SURYAMALANG.COM - Mudik Lebaran 2026 semakin mudah dengan dibukanya enam tol fungsional tanpa tarif.
Tol Jakarta–Cikampek II Selatan hingga Tol Jogja–Solo siap melayani perjalanan pemudik. Tol Probolinggo–Banyuwangi juga difungsionalkan terbatas untuk mendukung kelancaran arus kendaraan.
Pemerintah menargetkan perjalanan lebih aman dan nyaman bagi masyarakat.
PT Jasa Marga membuka enam ruas tol fungsional yang terdiri dari empat ruas di Tol Trans Jawa dan dua ruas di Tol Trans Sumatra yang dioperasikan PT Hutama Karya.
Tol fungsional sendiri adalah ruas tol yang dibuka sementara untuk membantu mengurai kepadatan lalu lintas pada periode tertentu.
Adanya penambahan jalur tersebut membuat perjalanan pemudik diharapkan bisa berlangsung lebih lancar dan aman.
Berikut adalah daftar tol fungsional gratis selama periode Mudik Lebaran 2026:
Tol Jakarta–Cikampek (Japek) II Selatan sepanjang 54,75 km
Tol Jogja–Bawen sepanjang 4,85 km
Tol Jogja–Solo sepanjang 11,48 km
Tol Probolinggo–Banyuwangi Tahap I sepanjang 49,68 km
Tol Sigli–Banda Aceh Seksi 1 sepanjang 23,9 km
Tol Palembang–Betung Seksi 1 dan 2 sepanjang 53,6 km
Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) menjelang arus mudik Lebaran 2026 akan difungsionalkan secara terbatas saat momen mudik atau H-10 lebaran.
Ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat di Bondowoso Selasa (25/2/2026).
Ia menerangkan skema fungsional berarti tol belum beroperasi penuh dan gerbang tol belum dioperasikan secara normal. Melainkan dengan pengaturan jam operasional.
Setelah H+10 Lebaran, ruas tol tersebut akan kembali ditutup sementara guna melengkapi sejumlah pekerjaan sebelum resmi beroperasi penuh.
“Insya Allah pada waktu yang dipersyaratkan untuk momen mudik, tol tersebut siap fungsional. Setelah itu H+10 Lebaran akan kembali ditutup karena ada yang harus dilengkapi lagi,” katanya.
Menurutnya, ini dilakukan untuk mendukung kelancaran mudik. Karena itu, Wagub Emil meninjau tol Prosiwangi hari ini. Dia pun mengaku berjanji akan mencoba kembali.
“Saya berjanji ingin mencoba lagi pada saat fungsional,” jelasnya.
Emil menjelaskan, pengalaman pada segmen Gending–Kraksaan–Paiton menunjukkan proses dari fungsional menuju operasional penuh membutuhkan waktu cukup lama. Hal itu dipengaruhi kondisi tanah yang berbeda dan rawan ambles.
“ Nah yang ini menurut Jasa Marga dan kontraktor, kondisi tanahnya lebih stabil sehingga potensi ambles tidak sebesar di segmen sebelumnya,” ungkapnya.
Dengan kondisi tanah yang dinilai lebih stabil, Emil berharap masa transisi dari penutupan H+10 Lebaran hingga operasional penuh tidak memakan waktu terlalu lama. Ia menilai keberadaan tol ini nantinya akan menunjang konektivitas dan perekonomian wilayah timur Jawa Timur, termasuk Bondowoso.
Selain kesiapan fisik jalan tol, Emil juga menyoroti potensi kepadatan lalu lintas di sekitar exit tol. Ia menyebut terdapat lampu lalu lintas di exit tol dengan jarak sekitar 800 meter menuju simpang tiga Arak-Arak.
“Ini harus diantisipasi karena jaraknya 800 meter. Kalau tidak sinkron, sini hijau, sininya merah, bisa terjadi penumpukan ke belakang,” ujarnya.
Untuk itu, Pemprov Jatim telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kementerian Perhubungan, Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim, serta Pemerintah Kabupaten Situbondo guna menentukan manajemen lalu lintas.
Menurut Emil, waktu persiapan yang tersisa sekitar 13 hari harus dimanfaatkan untuk menyinkronkan pengaturan lampu lalu lintas, rekayasa arus kendaraan, serta penentuan jenis kendaraan dan exit tol yang digunakan selama masa mudik.
“Sinkronisasi fase lampu lalu lintas ini penting. Penentuan kendaraan yang lewat, exit mana yang digunakan di masa Lebaran, itu sedang dirancang oleh rekan-rekan semua,” pungkasnya.
(SURYAMALANG.COM/SINCA ARI PANGISTU)