TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, mengaku masih menerima teror dalam beberapa waktu terakhir.
"Setelah sepekan, sejak dua minggu yang lalu, sebenarnya memang ada beberapa teror lagi," kata Tiyo ditemui usai diskusi buku di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026).
Diketahui, Tiyo pertama kali mendapatkan teror setelah dirinya bersama pengurus BEM UGM melayangkan surat kepada UNICEF.
Surat tersebut berkaitan dengan peristiwa seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak mampu membeli pena dan buku.
Tiyo mengatakan, pada 9–11 Februari 2026 ia mengalami berbagai bentuk teror, mulai dari ancaman, penguntitan, hingga dipotret oleh pihak tak dikenal.
Teror yang ia terima belakangan bahkan dinilai lebih masif karena turut menyasar keluarganya.
Menurut Tiyo, ancaman tersebut juga ditujukan kepada orangtuanya, pengurus UGM, hingga orangtua para pengurus BEM UGM.
Meski demikian, ia dan rekan-rekannya sempat memilih untuk tidak mempublikasikan teror yang mereka alami.
Sebab, mereka sedang mengumpulkan dan mengkanalisasi data terkait berbagai ancaman yang diterima.
"Supaya kita punya laporan cukup terperinci terhadap teror yang kami alami," jelasnya.
Tiyo menegaskan berbagai ancaman tersebut tidak membuat dirinya dan rekan-rekan BEM UGM gentar.
Ia mengatakan mereka tetap aktif menyuarakan berbagai isu tanpa mengurangi intensitas kegiatan.
"Sampai sekarang dengan seluruh teror yang ada, kami masih keliling, masih bicara tanpa mengurangi volumenya sedikit pun," ujarnya.
Bahkan, Tiyo mengaku berterima kasih kepada pihak yang menyebarkan teror tersebut.
Menurutnya, ancaman itu justru memunculkan dukungan solidaritas dari berbagai universitas di Indonesia.
"Jadi justru berbahaya teror yang kami alami karena justru akan membangkitkan perlawanan kepada pemerintah," tegasnya.
Ia menjelaskan, teror yang diterimanya sebagian besar berbentuk digital, seperti ancaman penculikan dan pembunuhan.
Meski tidak merasa takut, Tiyo mengaku tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat bepergian ke luar kota.
"Sehingga kami sekarang lebih protektif apabila bepergian terutama ketika di luar kota. Tetapi pada prinsipnya ini tidak membuat kami gentar," ungkapnya.
Tiyo juga menyebut bahwa pihaknya terus mendata seluruh teror yang diterima.
Namun, ia dan rekan-rekannya tidak berencana melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.
Menurutnya, data tersebut hanya akan dijadikan sebagai catatan internal di BEM UGM.
"Tetapi kami prinsipnya sekarang tidak tertarik untuk melaporkan ke kepolisian," ujar Tiyo.