TRIBUNJATIM.COM- Situasi perang di kawasa Asia Barat terus memanas.
Bahkan, kini Iran mengancam akan mengirimkan rudal terberatnya, dan ogah damai dengan Israel dan Amerika Serikat.
Dilansir dari Tribunnews, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan Iran bersikeras untuk tidak kembali ke meja perundingan atau berdamai dengan Amerika Serikat (AS)-Israel setelah terjadi peperangan.
AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang memicu ledakan di Ibu Kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan.
Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.
Bahkan, dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Atas serangan AS, kini Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi. Setidaknya dua orang tewas di Israel.
Oleh karena itu, Iran menegaskan telah menutup pintu damai, kecuali mereka menerima jaminan bahwa serangan seperti saat ini tidak akan terjadi lagi ke depannya.
Baca juga: Balas Gugurnya Ratusan Pelajar, Iran Bakal Bikin Israel Jadi Ayam Sayur dengan Rudal Khorramshahr-4
"Agresi seperti yang kita saksikan sekarang dan seperti yang kita saksikan pada bulan Juni tidak akan terjadi lagi," kata Kazem, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026).
"Jadi, ini adalah syarat utama bagi Iran, dan komentarnya tidak menunjukkan kesediaan Iran untuk kembali ke meja perundingan," tambahnya.
Selain itu, Kazem juga membenarkan bahwa China, Prancis, dan Rusia telah menghubungi pihaknya terkait gencatan senjata, meskipun ia tidak memberikan rincian tentang proposal spesifik tersebut.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diketahui telah mengintensifkan serangan balasannya, meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai gelombang ke-33 dari Operasi Promise 4.
Mereka telah mengumumkan bahwa ke depannya, mereka hanya akan menggunakan rudal terberatnya, yang beratnya satu ton atau lebih, terhadap Israel dan target lainnya.
Sebelumnya, Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, beberapa waktu lalu telah menyatakan bahwa Iran siap berperang dalam jangka waktu lama dengan AS-Israel.
Naeini pun mengatakan Iran sepenuhnya siap untuk "perang berkepanjangan" dan siap untuk memperkenalkan persenjataan canggih yang belum pernah digunakan dalam konflik tersebut.
Dia juga menegaskan bahwa musuh-musuh Iran “harus mengharapkan pukulan yang menyakitkan” dalam gelombang serangan baru yang akan datang.
"Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan. Teknologi-teknologi ini belum diterapkan secara luas," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).
Naeini juga mengatakan bahwa Iran kini lebih siap dibandingkan perang 12 hari tahun lalu yang dilancarkan oleh AS dan Israel.
Dia bahkan menggambarkan konfrontasi militer yang sedang berlangsung sebagai "perang suci dan sah".
Sementara Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, sebelumnya juga mengatakan negaranya menutup pintu damai atas serangan yang dilakukan AS maupun Israel.
Atas dasar itu, Boroujerdi memastikan Iran akan membereskan AS dan Israel di lapangan perang.
“Kali ini Iran akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” kata Boroujerdi dalam acara doa bersama dan penandatanganan petisi Solidaritas Kemanusiaan di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026), dikutip dari Kompas TV.
Boroujerdi menjelaskan, keputusan Iran untuk menyelesaikan konflik dengan AS dan Israel di lapangan perang karena sudah tidak percaya dengan negara tersebut.
Sebab dalam tiga kali negosiasi yang dilakukan Iran terhadap negara barat itu, serangan tetap dilakukan.
“Iran sudah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya iran tetap diserang,” ucap Boroujerdi.
Boroujerdi juga sempat dikonfirmasi perihal Presiden Prabowo Subianto yang siap menjadi mediator perdamaian bagi Iran dan AS-Israel.
Dia mengungkapkan Iran tidak ingin ada negosiasi dalam bentuk apapun dengan pihak AS maupun Israel, karena Iran sudah tidak percaya lagi dengan AS dan Israel, serta menganggapnya musuh.
Trump Bahas Keputusan Akhiri Perang Bersama Netanyahu
Sementara itu, Trump menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang AS–Israel melawan Iran akan diambil bersama dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Dalam wawancara dengan media Israel dan Amerika, Trump menyebut ia terus berkonsultasi dengan Netanyahu, sekaligus mengisyaratkan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru akan membutuhkan persetujuan Amerika agar dapat bertahan.
Trump mengungkapkan bahwa setiap keputusan untuk mengakhiri kampanye militer AS–Israel terhadap Iran akan dilakukan melalui koordinasi dengan Netanyahu.
alam wawancara telepon dengan The Times of Israel, Trump menjawab “ya” ketika ditanya apakah Netanyahu memiliki peran dalam keputusan mengakhiri perang.
“Saya pikir itu keputusan bersama… sedikit banyak. Kami sudah berbicara. Saya akan membuat keputusan pada waktu yang tepat, tetapi semuanya akan dipertimbangkan,” kata Trump pada Minggu (8/3/2026).
Ketika ditanya mengenai kemungkinan Israel melanjutkan serangan setelah Amerika Serikat menghentikan operasinya, Trump menepis skenario tersebut dengan mengatakan, “Saya tidak pikir itu akan diperlukan.”
Pernyataan itu muncul ketika perkiraan awal Gedung Putih bahwa konflik akan berlangsung empat hingga enam minggu mulai dipertanyakan.