Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Ahmad Munjid mempertanyakan alasan Panglima TNI mengeluarkan telegram siaga I.
Menurut dia, Panglima TNI harus menjelaskan secara gamblang terkait latar belakang penetapan siaga I. Pasalnya, belum ada ancaman keamanan di Indonesia.
“Pertama, telegram TNI kan mestinya bersifat internal, rahasia, urusan dalam TNI. Bahwa itu (telegram) bocor, itu mengundang pertanyaan, kenapa bisa sampai bocor. Apakah sengaja atau tidak sengaja, kalau sengaja apa maksudnya?” Katanya, Senin (9/3/2026).
“Kalau alasannya keamanan terkait konflik di Timur Tengah, persisnya apa? Tidak ada yang sifatnya langsung berhubungan dengan kita. Kalau pengamanan untuk kantor-kantor kedutaan terutama Amerika membutuhkan pengawasan lebih, oke. Tapi apakah itu responnya harus dengan siaga I?” sambungnya.
Ia melanjutkan kondisi militerisme di Indonesia sedang naik. Dengan Siaga I, maka militer akan hadir di ruang-ruang publik.
Kehadiran militer di ruang publik justru tidak memberikan rasa aman bagi masyarakat, namun membuat resah dan bertanya-tanya.
Di samping militerisme menjadi lebih kuat, ia juga khawatir status Siaga I ini dibelokkan ke masalah keamanan lainnya.
“Kalau misalnya masalah keamanannya tidak ada, nanti itu bisa dibelokkan ke masalah keamanannya menjadi yang lain. Misal kritik pemerintah terhadap BoP, itu dihubung-hubungkan dengan Timur Tengah, dan itu dianggap menjadi atau potensial menimbulkan gangguan keamanan. Itu kan akhirnya memberikan alasan bagi militer untuk membungkam kritik,” lanjutnya.
Pihaknya pun tidak melihat adanya bahaya keamanan yang mengancam keamanan negara. Secara geografis, Indonesia cukup jauh dari episentrum konflik. Selain itu, Indonesia tidak secara tegas masuk ke blok mana pun.
Jika perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran meluas, yang pertama terdampak adalah kawasan Teluk, kemudian negara-negara di Eropa. Hal itu karena secara geografis lebih dekat dan bersekutu secara langsung.
“Jadi kalau konflik yang di Timur Tengah mencapai wilayah kita, itu artinya semua wilayah sudah tercapai oleh konflik itu. Jadi ibaratnya tsunami itu gelombangnya mencapai wilayah kita, artinya dia sudah mencapai wilayah-wilayah yang lain,” terangnya.
“Mungkin Asia Tenggara yang merasa paling tidak aman ya Singapura, karena di Singapura banyak aset Amerika dan Israel. Secara ekonomi mereka sangat dekat, banyak kepentingan Amerika dan Israel yang dipertaruhkan kalau terjadi konflik yang luas,” paparnya.
Munjid juga menyoroti soal penetapan Siaga I yang menyalahi konstitusi. Ia menyebut yang berhak memobilisasi kekuatan militer adalah panglima tertinggi, dalam hal ini presiden. Itu pun harus dengan persetujuan DPR.
“Tapi kalau tiba-tiba secara sepihak Panglima TNI mengeluarkan statemen seperti itu, saya kira banyak masalah di situ. Karena itu, TNI harus memberikan klarifikasi, supaya keresahan dan pertanyaan masyarakat bisa diatasi. Tanda-tandanya nggak ada kok kita ini tiba-tiba Siaga I,” imbuhnya. (maw)