatkan hingga mencapai sekitar tiga bulan sebagaimana praktik standar yang berlaku secara global.  

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik dan fluktuasi pasokan energi dunia.

Harga BBM di Indonesia Terancam Naik

Namun dampak konflik antara Israel, Amerika Serikat dan Iran yang makin memanasterhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Serangan militer yang berlangsung sejak akhir pekan membuat harga minyak mentah dunia melonjak tajam.

Harga minyak Brent dilaporkan naik dari kisaran US$65 per barel pada awal Februari menjadi sekitar US$73 per barel.

Harga minyak Brent adalah harga acuan (benchmark) minyak mentah dunia yang berasal dari ladang minyak di Laut Utara.

Jadi, US$73 per barel kira-kira setara sekitar Rp1,23 juta per barel (kurs saat ini).

Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel seperti saat pecahnya perang Rusia-Ukraina.

Lonjakan harga energi ini tak lepas dari penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah global.

Penutupan tersebut membuat distribusi energi terganggu dan meningkatkan ketidakpastian pasar.

Selain berdampak pada pasokan minyak, gangguan jalur pelayaran juga berpotensi menghambat arus perdagangan internasional.

Jika kapal-kapal harus memutar melalui jalur Afrika untuk menghindari kawasan konflik, biaya logistik global akan melonjak.

Dampaknya turut dirasakan negara-negara yang bergantung pada impor bahan baku dan energi, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak mentah berisiko memperbesar beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jika pemerintah tidak melakukan realokasi anggaran, tekanan fiskal dikhawatirkan semakin berat.

Di sisi lain, ruang penambahan utang dinilai tidak mudah di tengah sorotan lembaga pemeringkat internasional terhadap kualitas pengelolaan fiskal nasional.

Dari sisi pelaku usaha, lonjakan harga BBM akan berdampak langsung pada biaya operasional transportasi darat.

Komponen BBM disebut menyumbang sekitar 35 hingga 40 persen dari total biaya operasional truk. Jika harga solar naik 10 persen, ongkos angkut bisa terdongkrak hingga 3,5–4 persen.

Dalam skenario kenaikan 20 hingga 30 persen, ongkos logistik berpotensi naik hingga dua digit.

Kenaikan ongkos angkut ini pada akhirnya akan diteruskan ke harga barang, terutama komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi bermargin tipis.

Risiko imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor pun sulit dihindari.

Asosiasi pengusaha juga mengingatkan potensi lonjakan premi asuransi pengiriman akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, pembatasan jalur pelayaran dan berkurangnya kapal yang berani melintas bisa menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan jasa angkut.

Dampak langsung dari eskalasi konflik ini diperkirakan mulai terasa dalam beberapa hari hingga dua atau tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. 

 

Sumber: Tribunnews.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.