290 Rumah Milik Korban Banjir Cisolok di Cikahuripan Masih 'Amsyong' Tak Disentuh Bantuan Pemda
Ravianto March 07, 2026 09:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Kepala Desa Cikahuripan, Heri Suryana, mengungkap bahwa ratusan korban banjir di Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengungkap bahwa sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi.

Diketahui, peristiwa banjir bandang yang meluluhlantakkan Kampung Tugu itu terjadi pada November 2025 lalu.

Ratusan rumah terendam banjir, bangunan rumah ada yang sampai jebol. Kantor desa pun rusak parah dan sekolah dasar juga rusak parah.

"Yang begitu sudah kejadian kemarin dampak dari banjir itu yang kena dampak itu 497 rumah, itu yang kena lumpur, rusak ringan, rusak berat, rusak sedang, yang rusak berat, ringan dan sedang itu 293 rumah,

"Saya sudah mengajukan lewat Kecamatan, karena saya diminta data oleh pihak kecamatan untuk diajukan ke Kabupaten, Provinsi dan Pusat. Ternyata sampai saat ini belum terealisasi," ungkap Heri kepada Tribunjabar.id, Sabtu (7/3/2026).

Heri menjelaskan, dari jumlah 293 rumah itu baru terdapat 3 rumah yang mendapatkan bantuan perbaikan berupa pembangunan dengan nominal Rp 25 juta, dana tersebut bersumber dari Baznas RI yang diajukan melalui Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Sukabumi.

Baca juga: 5 Bulan Pasca Banjir Cisolok Sukabumi: Ratusan Korban Dibiarkan Berjuang Sendiri Tanpa Ganti Rugi

"Yang terealisasi itu saya mengajukan ke BAZ Kabupaten Sukabumi, itu direalisasi oleh BAZ Pusat 3 rumah, alhamdulillah satu rumahnya itu 25 juta, alhamdulillah sekarang sudah selesai dan sudah bisa dihuni lagi," kata Heri.

Sedangkan sisanya sebanyak 290 rumah sampai saat ini tidak belum mendapatkan bantuan perbaikan dari Pemerintah.

Kondisi ini pun menggambarkan seakan Pemda membiarkan kondisi para korban banjir bandang.

KORBAN SUKABUMI - Eneng Yulianti, korban banjir bandang di Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, saat berdiri di depan dapur yang sudah diperbaiki sendiri, ia memperbaiki kerusakan dapur yang jebol akibat banjir bandang tanpa bantuan pemerintah dengan menghabiskan uang sampai Rp 15 juta.
KORBAN SUKABUMI - Eneng Yulianti, korban banjir bandang di Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, saat berdiri di depan dapur yang sudah diperbaiki sendiri, ia memperbaiki kerusakan dapur yang jebol akibat banjir bandang tanpa bantuan pemerintah dengan menghabiskan uang sampai Rp 15 juta. (Tribun Jabar/M RIZAL JALALUDIN)

Padahal, saat itu Bupati Sukabumi, Asep Japar telah melihat langsung kondisi para korban.

Alhasil, para korban banjir bandang yang rumahnya rusak memperbaiki kerusakan rumahnya dengan dana pribadi.

Mereka merogoh kocek sendiri dengan nominal tidak sedikit, warga ada yang sampai menghabiskan sampai Rp 15 juta untuk memperbaiki kerusakan rumah akibat banjir bandang.

"Yang 290 itu sampai saat ini yang rusak ringan, sedang, itu belum teralisasi, tapi alhamdulillah rumah tersebut dibetulin sama warga (biaya sendiri) agar bisa dihuni. Ada beberapa rumah, 3 rumah kalau tidak salah masih ngontrak karena rumahnya tidak bisa dihuni. Dulu pak Bupati alhamdulillah sudah datang ke sini. Kami sampai saat ini belum ada realisasi, mudah-mudahan kedepannya ada perhatian," ucap Heri Suryana.

Heri menjelaskan, sudah sekitar lima bulan ini warga pun kerap menanyakan kepada Pemerintah Desa terkait nasib mereka yang tak kunjung mendapatkan bantuan. 

Sementara, Pemerintah Desa sendiri kebingungan, karena kantor desa pun turut terdampak banjir bandang yang sampai saat ini masih belum diperbaiki, kantor desa jebol akibat banjir bandang saat itu.

"Kalau untuk masalah rewel itu iya, yang paling dekat dengan masyarakat kan kepala desa, kalau kita menanggapinya dengan emosi bisa saja terjadi ini lah warga dengan kami."

"Tapi kami tetap mengantisipasi supaya dengan masyarakat itu bisa kondusif dan bisa bersabar, karena kami tidak diam, kami terus mengajukan, kemarin ada tim dari dewan yang mengajukan, saya kasih datanya semuanya juga, mudah-mudahan bisa mengatasi," ucap Heri.

"Semua warga juga pada nanyain, pak Kades gimana ini teh. Ya sabar aja lah semuanya juga sudah diajuin, mudah-mudahan Allah memberikan lewat pemerintah supaya lebih cepat," ujar dia.

Pelayanan Terganggu

Kondisi kantor desa dan fasilitas di dalamnya yang rusak akibat banjir, membuat pelayanan di Desa Cikahuripan saat ini terganggu.

Pelayanan kepada masyarakat pun tidak optimal. Heri Suryana mengatakan, saat ini di Kantor Desa memakai satu meja untuk pelayanan kepada masyarakat. Bahkan, mirisnya satu meja itu dipakai bersama untuk kebutuhan proses administrasi lain di desa.

"Alhamdulillah kantor desa sampai saat ini belum (tak ada perbaikan dari Pemda), saya juga ditunggu dari dana desa, ternyata dana desa 85 persen dipakai KDMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih), tidak ada pembangunan. Sedangkan kami sedang mengajukan juga kemarin ke Kemendesa, tapi belum ada informasi," kata Heri.

"Kami sangat ini untuk pelayanan sekarang cuma di satu meja. Karena semua meja ancur, tembok jebol, kanopi juga di depan belum dibereskan," jelasnya.

Sebab itu, Heri pun saat ini menunggu anggaran dana desa cair, agar dana desa bisa disisihkan untuk perbaikan kantor desa dalam menunjang pelayanan kepada masyarakat Desa Cikahuripan.

"Kami paling nanti dari anggaran dana desa yang 350 juta akan menyisihkan untuk pelayanan, dalam arti untuk pembangunan kantor desa, dalam arti mininal fasilitasnya bisa nyaman untuk masyrakat," ujar Heri.* (M Rizal Jalaludin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.