Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pakubuwono XIV Hangabehi tak hadir di Malam Selikuran, Senin (9/3/2026), baik di Keraton Kasunanan Surakarta maupun di Masjid Agung Keraton Solo.
Pengageng Sasana Wilapa yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Murtiyah Wandansari mengungkapkan saat ini Sinuhun Hangabehi tak hadir lantaran menderita Covid-19.
“Ternyata positif. Sudah 2 minggu,” ungkap Gusti Wandansari saat ditemui di Masjid Agung Keraton Solo, Senin (9/3/2026).
Terakhir ia bertemu dengan Sinuhun Hangabehi, mukanya masih memerah. Putra tertua Pakubuwono XIII ini juga masih menderita batuk pilek.
“Tadi malam ketemu saya mukanya masih mumur-mumur. Merah. Masih batuk, masih pilek,” jelas Gusti Wandansari.
Meski begitu, Sinuhun Hangabehi tak menjalani rawat inap di rumah sakit. Ia menjalani isolasi mandiri di rumah.
“Di rumah isolasi di kamar sendiri,” tuturnya.
Meski Sinuhun Hangabehi menderita sakit, GKR Wandansari memastikan berbagai upacara adat tetap berjalan sebagaimana mestinya.
“Enggak (terganggu). Sinuhun hanya memimpin upacara adat. Semua sudah dilakukan oleh lembaganya. Pengageng-pengageng punya reh-rehan yang itu bekerja,” jelasnya.
Kirab malam selikuran dilangsungkan oleh kedua kubu dengan rute kirab masing-masing.
Pakubuwono XIV Purboyo keluar melalui Pintu Kori Kamandungan pukul 19.56 WIB.
Ia berjalan bersama para pengiringnya menuju Sitihinggil.
Sinuhun Purboyo didampingi oleh Sasana Wilapa PB XIV Purboyo, GKRP Timoer Rumbai Kusuma Dewayani.
Di belakangnya ada sejumlah iring-iringan mulai dari lampion, lampu ting, hingga gamelan.
Baca juga: Malam Selikuran Keraton Solo: Dua Kubu Gelar Kirab dengan Rute dan Waktu Berbeda
Lalu ada jodhang-jodhang yang memuat sajian makanan.
Nantinya makanan ini akan dibagikan ke masyarakat sesampainya di Taman Sriwedari.
Sementara itu, Lembaga Dewan Adat (LDA) yang mendukung Pakubuwono XIV Hangabehi memulai acara di Semorokoto.
Nantinya mereka akan menjalankan kirab menuju Masjid Agung Keraton Solo.
Saat ini baik Sinuhun Hangabehi maupun Pelaksana Keraton Solo KGPHPA Tedjowulan belum tampak hadir.
Tradisi Malam Selikuran di Keraton Solo ternyata sudah dilestarikan sejak era Pakubuwono X.
Keraton Solo, akan menggelar upacara adat Malam Selikuran pada Senin (9/3/2026) besok.
Upacara adat ini memperingati Lailatul Qadr yang dipercaya lebih mulia dari 1.000 bulan.
Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPHAP Dipokusumo, mengungkapkan tradisi ini terutama dilestarikan sejak era Pakubuwono X.
Hingga kini Kirab Tumpeng Sewu terus diadakan untuk melestarikan adat di keraton.
“Inti kegiatan dari tradisi ini di era Pakubuwono X sampai sekarang dijadikan semacam kolaborasi semua stakeholder, menjadi semacam komodifikasi. Ada nilai ekonomi yang bergerak, tapi juga memberikan keuntungan bagi yang berkepentingan,” jelasnya saat ditemui di Sasana Hadi, Minggu (8/3/2026).
Sebagai bagian dari kerajaan yang mewarisi tradisi Mataram Islam, Keraton Kasunanan Surakarta lekat dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Setiap tanggal 21 Ramadan, kirab diadakan untuk memperingati adanya malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.
“Makna dari ini langsung berkonotasi dengan nilai keagamaan. Malam selikur dimaknai sebagai turunnya Lailatul Qadr,” ungkapnya.
Malam 1.000 bulan ini akan disimbolkan dalam Tumpeng Sewu.
Nantinya tumpeng ini akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
Baca juga: Tradisi Malam Selikuran Kembali Digelar Keraton Solo, Peringati Lailatul Qadr
“Simbolis di dalam budaya Jawa hajat dalem itu Tumpeng Sewu, malam seribu bulan. Dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari tersebut,” jelasnya.
Kirab akan diadakan dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo.
Setelah itu iring-iringan akan menuju Gladag kemudian belok ke barat hingga ke Taman Sriwedari.
“Diawali doa bersama di Bangsal Sewoyono Sitihinggil kemudian ke Pagelaran Sasana Sumewo menuju Gladag, ke kiri ke barat sampai ke Sriwedari yang nanti akan diadakan serah terima dari utusan dalem ke Wali Kota Mas Respati Ardi,” tuturnya. (*)