TRIBUNJATIMTIMUR.COM, PASURUAN – Kabupaten Pasuruan dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi besar di sektor peternakan di Jawa Timur. Selain memiliki wilayah pedesaan yang luas, banyak masyarakat menggantungkan penghidupan dari usaha ternak seperti sapi perah, sapi potong, kambing, hingga unggas.
Potensi tersebut dinilai perlu terus diperkuat agar tidak hanya menghasilkan produksi besar, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan peternak melalui modernisasi sistem budidaya, akses pembiayaan, serta penguatan kelembagaan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi Forum Jagongan Wakil Rakyat (JAWARA) kerjasama antara DPRD dan Tribunjatimnetwork. Podcast ini mengusung tema “Peternakan Pasuruan Bangkit: Dari Produksi Besar Menuju Nilai Tambah” yang digelar di Koperasi Susu Suka Makmur, Kecamatan Grati beberapa waktu lalu.
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Misto Leo Faisal mengatakan, Pasuruan memiliki potensi peternakan yang besar karena sebagian besar masyarakat tinggal di wilayah pedesaan dan memiliki tradisi bertani sekaligus beternak.
Baca juga: Sulap Lahan Kosong, Sekretariat DPRD Pasuruan Kembangkan Kebun Pangan Lestari
Baca juga: Saksi Ahli KPK Gugup Saat Ditanya Surat Penetapan Tersangka Gus Yaqut
“Penduduk Pasuruan sekitar 1,3 juta lebih jiwa dan sebagian besar tinggal di desa. Banyak masyarakat yang bertani sekaligus beternak, baik sapi, kambing, maupun unggas. Ini menjadi kekuatan ekonomi masyarakat yang perlu terus didorong,” ujarnya.
Menurutnya, sektor peternakan tidak hanya menjadi sumber penghasilan masyarakat desa, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah, terutama dalam penyediaan susu, daging, dan telur.
Namun, potensi besar tersebut masih perlu ditopang dengan kebijakan yang mampu mendorong peternak naik kelas, mulai dari pelatihan, penguatan kelompok ternak, hingga akses pembiayaan yang lebih luas.
Ia menilai selama ini kelompok ternak masih sering bergabung dengan kelompok tani sehingga perhatian terhadap sektor peternakan belum maksimal.
“Ke depan kelompok tani dan kelompok ternak sebaiknya dipisahkan. Dengan begitu pemerintah bisa lebih fokus memberikan pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan kepada peternak,” katanya.
Misto menambahkan, penguatan sektor peternakan juga sejalan dengan berbagai program pemerintah yang membutuhkan pasokan protein hewani.
Ia berharap kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh peternak lokal sehingga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat desa.
“Kalau kebutuhan pangan itu dipenuhi dari peternak lokal, maka ekonomi masyarakat akan bergerak dari bawah,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Gaung Andaka Ranggi Purbangkara menilai sektor peternakan di Pasuruan sebenarnya sudah memiliki sejumlah contoh usaha yang berkembang dengan manajemen modern.
Namun di sisi lain, masih banyak peternak yang belum mampu bertransisi dari sistem tradisional menuju sistem budidaya yang lebih modern.
“Sudah ada beberapa peternakan percontohan dengan manajemen modern dan produktivitas tinggi. Tapi memang masih banyak peternak yang produktivitasnya masih rendah karena keterbatasan modal dan teknologi,” ujarnya.
Ia mencontohkan banyak peternak yang sebenarnya memiliki kapasitas kandang yang cukup besar, namun jumlah ternak yang dimiliki masih terbatas.
“Misalnya kandang bisa menampung sepuluh ekor sapi, tapi yang diisi hanya satu atau dua ekor. Artinya kapasitas ada, tapi modalnya yang belum sampai,” katanya.
Karena itu, Gaung menilai diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk koperasi dan lembaga keuangan, agar peternak memiliki akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Selain itu, modernisasi peternakan juga perlu disesuaikan dengan kondisi geografis dan budaya masyarakat setempat agar mudah diterapkan.
“Seringkali konsep yang ditawarkan berasal dari daerah lain, tetapi tidak sepenuhnya cocok dengan kondisi Pasuruan. Karena itu perlu riset dan pendekatan yang sesuai dengan karakter peternak di sini,” ujarnya.
Ia juga menilai sektor peternakan harus menjadi pilihan usaha yang menarik bagi generasi muda, bukan sekadar pekerjaan terakhir ketika sulit mendapatkan pekerjaan lain.
Menurutnya, apabila pendapatan peternak dapat ditingkatkan, maka sektor ini akan semakin diminati oleh generasi milenial dan generasi Z.
“Harapannya bertani dan berternak bukan lagi karena terpaksa, tetapi karena memang menjanjikan secara ekonomi,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, kedua narasumber juga menyoroti pentingnya penguatan jaringan pemasaran hasil peternakan, baik melalui koperasi maupun kemitraan dengan industri pengolahan.
Selain itu, pemanfaatan platform digital juga dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi peternak.
DPRD Kabupaten Pasuruan, kata Gaung, akan terus mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem sektor peternakan, termasuk dengan membuka peluang investasi yang dapat mendukung industri hilir.
“Investor perlu kita jemput agar sektor peternakan berkembang lebih cepat. Dengan investasi yang masuk, peternak juga akan mendapatkan pasar yang lebih pasti,” ujarnya.
Dengan potensi produksi yang besar, DPRD optimistis sektor peternakan di Kabupaten Pasuruan dapat menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan ekonomi daerah sekaligus menjaga ketahanan pangan masyarakat.
(Galih Lintartika/TribunJatimTimur.com)