TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Tik Jong (74) tampak menata etalase tokonya yang menjual berbagai kuliner oleh-oleh di Jalan Jenderal Sudirman Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat (6/3/2026).
Tangannya secara perlahan memasukkan satu per satu bungkusan kue kering berwarna coklat berbentuk bunga dengan lima sisi dan berbentuk stik.
Tik Jong menyebutnya, kue kering widaran, jajanan khas Purwokerto.
Kue widaran merupakan jajanan buatan keluarganya yang sudah turun-temurun dan kini menjadi oleh-oleh khas Kota Satria.
Keberadaan kue kering widaran hampir seusia Tik Jong, sudah 76 tahun sejak 1950-an.
"Kue kering widaran awalnya dari sini. Produk buatan keluarga," katanya kepada Tribunbanyumas.com.
Baca juga: Jenang Jaket Khas Purwokerto, Manis Gurih Legit Jadi Satu
Tik Jong mengatakan, dia merupakan generasi ketiga yang menjaga eksistensi kue widaran.
Generasi pertama yang merupakan kakek Tik Jong adalah Tan Glok Ling.
Kue widaran dibuat menggunakan bahan beras ketan, gula, telur, mentega.
Proses memasaknya menggunakan oven.
Kue kering ini memiliki cita rasa gurih dan manis.
"Tokonya hanya di sini tapi beberapa toko oleh-oleh juga membeli untuk dijual," ungkapnya.
Tik Jong mengatakan, tokonya hanya satu, berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, persis berada di samping BRI KCP Sudirman.
Produksi kue keringnya dalam sehari mencapai 5-10 kilogram.
"Harga per kilogramnya Rp200 ribu."
"Kemudian, yang di etalase, ukuran 100 gram seharga Rp21 ribu dan ukuran 200 gram seharga Rp42 ribu," katanya.
Menurut Tik Jong, kue kering widaran ramai pembeli saat Tahun Baru dan Lebaran Idulfitri.
Banyak masyarakat atau pemudik yang beli untuk oleh-oleh.
Baca juga: 5 Camilan Khas Banyumas yang Wajib Dijadikan Buah Tangan
Itu sebabnya, di momen-momen tersebut produksi kue widaran meningkat dua kali lipat dari hari biasa hingga 20 kilogram.
"Selain (pembeli) perorangan, banyak juga toko oleh-oleh yang pesan," katanya.
Tik Jong mengatakan, kue widaran memiliki rasa gurih dan manis karena melalui proses yang cukup panjang.
Mulai dari beras ketan diadang, setelah itu dicuci lalu dijemur hingga kering.
Lalu, digoreng sebelum diolah dengan adonan tepung, telur, dan mentega putih.
"Setelah itu, ditumbuk secara manual."
"Hasilnya yang sudah halus dipotong-potong dan dibentuk, barulah dioven," jelasnya. (*)