TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Operasi pencarian dua korban yang hilang akibat banjir lahar hujan Gunung Merapi di aliran Sungai Senowo resmi dihentikan setelah memasuki hari ketujuh, Senin (9/3/2026).
Koordinator Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur, Arif Yulianto menyampaikan, penghentian operasi pencarian tersebut dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) setelah tujuh hari pencarian.
“Dengan berakhirnya tujuh hari sesuai SOP Basarnas, operasi SAR pencarian dan pertolongan kita tutup hari ini,” ujarnya.
Ia mengatakan hingga hari terakhir pencarian, tim SAR gabungan telah memaksimalkan seluruh potensi yang ada dengan melibatkan alat berat seperti eskavator di sejumlah titik yang dicurigai menjadi lokasi korban tertimbun material.
“Basarnas USS Borobudur bersama tim SAR gabungan sudah memaksimalkan dengan peralatan eskavator di dua titik yang memang kita curigai ada korban, namun hingga sore hari ini hasil masih nihil,” jelasnya.
Selama proses pencarian, tim menghadapi sejumlah kendala seperti tebalnya material lahar, luasnya area pencarian, serta kondisi cuaca hujan yang tidak menentu.
“Hari ini kita tetap melibatkan tiga SRU yang kita bagi di beberapa titik untuk mengawasi alat berat bekerja,” katanya.
Meski operasi SAR resmi ditutup, Basarnas menyatakan tetap melakukan pemantauan apabila muncul informasi atau indikasi temuan yang mengarah pada keberadaan korban.
“Basarnas secara SOP sudah menutup operasi SAR, tapi kita tetap melakukan pemantauan. Jika ada temuan atau indikasi mengarah pada penemuan korban, kita selalu siap melakukan evakuasi,” ujarnya.
Sementara itu, paman salah satu korban yang masih hilang, Hasyim, yakni Saaris, mengatakan pihak keluarga menerima keputusan penghentian pencarian dengan lapang dada.
“Keluarga menerima dengan lapang hati karena ini kehendak Allah. Kami juga berterima kasih atas bantuan Basarnas, tim SAR, maupun pemerintah yang sudah berupaya maksimal,” katanya.
Ia mengungkapkan Hasyim diketahui baru sekitar lima bulan menikah dan istrinya saat ini tengah mengandung empat bulan.
“Hasyim sudah berkeluarga, baru menikah kurang lebih lima bulan lalu. Saat ini istrinya sedang hamil empat bulan,” ungkapnya.
Meski korban belum ditemukan, keluarga mengaku tetap legawa dan tidak meminta perpanjangan waktu pencarian.
“Keinginan ditemukan tentu masih ada, tapi kami tidak berharap sepenuhnya. Dengan ditutupnya pencarian ini kami sudah legowo dan menerima,” ujarnya.
Adapun penutupan operasi ditandai dengan pelaksanaan salat gaib dan tabur bunga di Sungai Senowo sebagai bentuk keikhlasan serta doa untuk korban.
“Tabur bunga adalah bentuk keikhlasan kita bahwa kita telah yakin si Hasyim keponakan saya telah tiada, telah meninggal, sehingga dilakukan salat gaib dan tabur bunga,” katanya.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Basarnas terkait penghentian operasi pencarian setelah tujuh hari sesuai prosedur.
“Dari Basarnas dengan tujuh hari pencarian sesuai SOP sudah dihentikan, jadi kita tutup pencarian,” ujarnya.
Ia menambahkan masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor masih diperpanjang untuk mempercepat perbaikan sejumlah fasilitas umum yang terdampak banjir lahar hujan.
Mulanya status kedaruratan tersebut telah diterapkan sepanjang 3-9 Maret 2026, namun kembali diperpanjang selama sepekan hingga 16 Maret 2026 mendatang.
Imbas bencana tersebut, dilaporkan ada tujuh desa di Kecamatan Dukun yang terdampak kesulitan air bersih, yakni Desa Keningar, Krinjing, Paten, Sengi, Sumber, Sewukan, dan Wates.
“Tanggap darurat diperpanjang dalam rangka penyelesaian fasilitas umum. Yang kita dorong skala prioritas paling urgent diselesaikan sebelum Idul Fitri, termasuk jembatan untuk kedaruratan,” katanya.
Diketahui, banjir lahar hujan menerjang aliran Sungai Senowo di Kabupaten Magelang pada Selasa (3/3/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Peristiwa tersebut menghanyutkan empat penambang pasir dan seorang warga yang sedang beraktivitas di sekitar sungai.
Pada hari pertama pencarian, tim SAR berhasil menemukan satu korban meninggal dunia atas nama Imam Setiawan (21), warga Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.
Pencarian kemudian dilanjutkan pada hari kedua, Rabu (4/3/2026) dan tim kembali menemukan dua korban meninggal dunia yakni Heru Setyawan (25), warga Desa Krinjing, serta Arif Fuad Hasan (26), warga Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.
Dengan demikian, hingga operasi SAR ditutup masih terdapat dua korban yang belum ditemukan, yakni Maryuni yang berprofesi sebagai pedagang warung dan Hasyim. (tro)