TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Panasnya situasi di Timur Tengah akibat serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran memicu penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada jalur logistik global.
Pemerintah Indonesia, berupaya memanfaatkan berbagai sumber daya lokal agar tidak terlalu terkena imbas dari ketegangan tersebut, diantaranya PT Pupuk Indonesia.
PT Pupuk Indonesia memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga meskipun terjadi gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Pendaftaran Mudik Gratis Pupuk Kujang 2026 Dibuka 12 Februari 2026, Cek Syarat, Cara Daftar & Rute
Perusahaan menyatakan memiliki kapasitas produksi dan cadangan bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan distribusi pupuk bagi petani di dalam negeri.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan perusahaan berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani.
"Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk," tutur Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira dalam keterangan, dikutip Senin (9/3/2026).
Saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus untuk pupuk urea, kapasitas produksi perusahaan disebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.
Secara fundamental, produksi urea nasional juga dinilai memiliki tingkat kemandirian yang kuat karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dipenuhi dari dalam negeri dengan pasokan dan harga yang telah diatur pemerintah.
Dengan kondisi tersebut, eskalasi konflik di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi utama urea global tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.
"Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia," terang Yehezkiel.
Selain mengandalkan kapasitas produksi, perusahaan juga memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis yang masih harus diimpor.
Beberapa bahan baku pupuk seperti fosfat (P) dan kalium (K) tidak tersedia secara alami di Indonesia dan menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.
Saat ini Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat dari sejumlah negara di Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia dan Aljazair.
Sementara itu, pasokan kalium diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
Adapun bahan baku pupuk yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah adalah sulfur (S) yang selama ini berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar dan Kuwait.
Meski demikian, perusahaan menyebut pasokan sulfur juga tersedia dari negara lain seperti Kanada sehingga potensi gangguan dapat diantisipasi.
Selain melakukan diversifikasi sumber bahan baku, Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium dan sulfur pada tingkat yang mencukupi untuk mendukung produksi.
Langkah ini juga menjadi upaya antisipasi terhadap potensi kenaikan biaya logistik akibat meningkatnya harga minyak dunia.
Didukung kapasitas produksi, diversifikasi sumber bahan baku, serta manajemen stok yang kuat, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.
"Fokus utama kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan optimal," terang Yehezkiel.