POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Pemkab Belitung Timur (Beltim) akan mendistribusikan sebanyak 18,7 ton daging beku kepada masyarakat sekitar 9-13 Maret 2026.
Meskipun per hari ini, stok daging beku belum didistribusikan ke pasar-pasar. Namun pemerintah memastikan koordinasi dengan Bulog dan distributor terus dimatangkan agar saat dilepas nanti harganya sesuai dengan yang mereka tetapkan, yaitu Rp120 ribu.
Harga daging beku kelak memiliki selisih harga dibanding daging segar, mencapai Rp40 ribu per kilogram.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Belitung Timur (Beltim), Heru Indramarta membeberkan alasan pengadaan daging beku ini lantaran produksi dari peternakan lokal sedikit.
Untuk memenuhi kebutuhan daging segar di hari raya, Heru mengatakan Pemkab masih harus sangat bergantung pada pasokan sapi hidup dari luar pulau, satu di antaranya dari Pulau Bangka.
"Pasokan sapinya relatif rendah. Populasi sapi di masyarakat belum mampu memenuhi kebutuhan daging dari dalam sendiri, makanya kita datangkan dari luar, seperti Bangka," ucapnya.
Ketergantungan ini membuat harga daging segar di pasar Manggar menjadi tinggi.
Biaya angkut sapi hidup dari luar pulau membuat harga daging di tingkat pedagang sulit untuk menyentuh angka yang bersahabat.
Selama populasi sapi lokal belum mampu bersaing, dikatakannya daging beku akan terus menjadi alternatif bagi masyarakat menjelang Lebaran.
Menurut Heru bahwa lambat laun masyarakat mulai terbiasa. Sebab, setiap kali ada bazar murah atau operasi pasar, stok daging beku selalu ludes tanpa sisa karena harganya yang ekonomis.
"Minat itu sudah tumbuh karena kebutuhan. Masyarakat kita sekarang sudah mulai realistis dalam melihat pilihan di pasar," ujarnya.
Meski menjadi alternatif yang sebenarnya sangat baik, Heru berharap kondisi ini menjadi pecutan bagi sektor peternakan di Belitung Timur untuk segera berbenah dan meningkatkan populasi sapi.
Heru mengatakan tingginya minat warga terhadap daging beku adalah bukti bahwa pasar daging di Belitung Timur besar, namun belum bisa ditangkap secara maksimal oleh peternak lokal.
"Kita harapkan peternak lokal kita makin banyak, sehingga kedepan kita tidak perlu lagi terlalu bergantung pada daging impor atau sapi dari luar pulau," ucapnya.
Adapun Pemkab Beltim menjamin pasokan 18,7 ton tersebut akan cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.
Heru mengonfirmasi bahwa daging beku tersebut memang belum didistribusikan ke masyarakat Belitung Timur.
Pasokan ini dijadwalkan baru akan dilepas ke masyarakat saat momen puncak menjelang Idul Fitri tiba.
"Kalau sekarang kondisinya memang belum ada, belum kita distribusikan. Nanti pada saatnya nanti, baru akan kita datangkan dan sebar ke masyarakat," ujar Heru
"Pesan saya kepada warga, silakan manfaatkan daging beku sebagai alternatif yang sehat dan ekonomis. Tetap tenang karena stok kami pastikan aman dan segera kami distribusikan ke Kecamatan masing-masing dalam waktu dekat," tambahnya.
Masih terdapat pertanyaan yang terus-menerus muncul setiap tahun. Hal itu mengenai jaminan kualitas daging beku di balik harganya yang miring.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Belitung Timur, Heru Indramarta angkat bicara mengenai standar kualitas daging beku yang akan didistribusikan melalui kerja sama dengan Bulog.
Heru mengatakan daging beku yang didatangkan dari Australia, Selandia Baru hingga Brazil ini melalui proses seleksi yang ketat sebelum sampai ke konsumen.
Pemerintah memastikan saat daging sampai ke tangan warga, kondisinya masih dalam keadaan segar dan rantai dinginnya (cold chain) tidak terganggu oleh penyimpanan yang terlalu lama di tingkat pengecer.
Heru menjelaskan lapis pertama pengawasan dilakukan oleh Badan Karantina Nasional sejak daging tersebut masuk ke pintu importir di Jakarta.
Di sana aspek kesehatan para veteriner hingga kehalalannya sudah dicek total.
Dinas Pertanian dan Pangan Beltim akan tetap melakukan pemantauan ulang saat pasokan tiba nanti.
"Kita harus melihat lagi kondisi fisiknya. Dalam proses pengiriman dari Jakarta ke daerah tujuan, bisa saja terjadi ketidaksesuaian SOP, itu yang kita jaga," ucap Heru.
Satu di antara kunci utama kualitas daging beku adalah konsistensi suhu. Heru menjelaskan bahwa suhu penyimpanan harus stabil untuk menjaga nutrisi di dalam daging tetap utuh dan tidak rusak.
"Kita cek suhunya. Jangan sampai dagingnya sudah sempat mencair atau lembek, kemudian dibekukan lagi. Itu jelas akan merusak kualitas dan teksturnya," ungkapnya.
Aspek kehalalan juga menjadi perhatian utama pemerintah kabupaten mengingat mayoritas konsumen adalah umat muslim yang sangat memperhatikan syariat dalam mengonsumsi daging.
"Dokumen-dokumen kehalalan itu mutlak. Kita pastikan daging impor ini aman secara medis dan juga halal secara syariat," ujar Heru.
