Oleh: Salman Ahmad
ADA satu anggapan yang cukup umum di masyarakat: Al-Qur’an adalah kitab suci yang hanya diperuntukkan bagi orang Muslim.
Ia disucikan, dihormati, dibahas, dan dikaji, dalam kalangan Muslim, dan jarang dipandang sebagai sebuah kitab yang relevan bagi orang-orang di luar Agama Islam.
Pandangan seperti itu tentu bisa dimengerti.
Bagaimanapun, Al-Qur’an memang menjadi kitab suci bagi umat Islam.
Ia menjadi sumber ajaran, pedoman ibadah, dan rujukan moral dalam kehidupan.
Namun jika kita membaca Al-Qur’an secara langsung, kita akan menemukan bahwa kitab ini tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai bacaan yang hanya ditujukan kepada satu golongan dan kelompok manusia saja.
Berkali-kali di beberapa tempat, alquran memulai ayatnya dengan panggilan sederhana: “Wahai manusia.” Misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 21, Allah berfirman, “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
Panggilan yang sama juga muncul dalam Surah An-Nisa ayat 1 dan Surah Al-Hajj ayat 5. Sapaan ini tidak menyebut agama, suku, atau bangsa tertentu. Ia menyapa manusia sebagai manusia.
Karena itu banyak ulama memahami Al-Qur’an sebagai semacam surat terbuka dari Tuhan kepada seluruh umat manusia.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, Al-Qur’an bahkan disebut sebagai hudan lin naas, petunjuk bagi manusia.
Kata “manusia” di sini tentu mencakup siapa saja: mereka yang sudah beriman, mereka yang masih mencari, bahkan mereka yang mungkin belum pernah benar-benar mengenal ajaran Islam.
Jika kita melihat isinya, kita juga akan menemukan bahwa banyak pesan Al-Qur’an berbicara tentang nilai-nilai yang sangat dekat dengan kehidupan manusia secara umum.
Ia menekankan kejujuran, keadilan, kepedulian kepada yang lemah, tanggung jawab moral, serta dorongan untuk menggunakan akal dalam memahami kehidupan.
Nilai-nilai seperti ini tidak memerlukan identitas agama tertentu agar dapat dipahami atau dirasakan kebenarannya.
Siapa pun yang mendambakan kehidupan yang lebih adil dan bermakna dapat menemukan gema itu dari nilai-nilai yang terungkap di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Namun di bagian lain, Al-Qur’an juga menyebut dirinya sebagai hudā lil-muttaqīn—petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, seperti yang disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 2.
Sekilas ini bisa menimbulkan pemahan, bahwa alquran itu adalah petunjuk bagi orang-orang bertaqwa saja.
Para ulama tafsir, meluruskan pemahaman ini dengan cara yang sederhana.
Pada satu sisi, dan agar pesan itu benar-benar mengubah seseorang dari dalam, dibutuhkan kesiapan hati. Kalimat bertaqwa tidak dimaksudkan sebagai syarat untuk mendekati Al-Qur’an.
Taqwa adalah hasil dari perjalanan seseorang ketika ia mulai serius mengikuti petunjuknya, dan di sinilah makna takwa berperan.
Namun Al-Qur’an juga terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca dan memahaminya.
Ia memberikan penjelasan, arah, dan nilai-nilai yang bisa menjadi pegangan hidup.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus sudah menjadi sangat saleh untuk membaca Al-Qur’an.
Justru banyak orang mendekatinya karena mereka sedang mencari arah hidup.
Ada beragam cara Al-Qur’an menyapa manusia.
Kadang ia berbicara kepada seluruh manusia (ya ayyuhan-nas), kadang mengingatkan manusia sebagai satu keluarga besar melalui panggilan “Wahai anak-anak Adam” seperti dalam Surah Al-A’raf ayat 26 dan ayat 31.
Di tempat lain ia menyapa komunitas beriman dengan panggilan “Wahai orang-orang yang beriman” seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa.
Bahkan kepada mereka yang meragukan kebenarannya, Al-Qur’an tidak sekadar meminta kepercayaan.
Ia justru mengajak manusia untuk berpikir dan menimbang.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 23, misalnya, manusia ditantang untuk mendatangkan satu surah yang semisal dengan Al-Qur’an jika mereka meragukan keasliannya.
Ajakan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak menutup ruang dialog dan refleksi.
Melihat Al-Qur’an dengan cara seperti ini membuat kita menyadari bahwa kitab ini sebenarnya tidak pernah dimaksudkan menjadi sesuatu yang tertutup. Ia adalah undangan yang selalu terbuka.
Bagi yang sedang mencari arah, ia bisa menjadi kompas.
Bagi yang sedang gelisah, ia bisa menjadi penenang.
Dan bagi siapa saja yang masih ingin memahami kehidupan dengan lebih jernih, Al-Qur’an selalu menyediakan ruang untuk itu.
Pintunya tidak pernah dikunci. Yang sering kali diperlukan hanyalah keberanian kecil untuk mendekat dan mulai membacanya. (*)