TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Sumatra Selatan akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dan lebih kering dibanding tahun 2025.
Kondisi cuaca ini akibat dampak berakhirnya La Nina lemah.
La Nina Lemah adalah salah satu kategori dari fenomena anomali iklim La Nina, yang ditandai dengan penurunan suhu muka laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, namun dengan intensitas yang tidak terlalu ekstrem.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, mengatakan berdasarkan rilis prediksi musim kemarau (PMK) tahun 2026, musim kemarau di wilayah Sumatra Selatan diperkirakan datang lebih awal dari biasanya.
Kondisi kemarau ini juga sama dengan musim hujan yang tidak datang serentak di seluruh Sumsel sebab terbagi atas zona musim yang berbeda.
Sehingga jika satu zona musim kemarau datang lebih awal, maka saat musim hujan nantinya juga akan datang lebih awal.
Begitu pula sebaliknya, saat musim kemarau datang lebih lambat, maka musim hujan juga datang lebih lambat.
Untuk wilayah Sumsel bagian utara seperti Kabupaten Musi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, serta sebagian kecil Banyuasin, awal musim kemarau diprediksi maju dua dasarian atau maju 20 hari, yakni mulai Mei dasarian II hingga Juni dasarian I.
Sementara itu, wilayah Palembang, sebagian Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, Prabumulih, OKU, OKU Selatan, PALI, Lahat, dan Empat Lawang diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat satu dasarian, yakni pada Mei dasarian III hingga Juni dasarian II.
BMKG juga memprediksi sifat hujan di sebagian besar wilayah Sumsel berada pada kategori bawah normal selama musim kemarau.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko munculnya hotspot yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan," kata Nandang menjawab pertanyaan wartawan Tribunsumsel.com, Sabtu (7/3/2026).
Nandang mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
BMKG Sumatra Selatan juga mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun 2025 karena sifat hujan berada di bawah normal atau lebih sedikit dibandingkan hujan saat normal.
"Masyarakat harus bijak dalam penggunaan air bersih serta mewaspadai peningkatan debu yang dapat memicu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," tutup Nandang.
1. Wilayah Kemarau Maju 2 Dasarian
Periode: Mei Dasarian II – Juni Dasarian I (10 Mei hingga 10 Juni)
Daerah yang diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dua dasarian yaitu:
2. Wilayah Kemarau Maju 1 Dasarian
Periode: Mei Dasarian III – Juni Dasarian II (20 Mei hingga 20 Juni)
Daerah yang diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat satu dasarian yaitu:
Sifat Musim Kemarau Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprediksi memiliki sifat hujan di bawah normal atau kemarau lebih kering karena hujan lebih minim.
Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Potensi hotspot dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) meningkat.
Risiko kekeringan, keterbatasan air bersih, debu, dan penyakit ISPA juga perlu diwaspadai.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel