Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Peringatan kenaikan tahta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-37 bukan sekadar seremoni tahunan.
Tingalan Jumengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan momentum refleksi kepemimpinan sekaligus penegasan identitas Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Penghageng II Kawedanan Purwo Aji Laksana Kraton Yogyakarta, KRT Purwowinoto menerangkan sebelum bergabung ke Republik Indonesia, Yogyakarta adalah kerajaan yang berdaulat penuh, memiliki rakyat, memiliki wilayah dan tata negara sendiri.
“Sama seperti ulang tahun, Tingalan Jumenengan Dalem ini adalah untuk mengingat kembali, merefleksikan selama kenaikan tahta, apa yang sudah terjadi, apa yang sudah dilakukan,” terangnya, Minggu (8/3/2026).
Meski sebagai monarki, Kraton Yogyakarta selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sehingga di dalam Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X dibantu oleh organisasi internal yang selalu diperbaharui. Salah satunya adalah kawedanan Tondo Yekti.
“Ini yang banyak disukai anak muda, yang sering main di sosmed, yang membuat tari-tarian, yang membuat musik-musik agar menarik minat generasi muda. Dan misi saya sekarang adalah untuk merangkul anak muda,” sambungnya.
Menurut dia, Kraton memang peninggalan masa lalu, namun juga penghubung masa depan. Kehadiran Kraton Yogyakarta saat ini bersifat menyeimbangan budaya masa lalu agar bisa dikenang dan diterima oleh generasi selanjutnya.
“Memang budaya Jawa itu berorientasi pada masa lalu, namun kemudian bisa dikemas sedemikian rupa, namun tidak meninggalkan akarnya. Sri Sultan HB X itu beberapa kali menciptakan tari baru dengan filosofi baru, salah satunya Tirta Hayuningrat, menceritakan kepedulian kepada alam semesta tentang air. Sehingga seni itu pun selalu berkembang sesuai zamannya,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Sejarawan UGM, Dr. Baha Uddin, M.Hum mengungkapkan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi upaya menempatkan Kasultanan Yogyakarta pada identitas aslinya yang berakar pada kebudayaan Jawa.
Menurut dia, peristiwa ini bukan sekadar seremoni, namun penegasan mengenai status Kraton Yogyakarta sebagai penjaga marwah kebudayaan Jawa.
“Ketika Kraton Yogyakarta bergabung ke Republik Indonesia itu menyatakan kalau Yogyakarta tetap bersifat istimewa. Meskipun menjadi bagian dari republik, tetapi tidak meninggalkan identitasnya sebagai monarki. Dan Sri Sultan HB X ini sudah dikasih ilmu untuk melanjutkan apa yang sudah difondasikan. Dan tantangan sekarang ini bagaimana membawa Kraton di tengah perubahan global yang masif,” ungkapnya.
“Tingalan Jumenengan Dalem bukan seremonial semata, tetapi memberikan makna Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, menjaga marwahnya dan itu dilestarikan melalui berbagai upaya yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan zaman. Kita harus menyambut ini sebagai kesempatan luar biasa untuk belajar,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Subbidang Hubungan Antar Lembaga dan Penyebarluasan Informasi Paniradya Kaistimewan, Rr. Wita Dewi menambahkan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi peristiwa memanjatkan doa dan harapan warga DIY.
“Kalau ulang tahun itu kan banyak yang mendoakan, harapan dan doa yang dipanjatkan agar Sri Sultan HB X menjadi pengayom yang mengayomi masyarakat. Mengemban tanggung jawab tinggi sebagai gubernur dan raja tentu tidak mudah. Selain itu, juga menjadi panutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia berharap tradisi terus dilestarikan.
“Ini bukan hanya tradisi atau seremoni, tetapi memaknai sejarah agar teerus hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tugas generasi muda tidak hanya melestarikan budaya sebagai identitas dan kebanggan, kita patut meneruskan ke generasi yang akan datang, sehingga internalisasi bisa diwariskan, tidak luntur,” pungksnya. (maw)