Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Sejak siang hari, warga mulai berdatangan ke tepi Sungai Way Sekampung, Senin (9/3/2026).
Anak-anak, petani, hingga ibu-ibu dari dua pekon berdiri di sekitar jembatan gantung yang baru saja selesai dibangun.
Hari itu, mereka ingin melihat langsung jembatan yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita para pekerja.
Jembatan itu membentang sekitar 80 meter dengan lebar 1,2 meter, menghubungkan Pekon Jogjakarta dengan wilayah di seberangnya.
Bagi warga, jembatan itu bukan sekadar bangunan baru.
Baca juga: Dulu Menyeberang Pakai Getek, Kini Jembatan Garuda Hubungkan Dua Pekon di Pringsewu
Selama ini, untuk menyeberangi sungai, sebagian warga harus memutar cukup jauh atau menunggu kondisi air surut.
Kini mereka memiliki jalur baru yang lebih dekat.
Peresmian jembatan tersebut menjadi bagian dari program 200 Jembatan Garuda yang digagas Kepala Staf Angkatan Darat, Maruli Simanjuntak.
Peresmian dilakukan serentak di berbagai wilayah Indonesia secara daring.
Sementara itu di Lampung, acara peresmian dipusatkan di lokasi jembatan tersebut.
Pangdam II/Sriwijaya, Kristomei Sianturi, menjelaskan jembatan ini dibangun untuk membantu membuka akses masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan transportasi.
“Harapannya masyarakat dari dua pekon bisa lebih mudah beraktivitas, baik untuk kegiatan ekonomi maupun anak-anak sekolah,” ujarnya.
Di Provinsi Lampung, jembatan ini menjadi Jembatan Garuda kedua setelah sebelumnya dibangun di wilayah Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus.
Pembangunannya melibatkan personel TNI AD, jajaran Kodim dan Koramil, relawan dari organisasi Vertical Rescue Indonesia, serta warga sekitar.
Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar satu bulan.
Total anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp527 juta.
Biaya tersebut lebih besar dibandingkan proyek serupa sebelumnya karena kondisi tanah di sekitar sungai yang berlumpur sehingga membutuhkan pancangan yang lebih kuat untuk menopang jembatan.
Meski begitu, bagi warga yang berdiri di atasnya hari itu, angka-angka itu bukan hal yang paling mereka pikirkan.
Yang mereka lihat adalah jalan baru di atas sungai, jalan yang bisa memperpendek perjalanan anak ke sekolah, memudahkan petani membawa hasil panen, dan menghubungkan dua kampung yang selama ini dipisahkan oleh arus air.
Sebelum acara selesai, Pangdam juga mengingatkan warga untuk menjaga jembatan tersebut bersama-sama.
Sebab bagi masyarakat setempat, jembatan itu bukan hanya sarana penyeberangan.
Ia juga menjadi harapan baru bagi aktivitas sehari-hari di dua pekon yang kini akhirnya terhubung.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)