Masjid Kayu 70 Tahun Terbengkalai, Menyimpan Jejak Aidit dan Kenangan Marbot
Asmadi Pandapotan Siregar March 10, 2026 10:03 AM

Di sudut Desa Tanjung Batu Itam, Kecamatan Simpang Pesak, Belitung Timur, sebuah bangunan kayu berdiri sunyi di tengah hamparan ilalang yang menguning. Cat kuning yang pernah menghiasi dindingnya kini mengelupas, sementara atap sengnya berlubang dan tak lagi mampu menahan hujan.

BANGUNAN itu adalah Masjid Nurul Hidayah, rumah ibadah yang dahulu menjadi pusat kegiatan masyarakat. Kini, usia yang diperkirakan mencapai sekitar 70 tahun membuatnya semakin rapuh dan nyaris tak terurus.

Lantai masjid tertutup pasir dan kotoran yang terbawa angin dan hujan.

Beberapa kaca jendela telah pecah, sementara kusen kayu tampak keropos dimakan rayap. Bahkan, plakat batu yang dulu menandai nama masjid itu kini tak lagi menyisakan huruf yang bisa dibaca.

Bagi Azharudin (66), atau akrab disapa Udin, bangunan itu bukan sekadar tempat ibadah lama.

Ia pernah menjadi marbot dan saksi hidup masa ketika masjid tersebut masih ramai oleh jemaah.

Duduk di rumahnya, Udin perlahan mengingat kembali sejarah masjid yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Ia mengatakan, masjid itu sudah berdiri bahkan sebelum dirinya lahir. 

“Masjid ini sudah ada sekitar 70 tahun. Waktu saya lahir, bangunannya sudah berdiri,” katanya.

Keunikan Masjid Nurul Hidayah terletak pada arsitekturnya. Bangunan berukuran sekitar 20 x 30 meter itu berdiri tanpa satu pun tiang penyangga di bagian tengah. Struktur yang tidak lazim ini dirancang oleh seorang tukang bernama Marjuhan.

“Arsiteknya memang ingin menguji kekuatan kayu itu,” ujar Udin.

Menurutnya, tanpa kualitas kayu yang sangat baik, bangunan sebesar
itu mustahil dapat bertahan puluhan tahun. 

Kisah Aidit

Namun keunikan arsitektur tersebut kerap kalah oleh cerita yang beredar di luar desa. Banyak orang mengenal bangunan itu sebagai “Masjid Aidit”.

Udin menegaskan sebutan itu tidak tepat.

Ia menjelaskan bahwa masjid tersebut sebenarnya didirikan oleh seorang tokoh masyarakat bernama Haji Muhammad Nur melalui wakaf.

“Bukan tokoh Aidit yang punya, tapi memang Umak dari Ahmad Aidit itu tinggal di sini,” kata Udin.

Ia menceritakan, hubungan dengan nama Aidit muncul karena ibunda Ahmad Aidit, nama asli tokoh yang kemudian dikenal sebagai D.N. Aidit, berasal dari daerah tersebut. 

Perempuan bernama Silan itu pernah tinggal di Tanjung Batu Itam.

Saat situasi politik bergolak pada masa lalu, keluarga Aidit sempat menumpang tinggal di rumah keluarga Udin. Silan kemudian wafat di desa tersebut dan dimakamkan di sekitar kawasan itu.

Menurut Udin, Ahmad Aidit sendiri hanya pernah datang ke desa itu satu kali.

“Waktu itu dia datang untuk sedekah dan baca Yasinan. Saya masih kelas tiga SD,” kenangnya.

Kini kondisi Masjid Nurul Hidayah semakin memprihatinkan. Beberapa bagian lantai kayu mulai rapuh, sementara balok penyangga atap dilaporkan telah keropos.

“Karena tidak bertiang, alangnya sudah mulai rapuh. Sayang sekali, padahal ini sangat bersejarah,” ujar Udin.

Warga desa akhirnya memilih beribadah di masjid baru yang lebih aman. Sejak itu, masjid lama perlahan ditinggalkan.

Meski begitu, bagi Udin bangunan tersebut tidak pernah benar-benar sepi. 

Ia masih mengingat pengalaman ketika hanya beberapa orang datang salat, tetapi suasana di dalam masjid terasa berbeda.

“Kadang terasa seperti ada yang ikut salat di belakang kita,” ujarnya.

Ia bahkan kerap mendengar suara air dari tempat wudu, seolah ada orang yang sedang bersuci.

Namun bagi Udin, hal itu tidak menakutkan. Ia justru merasa kehadiran tersebut seperti ikut menjaga kesucian masjid.

“Mereka tidak ganggu, seolah cuma ingin ikut ibadah juga,” katanya.

Kini Masjid Nurul Hidayah hanya berdiri sunyi di tengah ilalang. Catnya yang pudar dan atap yang bolong menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah rumah ibadah yang pernah menjadi pusat kehidupan spiritual warga desa. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.