BANGKAPOS.COM - Kalimat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban merupakan salah satu ayat paling populer dalam Al-Qur'an.
Ayat ini menjadi ciri khas dari Surat Ar-Rahman yang berada pada Juz 27.
Surat Ar-Rahman sendiri memiliki arti "Yang Maha Pengasih", di mana Allah SWT memaparkan berbagai limpahan nikmat-Nya kepada jin dan manusia.
Bagi Anda yang ingin mempelajari atau mengutip ayat ini, berikut adalah tulisan Arab fabiayyi ala irobbikuma tukadziban beserta teks latin dan terjemahannya:
Tulisan Arab: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Teks Latin: Fabiayyi āla'i Rabbikumā tukazzibān.
Artinya: "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Pertanyaan yang sering muncul adalah fabiayyi ala irobbikuma tukadziban diulang berapa kali?
Dalam Surat Ar-Rahman, kalimat ini diulang sebanyak 31 kali.
Pengulangan ini bukan tanpa alasan.
Meski merupakan hak prerogatif Allah SWT, para ulama, termasuk Buya Yahya, menjelaskan bahwa ada hikmah mendalam di balik pengulangan tersebut.
Dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui maksud pasti dari Allah kecuali Allah sendiri.
Namun, para ulama memahami ini sebagai sebuah hikmah.
Pengulangan ini bertujuan agar manusia tidak mengingkari nikmat.
"Banyak orang mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka Allah mengajak kita bersyukur," ujar Buya Yahya.
Buya Yahya memberikan contoh nyata, seperti seseorang yang diberi nikmat pasangan atau anak, namun justru menjauh dari Allah.
Ayat ini hadir sebagai teguran:
"Apa lagi yang kau dustakan?"
Ayat ini juga menjadi motivasi agar kita melihat segala sesuatu dari kacamata syukur, bukan keluhan.
Bagi Anda yang mencari lanjutan ayat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, perlu dipahami bahwa ayat ini adalah ayat tanya (retoris) yang tersebar di sepanjang Surat Ar-Rahman.
Biasanya, ayat ini muncul setelah Allah menyebutkan satu per satu nikmat-Nya, mulai dari penciptaan manusia, buah-buahan, hingga gambaran surga.
Contoh Struktur Ayat:
Memahami makna fabiayyi ala irobbikuma tukadziban adalah langkah awal untuk menjadi hamba yang lebih bersyukur.
Dengan menyadari bahwa setiap tarikan napas, kesehatan, keluarga, dan rezeki adalah pemberian-Nya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk kufur nikmat.
Wallahualam bish-shawab. (bangkapos.com)