Belajar matematika sering menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan orang, bahkan sejak usia dini. Saat berhadapan dengan kertas ujian yang dipenuhi angka-angka, sering kali orang mendadak panik karena merasa tidak bisa mengerjakannya.
Menurut pakar di Fakultas Kedokteran Universitas Utah, Sam Goldstein, PhD, menjelaskan, ada fenomena umum yang disebut dengan 'kecemasan matematika'. Ini berkaitan dengan pengalaman pribadi setiap orang dan bagaimana otak kita bereaksi terhadap stres.
"Kecemasan mengubah cara kerja otak. Ketika seseorang merasa terancam, bahkan ancaman kecil sekalipun, perhatian akan menyempit. Pikiran beralih ke pengelolaan rasa takut alih-alih memecahkan masalah," ucapnya, dikutip dari Psychology Today.
Kecemasan Membuat Kinerja Otak Terganggu
Dalam hal ini matematika sangat bergantung pada memori kerja, ruang mental yang digunakan untuk menyimpan angka dan langkah-langkah dalam pikiran. Kecemasan bersaing untuk mendapatkan ruang tersebut.
Saat itu terjadi, masalah paling sederhana pun akan terasa mustahil untuk terpecahkan. Sehingga banyak orang sebenarnya paham materinya, tapi kesulitan untuk mengerjakan karena akses ruang mental di otaknya terganggu.
Ketika seseorang akhirnya tidak mampu menyelesaikan tugas, mereka jadi yakin bahwa dirinya payah dalam matematika. Keyakinan itu yang kemudian berlanjut dan membentuk siklus kebiasaan. Jadi, rasa takut yang menguasai ruang mental, menghalangi otak untuk memikirkan jalan keluar.
"Math Anxiety" Timbul dari Pengalaman Negatif yang Berulang
Sejatinya, manusia tidak lahir dengan rasa cemas terhadap kumpulan angka-angka. Namun, pengalaman tidak menyenangkan yang membekas menimbulkan rasa cemas terhadap matematika.
Rasa cemas terhadap matematika dipicu oleh beberapa pengalaman buruk. Di antaranya berada di kelas yang terlalu ramai atau tempo pembelajaran yang cepat, diminta mengerjakan soal di papan secara tiba-tiba dan salah menjawab, mengerjakan ujian di bawah tekanan, serta dimarahi guru saat salah menjawab.
Kemudian, muncul perasaan takut untuk berbuat kesalahan karena semua jawaban dituntut harus benar. Berbagai pengalaman tersebut meyakinkan seseorang, bahwa kesulitan dalam matematika adalah kegagalan atau kebodohan.
"Semua ini membantu memperkuat keyakinan bahwa kesulitan dalam matematika identik dengan kegagalan," ungkap Goldstein.
Pengaruh Budaya dan Orang Tua
Di sisi lain, budaya menertawakan kesalahan seseorang dalam matematika juga menimbulkan anggapan bahwa itu hal wajar. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang justru menghindari matematika.
Ada juga stereotip sosial yang bisa menjadi pemicu berkembangnya kecemasan terhadap matematika. Misalnya, saat individu berada di dalam kelompok yang diklaim tidak pandai matematika, ia semakin takut jika hasil belajarnya membuktikan klaim tersebut.
Hal ini membuktikan kecemasan terhadap matematika, bukan terpaku pada sulitnya soal dari angka-angka yang ada. Rasa cemas cenderung muncul karena takut dianggap gagal karena tidak mampu. Tanpa disadari, peran orang tua juga memicu rasa cemas terhadap matematika. Orang tua merasa stres saat berhadapan dengan pr matematika anak mereka.
Meski tidak berniat, ungkapan tidak suka dan stres terlihat dari bahasa tubuh, intonasi, hingga ekspresi cemas atau takut. Ini menyebabkan anak merasa tertekan dan mengartikan matematika adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.
Solusi Mengurangi "Math Anxiety"
Cara paling sederhana mengurangi kecemasan terhadap matematika yaitu mengungkapkan rasa khawatir dengan menuliskannya. Cara mengajar matematika di kelas juga perlu diubah oleh para pengajar dengan tidak hanya menekankan pada kecepatan dan kebenaran saja.
Para guru hendaknya memberikan siswa waktu untuk berpikir ulang dan memastikan jawabannya dengan berbagai cara. Hal ini memungkinkan siswa untuk menikmati proses pembelajaran, dan lebih mudah untuk fokus.
Selain itu, menormalisasikan kesalahan dalam belajar matematika juga menjadi hal yang penting. Ini yang membantu siswa lebih percaya diri dan tidak ragu mengulanginya sampai benar.







