Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr
Muhammad Hadi March 08, 2026 05:19 PM

Oleh Ahmad Humam Hamid *)

Melihat Iran sebagai konflik perang singkat adalah kekeliruan besar. Ini bukan Vietnam dengan garis depan jelas. 

Bukan pula intervensi AS di Amerika Latin atau invasi ke Irak dan Afghanistan yang bisa diukur dengan target strategis tertentu. 

Konflik Iran jauh lebih panjang. Lebih dalam. Sering disalahpahami karena banyak orang mencoba memahaminya dengan kerangka waktu terlalu sempit. 

Untuk itu, kita perlu menaikkan pandangan ke pundak pemikir besar: Vali Nasr, profesor hubungan internasional dan kajian Timur Tengah di Johns Hopkins University, School of Advanced International Studies (SAIS), penulis buku laris , Iran’s Grand Strategy: A Political History (2025). 

Nasr menjelaskan bahwa tindakan Iran bukan sekadar reaksi ideologis terhadap Barat, tetapi strategi panjang yang terstruktur dan historis. 

Banyak analis Barat membaca Iran sebagai negara teokratis, terlalu religius, dan dogmatis. Mereka melihat para mullah sebagai figur yang hanya bergulat dengan fiqih dan hukum teologi. 

Kenyataannya berbeda. Para mullah, bahkan mereka yang memegang kekuasaan tertinggi, adalah pembaca realitas sosial dan geopolitik yang tajam. 

Baca juga: Perang Iran, BoP, dan Kritik Tajam Anies kepada Prabowo

Mereka menerjemahkan narasi religius menjadi strategi nasional yang pragmatis. Identitas mereka mencakup agama, tentu saja, tetapi juga nasionalisme Persia yang tak tergoyahkan. Mereka sadar posisi Iran sebagai peradaban besar lintas milenium. 

Nasionalisme Iran bukan hanya soal Islam Syiah. Ia juga kebanggaan atas warisan kerajaan kuno 550 sebelum Masehi, Achaemenid dan Sasaniyah, sastra Persia, dan sejarah panjang sebagai pusat budaya dan pemerintahan di Asia Barat. 

Ayatullah Ruhollah Khomeini, misalnya, tidak hanya memimpin revolusi religius. Nasr menyebutnya “Lenin‑nya Iran”, bukan karena ia komunis, tetapi karena ia menerapkan teori ke dalam praxis kehidupan bangsa. 

Khomeini membangun institusi negara, struktur pemerintahan, dan strategi politik nyata. Ia menggabungkan teokrasi, sekuler pragmatis, dan nasionalisme Persia dalam satu visi.

Kunci memahami strategi Iran modern ada pada prinsip yang sejalan dengan gagasan filosofis Immanuel Kant tentang perdamaian abadi — bahwa perdamaian bukan sekadar niat moral, tetapi terjadi ketika pihak‑pihak yang berkonflik kehabisan sumber daya, kelelahan, dan tidak lagi mampu berperang .

Kant, filsuf Jerman abad ke‑18,  menulis perdamaian mesti dilihat sebagai hasil struktur politik dan perhitungan rasional antarnegara, bukan sekadar aspirasi moral semata. 

Baca juga: Weapon of The Weak: Strategi Iran Menjinakkan Kekuatan Super Power

Dalam konteks Iran, Teheran memahami prinsip ini dengan brutal: bukan moralitas yang memandu tindakan mereka, tetapi pragmatisme strategis - menunggu lawan kelelahan, lalu memaksa mundur. 

Tujuannya adalah mengusir Amerika Serikat dari Timur Tengah dan memaksa rival besar menghitung ulang biaya keterlibatan mereka, bukan sekadar memenangkan satu pertempuran instan. 

Membangun ketahanan internal dan jaringan sekutu religional

Teheran membaca konflik sebagai permainan panjang, di mana perhitungan sumber daya, kesabaran, dan ketahanan institusi negara menjadi alat utama.

Untuk memahami strategi ini, kita harus melihat sejarah panjang Iran sebagai “yatim internasional”, negara yang sering menghadapi musuh besar tanpa sekutu setia. 

Titik awalnya jauh sebelum era modern. Pada 1828, melalui Treaty of Turkmenchay, Iran kehilangan wilayah besar di Kaukasus kepada Rusia - sebuah bukti bahwa negara itu berada di persimpangan kepentingan kekuatan besar. 

Titik balik modern terjadi pada 19 Agustus 1953, ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan oleh operasi CIA - AS dan MI6 - Inggris setelah ia menasionalisasi industri minyak karena ancaman terhadap kepentingan Barat, sebuah pengalaman yang membentuk keyakinan bahwa bergantung pada campur tangan asing selalu berujung pada pengkhianatan. 

Ini memperkuat kesadaran bahwa bertahan sendiri adalah satu‑satunya pilihan.

Baca juga: Iran vs Amerika: Ketahanan yang Tidak Biasa dan Kegagalan Strategi Superpower

Pelajaran itu diuji lagi pada Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah. Banyak mengira revolusi itu sekadar religius. Faktanya, ia adalah reaksi terhadap dominasi asing dan kerinduan kedaulatan. 

