TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah masifnya pembangunan kota-kota modern yang kerap terjebak pada logika pertumbuhan dan ekspansi ruang semata, Keraton Yogyakarta hadir menawarkan sebuah pengingat filosofis.
Ruang bukanlah sekadar bentangan tanah dan beton, melainkan sebuah konstruksi sosial, spiritual, dan ingatan peradaban manusia.
Pesan mendalam ini menjadi ruh utama dalam Pameran Temporer bertajuk "Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta" yang resmi dibuka untuk menandai rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan kenaikan takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-37.
Secara etimologis dan kultural, Smarabawana atau semara-bawana merujuk pada terminologi ruang dan dunia (jagad) dalam budaya Jawa.
Konsep ini bukanlah terminologi yang statis. Ia merupakan konstruksi dinamis yang mengintegrasikan dimensi sensorial, spiritual, dan pragmatis, selaras dengan paradigma post-konstruktivisme dalam studi tata ruang perkotaan Yogyakarta.
Smara Bawana menjadi fondasi epistemologis yang mencerminkan kesatuan antara mikrokosmos manusia dan makrokosmos alam, dengan penekanan pada simetri radial dan hierarki spasial yang harmonis.
Bagi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tata ruang adalah sebuah bentuk Cosmological Urbanism.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat membuka pameran tersebut di Bangsal Pagelaran, Sabtu (7/3).
"Sejak masa awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta pada tahun 1755, tata ruang tidak semata dipahami sebagai persoalan geografis atau arsitektural. Tata ruang dipandang sebagai manifestasi pandangan hidup tentang cara manusia menempatkan dirinya di tengah hubungan antara alam, masyarakat, dan Yang Ilahi. Falsafah itu gayut dengan pemikiran Plato yang menjelaskan bahwa kota adalah jiwa manusia yang diperbesar dalam ruang. Dan dalam ruang itulah nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban tercermin," papar Sri Sultan.
Lebih lanjut, tata kota Yogyakarta menautkan manusia dengan alam semesta melalui Sumbu Imajiner (Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan).
Konsep yang dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi ini bukan sekadar garis geografis, melainkan simbol perjalanan eksistensial manusia atau Axis Mundi (poros dunia).
Keagungan tatanan ini pun telah diakui dunia saat UNESCO menetapkan The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks sebagai Warisan Dunia pada tahun 2023.
Dalam pandangan yang lebih konkret, pameran Smarabawana menawarkan narasi sejarah tanah merdeka pasca-Perjanjian Giyanti (1755) hingga proses pembangunan yang berlandaskan nilai filosofis.
Penghageng KHP Nityabudaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Bendara, dalam laporannya menjelaskan bahwa pameran ini menyajikan narasi kawasan yang terus bertumbuh dari masa ke masa.
GKR Bendara memberikan penekanan yang kuat bahwa tata ruang Keraton adalah peleburan antara konteks material dan pembangunan mental manusia Jawa.
"Diskursus tata ruang dan wilayah tak sekadar dimaknai sebagai benda material, kawasan, maupun simbol-simbol dalam bangunan. Lebih mendalam, catatan tersebut berkaitan langsung dengan sejarah panjang dari pemerolehan wilayah Kasultanan Yogyakarta. Merle Ricklefs menyebutkan bahwa cikal bakal dari wilayah Yogyakarta ditandai dengan Perjanjian Giyanti. Sebuah kesepakatan pelik pasca Perang Suksesi Jawa Ketiga setelah terjadinya Perlawanan Mangkubumen sejak tahun 1749. Di titik inilah didengungkan: 'Sakwetahing Projo, Sakureping Langit, Saklumahing Bumi, Estu Dados Kagunganing Noto'," jelas GKR Bendara.
Pembangunan pemerintahan Mataram bersandar pada elemen primordial Catur Gatra Tunggal.
Sementara itu, konsep Sedulur Papat Limo Pancer dan implikasinya dalam penataan kota hingga bangunan diaplikasikan melalui pertimbangan vernakular-ekologis.
Hal ini, menurut GKR Bendara, adalah praktik nyata dari tata kota paling mutakhir di mana "keempat elemen tersebut secara praktis mengakomodasi aspek fungsional dari sisi sosial, spiritual, hingga ekonomi secara simultan."
Jaminan durabilitas struktur kota beserta ornamentasi simboliknya mampu mencerminkan spiritualitas Jawa secara utuh.
Tidak hanya soal sejarah keraton sentris, pameran ini juga berani membawa pengetahuan terbatas yang jarang diungkap ke publik.
Pengunjung disuguhi arsip dan narasi atas pertanahan di Yogyakarta, sejarah Kali Larangan, hingga paparan masuknya budaya Barat yang membentuk akulturasi arsitektur Keraton Yogyakarta pasca-pembangunan abad ke-20.
Menariknya lagi, pameran ini juga mengangkat sisi ekologis bentang alam Yogyakarta melalui narasi Buron Wono (hewan buruan di hutan) dan Buron Toya (hewan buruan di samudra/laut).
Konsep-konsep ini mengingatkan bahwa apa yang sering dianggap sekadar mitos perlindungan (baureksa) sejatinya adalah kearifan ekologis leluhur dalam menjaga keseimbangan alam.
Smarabawana menanggalkan batasan kaku sebuah pameran sejarah. Melalui pendekatan environmental artistic design, setiap pengunjung dari perjalanan estetika ruang-ruang budaya diundang untuk berinteraksi langsung pada "zona perifer".
Ini adalah sebuah ruang yang secara khusus mempertontonkan relasi humanis antara ruang, manusia, dan makhluk hidup di dalamnya melalui pendekatan ruang imersif-partisipatoris.
Selain menjadi ruang refleksi estetis, momentum pembukaan pameran ini turut dimanfaatkan Kawedanan Radyo Kartiyoso untuk meluncurkan laman resmi tourism.kratonjogja.id dan akun Instagram @kratonjogja.tourism.
Diseminasi pengetahuan secara lebih komprehensif dari pameran ini juga akan didalami melalui Simposium Internasional Budaya Jawa pada bulan April mendatang.
Adapun sebagai penutup, Sri Sultan Hamengku Buwono X menitipkan pesan esensial bagi siapa saja yang meresapi pameran ini.
"Tata ruang Kasultanan Yogyakarta bukan sekadar sebagai tampilan sejarah, melainkan sebagai kesempatan membaca kembali kebijaksanaan leluhur. Sebab pada akhirnya, ruang bukan sekadar bentangan tanah dan bangunan. Ruang adalah ingatan peradaban. Dan di dalam ruang itulah manusia belajar menjaga keseimbangan kehidupannya," tutup Sri Sultan.