Sosok Prof Bisri, Anak Kiai Kampung Jadi Rektor UB hingga Bangun Ponpes Berbasis Sains dan Agama
Arum Puspita March 10, 2026 11:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Sosok Rektor Universitas Brawijaya (UB) periode 2014-2018, Prof Dr KH Mohammad Bisri MS, membagikan perjalanan hidupnya yang menginspirasi. 

Lahir dari keluarga kiai kampung di Mbetek, Kota Malang, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh ini mengenang masa kecilnya yang sederhana, namun disiplin.

Sejak kecil, ia terbiasa menghabiskan siang hari untuk sepak bola dan malam hari untuk mengaji.

Kisah perjuangan hidup sang akademisi sekaligus kiai berpengaruh ini dirangkum dalam program eksklusif "Cerita Para Kiai" yang tayang, Sabtu (28/2/2026). 

Bagaimana Kisah Prof Bisri?

Sejak kecil, kehidupan Prof Bisri tidak lepas dari pendidikan agama dan aktivitas fisik. 

Siang hari ia asyik bermain sepak bola, sementara malam harinya rutin mengaji langsung kepada sang ayah.

"Iya, Mas. Waktu kecil kalau malam pasti ngaji. Itu dari Abah saya. Kalau pagi sekolah, sorenya olahraga."

"Jadi karakter saya terbentuk dari dua itu," ujarnya saat diwawancarai eksklusif dalam program Cerita Para Kiai di Youtube Tribunnews.com, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Anak Kiai Kampung Jadi Rektor UB Malang, Kisah Prof Bisri Bangun Ponpes Berbasis Sains dan Agama

Berawal dari Ketidaksengajaan

Perjalanan akademik Prof Bisri berawal dari buah dari ketidaksengajaan.

Ia sebenarnya bercita-cita masuk jurusan manajemen ekonomi, tetapi gagal karena kalah bersaing dalam seleksi di perguruan tinggi negeri.

Tak menyerah, Prof Bisri kembali mencoba masuk kampus dan memilih jurusan yang relatif sepi peminat, yakni Teknik Pengairan di UB Malang.

Keputusan itu menjadi titik awal karier akademiknya hingga akhirnya meraih gelar profesor, menjadi dekan pada 2013, hingga terpilih sebagai Rektor Universitas Brawijaya (UB) pada 2014.

"Saya ini sebenarnya terpaksa nyalon rektor, tapi akhirnya malah terpilih," katanya sambil tertawa.

Bangun Pondok Pesantren

Di tengah karier akademiknya, Prof Bisri juga terlibat dalam pendirian pondok pesantren yang awalnya hanya berdiri di atas lahan sekitar 500 meter persegi pada tahun 1996.

Saat itu, Prof Bisri diajak oleh temannya untuk membangun Ponpes.

Berangkat atas restu orang tua, akhirnya Prof Bisri mampu mengembangkan Ponpes tersebut.

Pesantren yang kini bernama Bahrul Maghfiroh itu kini berkembang dan memiliki luas lahan hampir 4 hektare.

"Singkat cerita pada saat itu saya fokus di bidang akademik dan juga menjadi rektor, Ponpes kemudian dikelola oleh adik saya Gus Lukman."

"Saat itu saya memilih untuk tidak ikut campur agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan."

"Karena fokus saya masih di bidang akademik di kampus," ungkap Prof Bisri yang kini telah menginjak usia 68 tahun itu.

Namun, titik balik terjadi pada 2017, saat sang adik wafat.

Sebulan sebelum meninggal, adiknya sempat mengajak Bisri berkeliling pesantren, sebuah momen yang kemudian ia anggap sebagai pesan terakhir untuk melanjutkan perjuangan.

"Akhirnya pengurus meminta saya melanjutkan. Saya pikir ini amanah dan harus kembali lagi mengelola pondok pesantren ini," ujarnya.

Saat mulai mengasuh, Prof Bisri melihat pola lama pesantren yang menurutnya perlu diperbaiki.

Ia menolak stigma bahwa pesantren adalah tempat penitipan anak nakal.

"Pondok itu tempat mencari ilmu agama dan mengamalkannya, bukan tempat anak-anak nakal," tegasnya.

Ia kemudian menerapkan sistem seleksi santri dan mengubah arah pendidikan pesantren menjadi lebih terstruktur.

Gebrakan Prof Bisri

Salah satu gebrakan terbesar Prof Bisri adalah menggabungkan pendidikan agama (din) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (sains).

Menurutnya, keberhasilan dunia dan akhirat harus ditempuh dengan dua jenis ilmu tersebut secara bersamaan.

Konsep itu diwujudkan dalam berbagai program, mulai dari kewirausahaan santri, pelatihan kerja, hingga pengembangan unit usaha seperti peternakan, budidaya, hingga produksi.

Tak hanya itu, pesantren juga dilengkapi laboratorium digital dan Artificial Intelligence (AI), serta studio multimedia kreatif untuk menunjang keterampilan santri di era modern.

"Kalau hanya ilmu agama, dunia bisa tertinggal. Kalau hanya ilmu dunia, akhirat bisa terlantar. Jadi harus berjalan beriringan," pesannya.

Meski banyak yang menyebut konsepnya sebagai pesantren modern, Prof Bisri menolak label tersebut.

Ia menilai, Islam sejatinya adalah ajaran yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Ia menekankan bahwa Islam harus hadir dalam semua aspek kehidupan, mulai dari teknologi, bisnis, hingga budaya.

"Islam itu bukan modern atau tidak. Islam itu harus menang di segala zaman," ujarnya.

Pendidikan Berbasis Internasional

Ke depan, Prof Bisri juga berencana mengembangkan pendidikan berbasis internasional dengan standar Cambridge, termasuk penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran.

Langkah ini menjadi bagian dari visinya mencetak santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu bersaing secara global.

Di akhir wawancara, Prof Bisri berpesan agar santri tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu dunia.

Menurutnya, umat Islam harus berada di garis depan dalam memimpin peradaban.

"Belajarlah dua-duanya (ilmu agama dan ilmu dunia)."

"Supaya kita bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Islam harus memimpin, bukan tertinggal," tandasnya.

Sosok Prof Bisri

Prof Muhammad Bisri lahir pada 26 November 1958.

Ia merupakan Rektor UB ke-12 periode 2014-2018.

Selain itu, ia dikenal sebagai Guru Besar Teknik Pengairan pertama di Indonesia.

Pria asli Malang ini sebelum menjadi rektor dikenal sebagai praktisi dan akademisi di bidang pengelolaan air.

Ia merupakan inisiator dari GERAI atau gerakan menabung air melalui pemetaan wilayah rawan banjir, dan pembuatan sumur injeksi di wilayah Malang Raya.

Program tersebut kemudian dielevasi melalui berbagai kebijakan pemerintah, khususnya oleh Pemprov DKI Jakarta

Pendidikan Prof Bisri

  • S3 Ilmu Pertanian (minat sumber daya air), Fakultas Pertanian, UB.
  • S2 Konstruksi Bangunan Air, Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • S1 Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, UB

Karier Prof Bisri

  • Dekan FT UB (2013 – 2014)
  • Ketua Pusat Jaminan Mutu UB (2012 – 2013)
  • Sekretaris Pusat Jaminan Mutu UB (2011 – 2012)
  • Ketua Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik UB (1999 – 2002)
  • Sekretaris Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik UB (1992 – 1996)
  • Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Cabang Malang (1990 – 2010)

(SURYAMALANG.COM Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah)

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.