Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Survei Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik pada Lebaran 2026 turun menjadi 143,9 juta orang atau sekitar 50,6 persen dari total populasi Indonesia.
Angka ini turun sekitar 1,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Akademisi sekaligus pengamat transportasi dari Institut Teknologi Sumatera (Itera) M Abi Berkah Nadi, menilai, penurunan potensi pemudik tersebut tidak lepas dari sejumlah faktor, terutama kondisi ekonomi masyarakat.
Menurutnya, turunnya prediksi pemudik tahun ini kemungkinan dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang menurun serta biaya transportasi yang relatif tinggi.
“Kalau melihat tren penurunan prediksi mudik tahun ini, kemungkinan dipengaruhi beberapa faktor seperti pelemahan ekonomi, daya beli masyarakat yang menurun, serta biaya transportasi yang tinggi,” kata Abi, Selasa (10/3/2026).
Abi juga menyoroti kebijakan subsidi transportasi dari pemerintah yang perlu tepat sasaran.
Jika tidak dikelola dengan baik, hal itu berpotensi memunculkan polemik di masyarakat.
“Yang dikhawatirkan adalah munculnya praktik calo tiket travel. Saat tiket habis, kemudian dijual kembali dengan harga tinggi karena kebutuhan masyarakat yang mendesak,” katanya.
Menurut Abi, faktor ekonomi menjadi penyebab utama turunnya potensi pemudik tahun ini.
Banyak perantau yang harus menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang tidak sebanding.
“Bagi perantau yang mencari nafkah di kota besar, ketika penghasilan tidak sebanding dengan pengeluaran, maka keinginan untuk mudik juga bisa berkurang,” jelasnya.
Selain itu, harga tiket travel yang melonjak saat musim mudik juga menjadi sorotan.
Ia menilai pengawasan terhadap praktik penjualan tiket perlu diperketat agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan besar.
Jalinsum Padat
Berdasarkan survei Kemenhub, lima provinsi asal pemudik terbanyak berasal dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.
Abi menilai kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak pada kepadatan arus kendaraan menuju Pulau Sumatera, termasuk di wilayah Lampung yang menjadi pintu gerbang utama menuju Pulau Sumatera.
Ia menjelaskan jalur lintas nasional di Sumatera hampir setiap tahun mengalami peningkatan volume kendaraan saat momen mudik dan libur Lebaran.
“Kita tahu banyak warga Sumatera bekerja di Pulau Jawa. Saat Lebaran mereka pulang kampung sehingga jalur lintas nasional pasti dipadati kendaraan,” katanya.
Karena itu, menurutnya rekayasa lalu lintas perlu disiapkan sejak dini untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.
Ia memprediksi jalur utama di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) masih akan menjadi titik kemacetan, terutama di jalur menuju kawasan wisata saat libur Lebaran.
“Biasanya titik kemacetan terparah bukan hanya saat mudik, tetapi juga saat libur Lebaran ketika masyarakat menuju destinasi wisata,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, Abi menilai kondisi Jalan Tol Trans Sumatera relatif aman untuk dilalui pemudik karena sebagian besar menggunakan konstruksi beton.
Namun, kondisi berbeda ditemukan pada jalur lintas nasional maupun jalan alternatif yang masih menggunakan aspal.
Menurutnya, saat musim hujan genangan air sering muncul dan dapat merusak permukaan jalan sehingga berpotensi membahayakan pengendara.
“Jalur lintas nasional maupun jalan kabupaten harus menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah, terutama untuk perbaikan menjelang arus mudik,” katanya.
Ia juga menilai pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir memang telah membantu mengurangi potensi kemacetan, tetapi masih perlu dioptimalkan.
Salah satu titik yang dinilai perlu kajian pelebaran jalan adalah jalur lintas nasional menuju Kabupaten Pringsewu yang berpotensi mengalami peningkatan volume kendaraan saat mudik.
Transportasi Cukup
Dari sisi transportasi umum, Abi menilai pemerintah pusat cukup sigap dalam menyiapkan moda transportasi seperti kereta api, bus, kapal laut, dan pesawat.
Penambahan armada serta subsidi tarif dinilai menjadi langkah penting untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi selama mudik.
“Pemerintah cukup sigap meningkatkan layanan transportasi umum dengan menambah armada serta memberikan subsidi tarif,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kapasitas transportasi publik sebenarnya sudah cukup, tetapi perlu perhatian khusus pada jalur penyeberangan pelabuhan.
Menurutnya, penambahan dermaga di pelabuhan diperlukan agar kapal tidak mengalami waktu tunggu terlalu lama saat bersandar.
Terkait rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah (one way), contraflow, hingga ganjil-genap, Abi menilai kebijakan tersebut cukup efektif untuk mengurai kemacetan.
Kebijakan tersebut bahkan telah diadopsi dari berbagai negara untuk mengatasi peningkatan volume kendaraan pada periode tertentu.
Namun, pelaksanaannya harus disertai koordinasi yang baik agar tetap aman dan nyaman bagi para pengguna jalan.
Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi jalur alternatif secara cepat dan real time kepada masyarakat.
“Pemerintah harus aktif memberikan informasi jalur alternatif melalui media maupun media sosial agar masyarakat bisa menghindari titik kemacetan,” ujarnya.
Faktor Keselamatan
Abi juga mengingatkan pentingnya faktor keselamatan selama arus mudik, terutama pada kendaraan umum seperti bus.
Menurutnya, pemerintah melalui Dinas Perhubungan perlu melakukan ramp check secara rutin untuk memastikan kelayakan kendaraan.
Pemeriksaan tersebut meliputi sistem pengereman, kondisi ban, lampu kendaraan, dokumen seperti STNK dan KIR, hingga perlengkapan darurat.
Selain itu, titik rawan kecelakaan atau blank spot juga perlu dilengkapi pos pengawasan untuk meningkatkan keamanan perjalanan.
Bagi pemudik yang menggunakan sepeda motor, ia menyarankan agar perjalanan dilakukan maksimal dua orang dan tidak membawa barang berlebihan.
“Jika membawa keluarga dan anak, sebaiknya menggunakan transportasi umum agar perjalanan lebih aman dan nyaman,” katanya.
Abi berharap pemerintah terus memberikan informasi lalu lintas secara cepat dan akurat selama periode mudik Lebaran.
Sementara bagi masyarakat, ia mengimbau agar selalu memperhatikan kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan jauh.
“Pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit agar perjalanan mudik bisa aman dan selamat sampai tujuan,” pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)