Setahun Sekali Jualan, Reni Yanti Jajakan Lampu Botol Jelang Tradisi Tumbilotohe Gorontalo
Wawan Akuba March 07, 2026 11:40 PM

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Deretan lampu botol tergantung rapi di sebuah lapak sederhana di pinggir jalan.

Sumbu-sumbu putih yang diikat menjadi beberapa gantungan tampak bergoyang pelan tertiup angin sore.

Di bagian depan meja kayu, ratusan botol lampu tersusun rapat. Sementara di bawah meja, terlihat beberapa botol plastik besar berisi minyak tanah yang ikut dijual kepada warga.

Lapak itu berada di ujung selatan Jalan Pangeran Hidayat atau yang kerap disebut Jalan Dua Susun (JDS), Kota Gorontalo.

Baca juga: Kultum Milenial Rizal Rajalani Mahasiswa IAIN Gorontalo: Manfaat Besar Puasa

Lokasinya tepat di antara Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan HOS Cokroaminoto, kawasan yang setiap sore mulai dipadati warga menjelang waktu berbuka puasa.

Secara posisi, lapak tersebut berada tak jauh dari deretan pedagang takjil yang mulai ramai menjelang magrib.

Di tengah aktivitas itu, lampu-lampu botol yang tergantung di rangka kayu milik seorang pedagang tampak mencuri perhatian orang yang melintas.

TUMBILOTOHE -- Lapak lampu botol di ujung selatan Jalan Pangeran
TUMBILOTOHE -- Lapak lampu botol di ujung selatan Jalan Pangeran Hidat atau juga disebut jalan dua susun (JDS).

Lapak tersebut milik Reni Yanti Polumulo (49), warga Kelurahan Heledulaa, yang setiap tahun berjualan lampu botol menjelang tradisi Tumbilotohe.

Saat ditemui TribunGorontalo.com, Sabtu (7/3/2026), Reni terlihat duduk di balik meja jualannya bersama salah satu anak perempuannya.

Mereka sesekali merapikan lampu botol yang tergantung di rangka kayu sambil menunggu pembeli yang datang dari arah jalan utama.

Reni mengatakan, ia sudah membuka lapak sejak Minggu (1/3/2026) lalu.

“Lapak ini saya buka sejak hari Minggu kemarin. Biasanya setiap hari saya datang dari pagi sekitar pukul 08.00 Wita untuk menata dagangan. Botol lampu sama sumbu digantung supaya orang yang lewat bisa langsung lihat,” kata Reni.

Menurutnya, lapak tersebut biasanya tetap buka hingga malam hari.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Gorontalo Besok Minggu 8 Maret 2026, Lengkap Waktu Salat 5 Waktu dan Niat Puasa

“Kalau sudah sore biasanya mulai ada yang datang beli. Jadi saya tetap jaga di sini sampai malam, kadang sampai sekitar pukul sembilan malam baru pulang,” ujarnya.

Reni mengaku sudah cukup lama berjualan lampu botol setiap Ramadan. Namun aktivitas itu hanya ia lakukan sekali dalam setahun.

Di luar bulan puasa, ia tidak membuka usaha dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

“Kalau di luar Ramadan saya tidak jualan. Saya ini memang penjual tahunan saja. Jadi kalau sudah bulan puasa baru buka lapak begini karena orang-orang mulai cari lampu botol untuk Tumbilotohe,” jelasnya.

Menurut Reni, sebagian lampu botol yang dijual merupakan hasil rakitan sendiri di rumah bersama suaminya.

Botol-botol bekas dikumpulkan terlebih dahulu jauh sebelum Ramadan tiba, kemudian dibersihkan sebelum dijadikan lampu.

“Botol-botol ini kami kumpulkan dari jauh hari sebelum Ramadan. Kalau sudah banyak, kami bersihkan dulu di rumah. Setelah itu baru dirakit jadi lampu. Biasanya saya kerjakan sama suami supaya cepat selesai,” ungkapnya.

Selain lampu botol dan sumbu, Reni juga menjual minyak tanah yang biasanya digunakan untuk menyalakan lampu tersebut.

Minyak tanah dijual dalam botol plastik dengan ukuran berbeda.

“Kalau minyak tanah ada dua ukuran. Yang botol besar biasanya Rp35 ribu, kalau yang botol kecil Rp25 ribu. Jadi orang yang beli lampu botol bisa sekalian beli minyak tanah juga di sini,” katanya.

Sementara untuk harga lampu botol dan sumbu, Reni menjualnya dengan harga yang cukup terjangkau.

“Kalau lampu botol ada yang lima ribu lima buah, ada juga lima ribu empat buah. Kalau sumbu itu saya jual Rp15 ribu dua gantung, ada juga satu gantung Rp10 ribu,” jelasnya.

Sore itu, Reni ditemani salah satu anak perempuannya yang membantu menjaga lapak.

Sesekali mereka terlihat berbincang sambil menunggu pembeli yang datang dari arah jalan utama.

Reni mengatakan hasil jualan lampu botol digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga, terutama anak dan cucunya.

Ia memiliki empat orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Salah satu anak perempuannya sudah menikah dan kini telah memiliki anak.

“Saya jualan ini untuk bantu kebutuhan keluarga juga. Anak saya ada empat, dua laki-laki dan dua perempuan. Yang satu perempuan sudah menikah dan sudah punya anak, jadi kalau ada rezeki dari jualan ini bisa bantu-bantu mereka juga,” tuturnya.

Meski penghasilan dari berjualan lampu botol tidak selalu besar, Reni mengaku tetap bersyukur karena tradisi Tumbilotohe membuat dagangannya masih dicari masyarakat setiap Ramadan.

“Alhamdulillah setiap tahun masih ada saja orang yang cari lampu botol. Biasanya kalau sudah dekat Tumbilotohe pembeli mulai ramai karena orang-orang mau pasang lampu di halaman rumah atau di depan rumah,” katanya.

Menjelang sore, suasana di sekitar lapaknya mulai ramai. Para pedagang takjil di sepanjang jalan mulai menata dagangan mereka.

Begitu juga dengan arus lalu lintas dari arah utara maupun selatan Jalan Pangeran Hidayat yang mulai meningkat.

Lampu-lampu sederhana itu nantinya akan dinyalakan di halaman rumah warga, menjadi bagian dari cahaya tradisi Tumbilotohe yang selalu menyemarakkan Ramadan di Gorontalo.

Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo

Tumbilotohe merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Gorontalo yang digelar setiap akhir Ramadan.

Tradisi ini dikenal sebagai malam pasang lampu, yaitu kegiatan menyalakan lampu-lampu minyak di halaman rumah, masjid, hingga sepanjang jalan kampung.

Lampu-lampu tersebut biasanya menggunakan botol kaca atau lampu tradisional yang diisi minyak tanah dan dilengkapi sumbu.

Tumbilotohe biasanya dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Secara filosofis, tradisi ini melambangkan penerangan jalan bagi umat Muslim dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan yang diyakini penuh keberkahan, termasuk malam Lailatul Qadar.

Selain itu, Tumbilotohe juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Gorontalo dalam menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.