Revolusi ini mencampurkan aspirasi religius dengan nasionalisme Persia yang kuat. Tak lama kemudian, ketegangan wilayah memuncak menjadi perang Iran–Iraq. 

Konflik dimulai ketika Saddam Hussein memerintahkan invasi besar ke Iran pada 22 September 1980. 

Perang berlangsung hingga 1988, delapan tahun penuh kehancuran. Yang membedakan perang ini adalah dukungan asing terhadap Irak: Amerika Serikat memberi intelijen, kredit, teknologi, serta dukungan diplomatik, sementara negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait memberi dukungan finansial besar.

Iran menghadapi perang sendiri, memperkuat pengalaman sebagai yatim internasional. Namun di balik kesendirian itu muncul kebijakan luar biasa: kesabaran strategis. 

Teheran tidak membalas secara impulsif atau agresif di luar konteks, tetapi memilih bertahan. Ia membangun ketahanan internal dan mengembangkan pendekatan kompleks melalui jaringan sekutu regional. 

Ini termasuk Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman - strategi yang dikenal sebagai Axis of Resistance- sumbu perlawanan.

Baca juga: Teater Ambisi Trump dan Iran: Apa Beda “Pungo” dan “Puleh Pungo”

 Ini bukan ekspansi ideologis semata, tetapi cara mempertahankan negara sambil menguras sumber daya dan ketahanan lawan.

Program nuklir Iran sering disalahpahami oleh pengamat Barat sebagai ambisi agresif. 

Sementara bagi Teheran ia adalah elemen deterrence — pencegahan, bukan soal bom semata, tetapi soal menghitung ulang biaya intervensi lawan setelah sejarah panjang tekanan dan isolasi. 

Teheran menikmati kesabaran ini seperti pelari maraton, bukan sprinter. Ia tidak mengejar kemenangan cepat. Ia tahu lawan bisa menang di babak awal, tetapi strategi Iran tetap: bertahan, membangun kekuatan internal, dan memperluas pengaruh secara perlahan. 

Sejarah panjang menguatkan pola ini: dari Treaty of Turkmenchay 1828, kudeta Mossadegh 1953, revolusi 1979, hingga perang Iran–Iraq 1980–1988 - setiap tekanan memperdalam kesadaran untuk berjalan sendiri dan memperkuat narasi “yatim internasional.”

Fenomena kontemporer memperlihatkan strategi ini dengan nyata. Serangan Iran terhadap seluruh pangkalan AS di Teluk, negara Arab, dan Asia Tengah menunjukkan jangkauan strategis luar biasa. 

Baca juga: IRGC Klaim Serang Puluhan Kapal Tangker, AS Siap Kerahkan Angkatan Laut, Harga Minyak Dunia Melonjak

Bukan sekadar reaksi atau propaganda. Iran menunjukkan kemampuan ofensif melalui proxy, rudal, drone, dan jaringan sekutu regional. 

Setiap serangan bertujuan mengalihkan tekanan, menciptakan biaya berkelanjutan, dan memaksa lawan menilai ulang keterlibatan mereka di kawasan. 

Serangan ini bukan aksi tunggal; ia terintegrasi dengan Axis of Resistance - sumbu perlawanan yang memperluas pengaruh Iran sekaligus menguras kesabaran lawan.

Bertahan lebih lama daripada lawan

Pandangan Nasr membuat konflik kontemporer antara Iran, AS, dan Israel lebih mudah dipahami. 

Serangan awal mungkin tampak berhasil bagi Washington atau Tel Aviv, tetapi strategi Iran adalah maraton geopolitik, bukan sprint. Tehran bertahan, membangun kapasitas internal, dan memperluas pengaruhnya secara bertahap. 

Babak awal bisa tampak Amerika menang, tetapi jika kita menunggu bulan, tahun, atau dekade, pola Iran tetap: kesabaran, pragmatisme, dan ketahanan. Tidak ada kemenangan instan, hanya kemenangan melalui keausan lawan.

Definisi kemenangan menurut Iran, dalam pandangan  Nasr, bukan memusnahkan musuh dalam hitungan minggu, tetapi bertahan lebih lama daripada lawan, memaksa mereka mundur, dan menjaga integritas nasional. 

Baca juga: Indonesia Untuk Perdamaian Dunia

Inilah kemenangan yang bersifat historis, pragmatis, dan strategis. Dalam kerangka ini, konflik nuklir, regional, dan militer yang sedang berlangsung hari ini bukan perang biasa. 

Ia adalah pertempuran panjang dengan logika maraton, di mana lawan diharapkan kelelahan, pengaruh diperluas perlahan, dan kemenangan terukur bukan dari jumlah serangan, melainkan dari kemampuan bertahan dan mempertahankan kedaulatan dalam jangka panjang. 

Iran tetap teguh, sabar, dan cerdik. Ia memanfaatkan sejarah panjangnya sebagai “yatim internasional” untuk membangun strategi yang menegaskan: bertahan lebih lama daripada lawan adalah kemenangan itu sendiri.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.