Heru juga mematahkan mitos mengenai daging beku kurang bergizi dibandingkan daging segar.
Ia mengatakan selama proses pembekuan dilakukan dengan benar sejak di rumah potong asal, nutrisinya tetap terjaga.
"Dari sisi nutrisi, daging beku ini tidak kalah dengan daging segar. Yang penting masyarakat tahu cara menanganinya setelah dibeli nanti," ucapnya.
Heru membagikan tips kepada para ibu rumah tangga agar memastikan daging masih dalam kondisi beku sempurna saat dibeli di pasar atau toko ritel. Hindari memilih daging yang kemasannya sudah rusak.
"Jangan pilih yang sudah lembek di dalam freezer. Itu tandanya suhunya sudah berubah dan kualitasnya sudah mulai menurun," ungkapnya.
Pemerintah ingin memastikan warga tidak hanya mendapatkan pilihan harga yang murah, tetapi juga mendapatkan asupan protein yang sehat bagi keluarga di hari kemenangan nanti.
Pengawasan ini juga mencakup pengecekan tanggal kedaluwarsa pada kemasan daging beku impor tersebut guna menjamin keamanan jangka panjang bagi warga lokal.
Dengan jaminan keamanan dan kualitas ini, diharapkan keraguan masyarakat terhadap daging beku perlahan memudar dan menjadikannya alternatif konsumsi yang lazim.
"Intinya, pemerintah hadir untuk menjamin apa yang dimakan warga itu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Tunggu saja saat distribusinya nanti," tutup Heru.
Pedagang daging segar, Abdurrohman (30) berdiri tegak di balik mejanya di Pasar Manggar, Belitung Timur, Selasa (10/3/2026) pagi.
Di antara lapak, dia terlihat sibuk melayani pembeli.
Bongkahan daging merah cerah yang digantung menjadi bukti, betapa segarnya daging sapi yang Abdurrohman jual pagi itu.
Di usianya sekarang, Abdurrohman sudah memahami seluk beluk kebutuhan warga Manggar menjelang Idul Fitri. Menjual daging segar sudah menjadi fokusnya selama beberapa tahun belakangan.
"Daging segar ada. Kita memang fokusnya di daging sapi segar," ujarnya.
Di tengah gempuran stok daging beku, Abdurrohman memilih jalan yang berbeda.
Ia tetap menggantungkan nasibnya pada pasokan daging segar yang didatangkan khusus dari supplier di Tanjungpandan.
"Kalau sapi hidupnya kita tunggu dari supplier, ada dari Tanjung. Itu yang kita potong dan jual segar di sini," ucapnya.
Menurutnya, masyarakat menengah ke bawah mulai melirik daging beku karena harganya yang lebih ekonomis.
Per hari ini saja, Abdurrohman harus menjual daging segar di kisaran harga Rp165 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram.
Harga tersebut terpaut selisih jika mengacu pada harga daging beku berdasarkan informasi Pemkab, yakni seharga Rp120 ribu.
Selisih bagi sebagian warga sangat berarti untuk menekan pengeluaran menjelang lebaran.
"Kalau disebut berdampak, ya berdampak terutama untuk pembeli kelas menengah ke bawah. Karena daging beku itu bisa menekan harga, ada pilihan lebih ekonomis di sana," ungkap Abdurrohman.
Meski begitu, Abdurrohman tidak merasa terancam. Ia percaya bahwa daging segar memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Abdurrohman mengibaratkan pilihan antara daging segar dan beku layaknya selera orang saat meminum kopi atau teh. Masing-masing memiliki penikmatnya sendiri yang tak bisa dipaksakan.
"Orang itu ada selera masing-masing. Ada yang suka kopi, ada yang suka teh. Yang pengin barang bagus, yang segar, ya pilih yang ini meskipun harganya memang mahal," ujarnya.
Abdurrohman juga mengatakan kualitas daging segar tahun ini masih tetap stabil dan bagus. Ia memastikan proses dari pemotongan hingga sampai ke meja betonnya mengikuti standar yang ketat untuk menjaga kesegaran.
Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, Abdurrohman sudah memasang ancang-ancang stok yang lumayan besar. Ia memproyeksikan bakal menghabiskan sekitar setengah ton atau 500 kilogram daging sapi segar hingga hari lebaran nanti.
Angka 500 kilogram ini merupakan jumlah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Abdurrohman optimis, meski daging beku membanjiri pasar, stok daging segarnya akan tetap habis diburu pelanggan setianya.
"Stok ya paling cuma setengah ton, 500 kilo. Sama saja sih dengan tahun kemarin dan biasanya habis," ucapnya.
Di balik kesibukannya melayani pembeli, Abdurrohman menyimpan sebuah harapan. Ia berharap suatu saat populasi sapi di Belitung Timur bisa melimpah ruah.
Abdurrohman berharap pasar tidak perlu lagi bergantung pada kiriman daging beku atau bahkan sapi potong dari luar daerah. Baginya, kemandirian peternak lokal adalah kunci agar harga daging segar bisa lebih bersahabat.
"Semoga sapi cepat banyak di Belitung nih biar enggak perlu ngirim daging beku lagi. Biar semuanya kembali ke daging segar," ungkapnya.
Kini, di tengah hiruk pikuk Pasar Manggar Abdurrohman mengasah pisaunya. Ia tetap menjadi pelayan bagi warga yang mencari kualitas daging terbaik darinya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)