TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU- Polres Malinau menargetkan produksi sebanyak lima ton jagung kering sebagai bagian dari Ketahanan Pangan nasional di wilayah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
Hariini, Sabtu (7/3/2026) dilakukan penanaman jagung kering yang dilakukan serentak di Polda dan Polres seluruh Indonesia termasuk di Polres Malinau. Ini merupakan program nasional Polri.
"Hari ini kita melaksanakan kegiatan tanam jagung bersama serentak seluruh Indonesia yang mana dipimpin Bapak Kapolri di Polda Sumatera Selatan, kemudian seluruh Indonesia Polda-polda, Polres-polres juga serentak melaksanakan kegiatan tanam jagung bersama target hasil 5 ton," ujar Kapolres Malinau AKBP Imam Irawan.
Kapolres Malinau mengatakan rogram ini merupakan instruksi langsung dari pusat untuk memperkuat sektor pertanian di setiap wilayah hukum Polres.
Baca juga: Polisi di Sebatik Barat Nunukan Cek Lahan Jagung di Desa Bukit Harapan, Demi Ketahanan Pangan
Di tingkat lokal, Polres Malinau melibatkan personel dan masyarakat untuk memanfaatkan lahan produktif guna mendukung ketersediaan pangan di daerah.
Penanaman jagung kering ini difokuskan pada kuartal pertama tahun 2026 dengan sasaran hasil panen yang dapat memenuhi standar kebutuhan industri maupun konsumsi lokal.
Sebelumnya, Polres Malinau tercatat telah merealisasikan penyaluran hasil pertanian ke pasar yang lebih luas untuk menjamin kesejahteraan petani binaan.
Berdasarkan data terakhir, sebanyak 2,2 ton jagung hasil panen dari lahan binaan Polres telah dikirimkan untuk diserap oleh Perum Bulog.
"Terkait teknis di lapangan, jajaran kepolisian memastikan adanya pendampingan berkelanjutan bagi para petani yang memiliki lahan kosong namun potensial," katanya.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan di Nunukan, Polsek Sebuku Dampingi Warga Siapkan Lahan Jagung Pipil
Polres Malinau juga mengerahkan personel di tingkat kecamatan hingga desa untuk memberikan edukasi mengenai tata cara penanaman yang baik.
Meskipun memiliki target besar, tantangan cuaca yang tidak menentu serta kondisi geografis lahan berupa rawa masih menjadi kendala utama pengembangan komoditas ini di Malinau.
(*)
Penulis : Mohammad Supri