Sebuah buku terbaru mengungkap kisah mantan staf British Museum yang mencuri lebih dari 300 karya seni dan menjualnya di pasar barang antik sebelum akhirnya tertangkap.
Pelaku yang bernama Nigel Peverett ini bekerja di Departemen Cetakan dan Gambar museum pada awal 1970-an. Meski sudah tidak lagi bekerja, ia masih kerap mengunjungi museum hingga aksinya terungkap pada April 1992.
Saat itu, Peverett kedapatan membawa 35 cetakan senilai sekitar 5.000 poundsterling (Rp 112 juta) keluar dari museum.
"Ketika polisi menindaklanjuti percobaan pencurian ini, mereka menggeledah kediaman Peverett di Kent dan menemukan 169 cetakan lain, diperkirakan bernilai 27.000 poundsterling (Rp 607 juta). Ia kemudian mengakui mencuri 150 cetakan tambahan yang telah dijualnya," tulis Barnaby Phillips dalam buku barunya The African Kingdom of Gold, yang dikutip dari , Minggu (8/3/2026).
Phillips menuturkan Peverett sering kali masuk museum hanya dengan satu tas dan keluar membawa empat tas berisi karya seni. Ia bahkan mengikis nomor katalog dengan pisau cukur atau memotong cetakan menjadi lebih kecil sebelum menjualnya melalui pedagang di kios pasar barang antik Portobello Road Market.
Setelah pencurian terungkap, museum berupaya memulihkan koleksi yang hilang. Pada November 1992, 55 cetakan berhasil ditemukan, namun sebagian besar karya telah dijual tunai kepada pembeli tak dikenal. Hingga kini, diperkirakan 95 cetakan masih belum kembali.
Peverett meninggal pada 2023. Dalam bukunya, Phillips menceritakan pertemuannya dengan keluarga Peverett di Kent. Mereka menggambarkan mantan staf museum itu sebagai sosok menawan tetapi ceroboh, yang mencintai seni dan musik klasik, namun benar-benar tidak bertanggung jawab.
Bahkan, Peverett pernah membakar mobil Porsche miliknya dalam sebuah penipuan asuransi. Keluarga Peverett juga mengklaim bahwa ia tetap menerima pensiun dari museum meski terjerat kasus besar.
Saat diadili, Peverett mengalami gangguan saraf dan sempat mencoba bunuh diri. Ia kemudian dirawat di rumah sakit jiwa selama enam minggu dan dijatuhi hukuman percobaan.
"Peristiwa ini terjadi beberapa dekade lalu dan individu tersebut telah ditangkap juga diadili pada saat itu. Sayangnya, pencurian akan selalu menjadi risiko bagi setiap museum dan karena alasan ini, kami sangat serius dalam menjaga keamanan koleksi," kata juru bicara British Museum.
"Selain langkah-langkah keamanan, menyebarluaskan informasi tentang koleksi adalah cara lain yang menurut kami dapat membuatnya lebih aman. Pada 2023, kami berkomitmen mendigitalisasikan seluruh koleksi dalam lima tahun ke depan," lengkapnya.





