TRIBUNNEWSMAKER.COM - Keraton Kasunanan Surakarta kembali bersiap menggelar tradisi sakral Malam Selikuran yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (9/3/2026).
Tradisi tahunan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan budaya dan keagamaan yang selalu digelar setiap bulan Ramadan di lingkungan keraton.
Upacara tersebut digelar sebagai bentuk peringatan terhadap datangnya malam istimewa dalam Islam, yaitu Lailatul Qadr yang diyakini memiliki kemuliaan melebihi 1.000 bulan.
Sejumlah persiapan pun mulai dilakukan untuk menyambut prosesi yang sarat nilai spiritual dan budaya tersebut.
Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPHAP Dipokusumo, menjelaskan bahwa tradisi ini telah dilestarikan sejak masa pemerintahan Pakubuwono X.
Sejak saat itu hingga sekarang, kirab budaya yang dikenal dengan Kirab Tumpeng Sewu terus dijalankan sebagai simbol pelestarian adat keraton.
Tradisi tersebut juga melibatkan berbagai pihak sehingga menjadi kegiatan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Inti kegiatan dari tradisi ini di era Pakubuwono X sampai sekarang dijadikan semacam kolaborasi semua stakeholder, menjadi semacam komodifikasi. Ada nilai ekonomi yang bergerak, tapi juga memberikan keuntungan bagi yang berkepentingan,” jelasnya saat ditemui di Sasana Hadi, Minggu (8/3/2026).
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memiliki makna budaya, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Baca juga: Usai 2 Putra Mendiang PB XIII Berebut Takhta Keraton Solo, Tedjowulan Ditunjuk Kelola Dana Hibah
Sebagai kerajaan yang mewarisi tradisi Mataram Islam, keraton Surakarta juga sangat erat dengan nilai-nilai ajaran Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, berbagai tradisi di keraton sering kali memadukan unsur budaya Jawa dengan nilai spiritual Islam.
Kirab Malam Selikuran sendiri selalu digelar setiap tanggal 21 Ramadan sebagai simbol penantian datangnya malam penuh berkah.
“Makna dari ini langsung berkonotasi dengan nilai keagamaan. Malam selikur dimaknai sebagai turunnya Lailatul Qadr,” ungkapnya.
Baca juga: 5 Wisata Budaya di Solo Jawa Tengah Selain Keraton, Termasuk Pura Mangkunegaran dan Museum Keris
Malam 1.000 bulan ini akan disimbolkan dalam Tumpeng Sewu.
Nantinya tumpeng ini akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
“Simbolis di dalam budaya Jawa hajat dalem itu Tumpeng Sewu, malam seribu bulan. Dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari tersebut,” jelasnya.
Kirab akan diadakan dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo.
Setelah itu iring-iringan akan menuju Gladag kemudian belok ke barat hingga ke Taman Sriwedari.
“Diawali doa bersama di Bangsal Sewoyono Sitihinggil kemudian ke Pagelaran Sasana Sumewo menuju Gladag, ke kiri ke barat sampai ke Sriwedari yang nanti akan diadakan serah terima dari utusan dalem ke Wali Kota Mas Respati Ardi,” tuturnya.
(TribunNewsmaker.com/ TribunSolo)