Ketua BEM UGM dan Keluarga Masih Dapat Teror Pembunuhan dan Penculikan, Tiyo: Tidak Buat Kami Gentar
Muhammad Zulfikar March 07, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Tiyo Ardianto mengakui masih mendapatkan teror dalam beberapa waktu terakhir.

"Setelah sepekan, setelah sejak dua minggu yang lalu, sebenarnya memang ada beberapa teror lagi," kata Tiyo saat diwawancarai di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026).

Baca juga: Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Tantang Prabowo Debat Terbuka di Kampus

Diketahui, Tiyo pertama kali dapat teror usai dia dan pengurus BEM UGM melayangkan surat ke UNICEF.

Surat itu berkaitan peristiwa anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak mampu membeli pena dan buku.

Baca juga: Belum Terima Aduan, Komnas HAM Cermati Teror Terhadap Ketua BEM UGM

Tiyo mengalami teror berupa berbagai ancaman, penguntitan, hingga pemotretan dari pihak tak dikenal selama 9–11 Februari 2026.

Kali ini, teror lebih masif dan menyasar ke orangtuanya, pengurus UGM, dan para orangtua pengurus UGM.

Tiyo bercerita, teror kali ini tidak mereka upayakan untuk disampaikan ke publik.

Sebab, Tiyo dkk tengah mencoba untuk mengkanalisasi data-data teror yang mereka terima.

"Supaya kita punya laporan cukup terperinci terhadap teror yang kami alami," jelas Tiyo.

Namun begitu bagi Tiyo, teror sebesar apa pun tak akan berdampak buat mereka. Ia mengaku tidak gentar.

"Sampai sekarang dengan seluruh teror yang ada, kami masih keliling, masih bicara tanpa mengurangi volumenya sedikit pun," ucapnya.

Justru Tiyo mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah menyebarkan teror.

Sebab mereka jadi menerima banyak dukungan-dukungan solidaritas dari universitas lainnya.

"Jadi justru berbahaya teror yang kami alami karena justru akan membangkitkan perlawanan kepada pemerintah," tegas Tiyo.

Baca juga: Ketua BEM UGM Tiyo Ardiyanto Kritik MBG dan Surati UNICEF, Menteri HAM Natalius Pigai: Orang Jahat!

Teror yang Tiyo dan orang sekitarnya terima adalah dalam bentuk digital. Mulai dari ancaman penculikan dan pembunuhan.

Meski tidak takut, tentu di satu sisi rasa waspada Tiyo tetap tinggi. Apalagi saat ini ia sedang berada di luar kota.

"Sehingga kami ya sekarang lebih protektif apabila bepergian terutama ketika di luar kota. Tetapi pada prinsipnya ya ini tidak membuat kami gentar," ungkapnya.

Meski Tiyo dan rekan-rekannya terus mendata teror-teror yang mereka terima, tapi mereka enggan untuk melaporkannya ke polisi.

Data-data itu akan dijadikan catatan di BEM UGM.

"Tetapi kami prinsipnya sekarang sih tidak tertarik untuk melaporkan ke kepolisian," ujar Tiyo santai.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.