Warga Tana Tidung Akui  Harga MinyaKita Mahal Rp22 Ribu, Harusnya Sesuai HET Hanya Rp15.700
Junisah March 10, 2026 06:47 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Harga minyak goreng bersubsidi MinyaKita yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi ( HET ) di Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara ( Kaltara ) mendapat sorotan dari masyarakat.

Sebelumnya, sejumlah pedagang menyebut harga MinyaKita di tingkat pengecer bisa mencapai sekitar Rp22 ribu per liter. 

Padahal HET yang tercantum pada kemasan minyak goreng subsidi tersebut Rp 15.700 per liter.

Tingginya MinyaKita yang dipasarkan di Kabupaten Tana Tidung lantaran para pengecer telah membeli minyak subsidi tersebut dengan harga yang melebihi HET dengan modal Rp 18 ribu per liternya.

Baca juga: Pedagang di Tana Tidung Terpaksa Jual MinyaKita Harga Rp22 Ribu, Ambil dari Agen Rp 18 Ribu

Sehingga dengan terpaksa para pengecer harus menjual MinyaKita di harga Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu agar mendapatkan untung meskipun tidak besar.

Nia, warga Kabupaten Tana Tidung, menilai harga tersebut tidak lagi sesuai dengan tujuan awal program subsidi dari pemerintah.

“Sebetulnya tidak sesuai ya karena harga segitu termasuk mahal. Setahu saya HET MinyaKita itu kurang lebih Rp16 ribu, tapi ternyata dijual sampai Rp20 ribu bahkan ada yang di atas itu,” ujarnya.

Ia berharap harga MinyaKita di pasaran dapat dijual mendekati HET sehingga benar-benar membantu masyarakat, terutama untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

“Kalau misalnya HET Rp16 ribu ya paling tidak dijual Rp18 ribu lah supaya kita benar-benar terbantu. Kalau dijual mahal ya namanya bukan subsidi lagi,” katanya.

Baca juga: Kapolres Tana Tidung Perintahkan Jajaran Selidiki Lonjakan Harga MinyaKita yang Dijual Rp20.000

Nia juga mengakui bahwa harga kebutuhan pokok di Kabupaten Tana Tidung memang cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

Meski demikian, menurutnya selisih harga Minyakita di pasaran saat ini masih tergolong terlalu jauh dari HET yang ditetapkan pemerintah.

Sementara itu, warga lainnya, Erni, menyoroti kualitas MinyaKita yang menurutnya berbeda dibandingkan minyak goreng merek lain di pasaran.

Ia menilai MinyaKita lebih cepat berubah warna saat digunakan untuk menggoreng serta terasa lebih cepat habis dalam pemakaian sehari-hari.

“Kalau MinyaKita itu setelah dipakai menggoreng warnanya cepat hitam, terus juga cepat menyusut di penggorengan,” ujarnya.

Erni mencontohkan salah satu minyak goreng merek lain seperti Bimoli yang menurutnya lebih tahan digunakan berulang kali.

“Kalau merek lain seperti Bimoli biarpun dipakai berulang-ulang warnanya tidak cepat hitam. Walaupun dipakai dengan takaran yang sama, MinyaKita ini cepat habis jadi lebih hemat yang merek lain,” jelasnya.

HARGA MELEBIHI HET - MinyaKita tersedia di salah satu toko pengecer di Jalan Jenderal Sudirman, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, gambar diambil Rabu (4/2/2026). Harga MinyaKita di KTT dijual melebihi HET Rp 15.700. (
HARGA MELEBIHI HET - MinyaKita tersedia di salah satu toko pengecer di Jalan Jenderal Sudirman, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, gambar diambil Rabu (4/2/2026). Harga MinyaKita di KTT dijual melebihi HET Rp 15.700. ( (TribunKaltara.com/Rismayanti)

Ia menambahkan, selisih harga antara MinyaKita dan minyak goreng merek lain di pasaran saat ini tidak terlalu jauh.

Menurutnya, minyak goreng merek lain dijual sekitar Rp24 ribu per liter, sedangkan MinyaKita sekitar Rp22 ribu per liter.

“Bisa dibilang kualitasnya bagus harganya sekitar Rp24 ribu seliter. Kalau MinyaKita harganya Rp22 ribu tapi kualitasnya berbeda,” katanya.

Karena alasan tersebut, Erni mengaku kini lebih sering menggunakan minyak goreng merek lain untuk kebutuhan memasak di rumah.

(*)

Penulis : Rismayanti

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.