Enam Rumah Kontrakan Longsor, Pemprov DKI Akan Bebaskan 396 Bangunan di Tebet
Dian Anditya Mutiara March 09, 2026 10:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, TEBET - Beberapa rumah kontrakan di bantaran kali Ciliwung RT 04 dan 06/10, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan mengalami longsor beberapa waktu lalu.

Akibatnya, enam rumah kontrakan mengalami kerusakan bagian belakang karena bedekatan dengan Kali Ciliwung.

Camat Tebet, Putut Puji Linangkung menjelaskan, sebelum peristiwa itu terjadi pihaknya telah melakukan sosialisasi pembebasan lahan kepada 396 pemilik bangunan di bantaran kali.

Ia mengaku, pembebasan lahan ini sebagai solusi untuk atasi banjir dan bencana longsor seperti yang terjadi baru-baru ini.

"Kami sudah lakukan sosialisasi sejak tahun 2023, kemudian 2024 dan 2025 kemarin," ucapnya saat dikonfirmasi wartawan, Senin (9/3/2026).

Baca juga: Korban Longsor TPST Bantargebang Bertambah Jadi 4 Orang, Korban Adalah Sopir Truk Sampah

Menurutnya, pembebasan lahan secara bertahap itu setelah Pemprov DKI bebasakan rumah warga di Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Puji mengaku, dari data yang diterima ada sekira 396 rumah yang terkena pembebasan lahan sebagai upaya atasi banjir. 

"Data jumlah warga yang terkena normalisasi Kali Ciliwung di RW 10 Kebon Baru adalah total 396 bidang. Sementara di RW 11 dan RW 14 masih menunggu datanya," jelas Puji.

Sebagai informasi, enam bangunan rumah kontrakan di Jalan X, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, rusak akibat tanah longsor, Jumat (6/3/2026) lalu.

Baca juga: Waspada Hujan Lebat,  PVMBG Keluarkan Daftar Kecamatan di Jakarta Rawan Longsor

Peristiwa ini viral di sosial media dan diunggah oleh @kabar_tebet pasca kejadian.

Salah satu penghuni rumah kontrakan, Istiqomah (35) menjelaskan, peristiwa itu terjadi ketika hujan deras melanda Jakarta sejak pagi.

"Longsornya bertahap min, seminggu lalu bagian dapur, lalu retak bagian depan rumah. Pukul 11.00 WIB kontrakan bapak saya runtuh semua tak tersisa," tulis Istiqomah di akun sosial media tersebut.

Sudah dikosongkan

Ketua RT 06 RW 10 Kebon Baru, Irma, mengonfirmasi bahwa tidak ada warga maupun penyewa yang menjadi korban karena bangunan tersebut sudah dikosongkan sebelum longsor terjadi. 

"Iya, kemarin itu ada longsor kena total enam kontrakan yang hancur. Karena emang rawan longsor lah ini pinggir kali kan, sudah berasa turun tanahnya, makanya ditinggalin. Pas longsor sih sudah nggak ada orang," ujar Irma kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Sabtu (7/3/2026).

Menurutnya, warga yang tinggal di rumah tersebut sudah hampir satu tahun berpindah kontrakan karena merasakan tanda-tanda longsor.

Kesaksian serupa disampaikan oleh Yanti (50), warga yang rumahnya berada persis di sebelah lokasi patahan longsor.

Tanggul Kali Angke Jebol, Ia mengungkapkan peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.30 WIB tersebut. 

"Kemarin kan kita lagi pada bermain-main, terus tiba-tiba ada anak dua orang jalan sampai sini, terus habis itu langsung tiba-tiba longsor jatuh. Iya, sempat dengar, 'Bruk!' gitu," ungkap Yanti.

Serupa dengan Irma, Yanti menyebut para penghuni kontrakan memang sudah memindahkan barang-barangnya dan mengosongkan hunian karena melihat struktur bangunan yang semakin membahayakan.

"Nggak ada (penghuni), udah kosong. Tadinya emang awalnya kan ditempatin. Karena udah ada tanda-tanda retak, nah akhirnya pindah," jelas Yanti.

Ia menambahkan, pergerakan tanah sudah mulai terlihat dari keretakan tanah di area jalanan di bagian depan rumah.

Longsor yang menghanyutkan dua bangunan tersebut pun diduga kuat dipicu oleh curah hujan yang terus mengguyur wilayah Jakarta sejak pagi, membuat kontur tanah bantaran sungai menjadi basah dan rawan longsor.

"Iya, gerimis saja (saat kejadian). Tapi kan itu dari pagi kan udah hujan, cuma kan kejadiannya pas gerimis aja. Lagi basah (lahannya)," kata Yanti.

Bahkan, longsor juga sempat terjadi pada 22 Februari lalu, tepat pada hari keempat bulan Ramadhan dan merusak setengah bagian salah satu rumah warga.

Imbas longsor ini, akses jalan lingkungan yang biasa digunakan warga kini terputus dan hanya menyisakan jalur setapak bagi pejalan kaki. 

"Terputus lah kalau buat jalan. Jalan kaki mah masih bisa lah, tapi kita perlu hati-hati juga. Sebelumnya masih bisa motor lewat," keluh Yanti. Namun, meski selamat dari tanah longsor, warga yang tinggal di dekat titik patahan longsor kini harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Ancaman terjadinya longsor susulan membuat mereka waswas rumahnya akan menjadi korban selanjutnya, terutama saat tengah diguyur hujan deras.

"Ya iyalah (takut), rasa khawatir mah ada. Kan kita takutnya kebawa (longsor) juga, apalagi kalau hujan,' tutur Yanti.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.