TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya menyebut hingga saat ini belum menerima laporan kasus campak yang terkonfirmasi di wilayah Kota Palangka Raya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan penyakit menular tersebut, terutama setelah muncul laporan kasus campak di sejumlah daerah.
“Sampai hari ini belum ada konfirmasi kasus campak di Palangka Raya,” kata Riduan saat dikonfirmasi, Minggu (8/3/2026).
Baca juga: Wali Kota Palangka Raya Dukung Pembatasan Akun Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun
Baca juga: Promo Murah Indomaret Alfamart Ramadan 8 Maret 2026: Good Time Rp 17.500, Pucuk Harum Teh Rp5.500
Baca juga: Guru Ngaji di Kotawaringin Timur Dapat Apresiasi, ODOJ Kalteng Salurkan 250 Paket Bantuan
Meski belum ditemukan kasus, masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak-anak.
Menurutnya, bayi yang telah mendapatkan imunisasi campak masih berpotensi terinfeksi, namun umumnya hanya mengalami gejala yang lebih ringan dibandingkan anak yang belum mendapatkan imunisasi.
“Biasanya kalau bayi itu telah mendapatkan imunisasi campak, dia bisa saja terkena, tetapi gejala yang muncul biasanya lebih ringan,” ujarnya.
Riduan berharap sebagian besar anak di Palangka Raya telah mendapatkan imunisasi campak sehingga memiliki perlindungan terhadap penyakit tersebut.
“Harapan kita mudah-mudahan bayi-bayi yang ada di Kota Palangka Raya telah terimunisasi oleh vaksin campak,” katanya.
Ia menjelaskan, campak merupakan penyakit infeksi virus yang mudah menular melalui percikan batuk atau bersin dari penderita. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak, namun orang dewasa juga dapat terinfeksi.
Meski demikian, pada orang dewasa gejala yang muncul biasanya tidak separah pada anak-anak.
“Orang dewasa juga bisa terkena, tetapi biasanya gejalanya tidak begitu parah,” jelas Riduan.
Gejala campak umumnya ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam kemerahan pada kulit.
Campak sendiri disebabkan oleh infeksi virus rubeola dari kelompok Paramyxoviridae yang sangat mudah menular. Virus tersebut dapat menyebar melalui percikan liur atau droplet saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara.
Penularan juga dapat terjadi melalui udara maupun benda yang terkontaminasi virus. Dalam kondisi tertentu, virus campak bahkan dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda hingga sekitar dua jam.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan kasus campak masih ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia pada awal tahun 2026.
Hingga minggu ke-8 tahun 2026 tercatat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi. Selain itu terdapat 10.453 kasus suspek campak secara kumulatif, dengan 8.372 kasus di antaranya telah terkonfirmasi.
Meski sempat meningkat pada Januari 2026, tren kasus campak secara nasional dilaporkan mulai menunjukkan penurunan pada Februari.
Riduan juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh serta memastikan anak-anak telah mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal.
“Pencegahan yang paling utama menjaga daya tahan tubuh, minum cukup, makan cukup, dan istirahat cukup. Dengan daya tahan tubuh yang baik diharapkan penyakit tidak mudah menyerang,” tutupnya.