Dua warga negara Rusia ditangkap di Bali karena mengelola laboratorium narkoba jenis mephedrone di sebuah vila di Gianyar.
SERAMBINEWS.COM, DENPASAR - Dua Warga Negara (WN) Rusia di Bali ditangkap karena diduga mengelola laboratorium narkoba jenis mephedrone.
Penangkapan pelaku yang punya background ahli biologi dan eks tentara Rusia tersebut membuka mata publik tentang pola baru peredaran narkotika internasional.
Alih-alih hanya melihat sisi kriminal, peristiwa ini menunjukkan bagaimana keahlian akademik dan latar belakang militer bisa dimanfaatkan secara ilegal untuk bisnis gelap yang berbahaya.
Tersangka pertama yakni seorang pemuda berinisial N (29), diketahui merupakan lulusan fakultas biologi di Rusia.
Dengan bekal ilmu laboratorium, ia berperan sebagai peracik narkotika.
Sementara rekannya, ST (35), mantan anggota militer Rusia, bertugas menerima bahan baku narkoba yang dikirim dari Tiongkok atau Cina.
Baca juga: Fakta Penangkapan Bandar Narkoba Ko Erwin, Pelarian ke Malaysia Lewat Jalur Laut Ilegal Digagalkan
Kombinasi keduanya menciptakan jaringan kecil namun berbahaya, dengan kemampuan teknis dan akses logistik yang cukup kuat.
Laboratorium narkoba yang dikelola kedua WN Rusia tersebut tersembunyi pada sebuah vila di Gianyar, Bali.
N meracik mephedrone dalam bentuk kristal, bekerja setiap malam hingga dini hari.
Dalam waktu sekitar dua bulan, ia berhasil memproduksi 7,3 kilogram narkotika.
ST, yang tidak lagi aktif di militer karena masalah kesehatan, menerima imbalan berupa fasilitas menginap gratis di vila.
Sementara N mendapat bayaran Rp 20–30 juta, dari seorang perempuan Rusia berinisial SK, yang diduga sebagai otak utama dan kini buron.
Baca juga: Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima Kota, Bareskrim Ambil Alih Pengejaran DPO Ko Erwin
Kasus ini terungkap berkat informasi dari Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta mengenai paket mencurigakan dari Tiongkok.
Dari sana, BNN melacak penerima hingga akhirnya menangkap N dan ST.
Fakta bahwa bahan baku dikirim lintas negara menunjukkan adanya jaringan internasional yang terorganisir.
SK, yang datang ke Bali lebih dulu, diduga mengatur seluruh operasi, mulai dari perekrutan hingga distribusi.
Penangkapan ini menegaskan bahwa Bali, sebagai destinasi wisata internasional, rentan dijadikan lokasi operasi narkotika.
Keahlian akademik N di bidang biologi dan pengalaman militer ST memperlihatkan bagaimana latar belakang profesional bisa disalahgunakan untuk kejahatan.
Baca juga: Kerusuhan Meluas di Meksiko Setelah Kematian Bos Kartel Narkoba El Mencho, 74 Orang Tewas
Hal ini menjadi peringatan bahwa peredaran narkoba kini tidak hanya melibatkan kurir atau bandar lokal, tetapi juga aktor asing dengan kemampuan teknis tinggi.
Beruntung, BNN berhasil membongkar laboratorium ini sebelum hasil produksi sempat beredar.
Namun kasus ini menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas WNA di daerah wisata, serta kerja sama internasional dalam memutus rantai suplai narkotika.
Dari peristiwa ini, jelas bahwa ancaman narkoba semakin kompleks, melibatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan jaringan global yang harus diantisipasi dengan strategi terpadu.(*)