Menu MBG Lele Mentah Ditolak SMAN 2 Pamekasan Disebut Amis hingga Bergerak, SPPG Jelaskan Nilai Gizi
Pipit Maulidya March 10, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id - Paket menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa lele mentah menjadi viral di media sosial usai ditolak oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Pamekasan, Jawa Timur.

Pihak sekolah beralasan bahwa mendapati sejumlah lele mentah sudah berbau, bahkan ada yang masih bergerak di dalam kotak plastik.

Lele mentah itu bercampur dengan potongan tahu dan tempe yang sudah dimarinasi.

Video penolakan menu MBG oleh Kepala Sekolah  SMAN 2 Pamekasan menjadi sorotan.

Lele Mentah Sudah Berbau

Peristiwa ini terjadi pada Senin (9/3/2026).

Kepala Sekolah SMAN 2 Pamekasan, Moh Arifin mengatakan, menu MBG sengaja ditolak oleh pihak sekolah karena kondisinya yang tak layak dikonsumsi siswa.

"Ada dua iris tempe dan tahu. Ikan lelenya amis, mentah bahkan ada yang masih hidup dan bergerak di dalam kotak plastik," kata Arifin.

Alhasil sebanyak 1.022 porsi menu MBG yang disalurkan ditolak dan dikembalikan keSatuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Paket MBG yang ditolak itu  SMAN 2 Pamekasan itu sebenarnya jatah siswa selama tiga hari yaitu Senin, Selasa, hingga hari Rabu.

Pihak sekolah memutuskan untuk mengembalikan menu MBG karena khawatir berbahaya bagi para siswa.

Selain itu, menu MBG berpotensi mencemari lingkungan sekolah karena tidak dibawa pulang oleh siswa.

"Baunya sangat amis. Siswa pun tidak ingin menerimanya," Tambah Arifin.

Agar kejadian serupa tidak terulang, Moh. Arifin telah menghubungi pihak SPPG terkait agar dilakukan perbaikan.

Klarifikasi SPPG

SPPG As-Salman Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan memberikan klarifikasi terkait menu MBG lele mentah untuk siswa SMAN 2 Pamekasan.

Ahli Gizi SPPG As-Salman, Fikri Mutawakkil menyampaikan maaf dan berjanji akan melakukan evaluasi dalam pemberian menu MBG selanjutnya.

"Kami meminta maaf. Dengan adanya penolakan ini, kami akan terus mengevaluasi diri dan terus memperbaiki," kata dia.

Fikri menjelaskan, menu lele mentah yang sudah dimarinasi sengaja diberikan langsung ke siswa untuk menjaga gizi.

Menurutnya, lele marinasi mentah gizinya lebih banyak dibanding lele yang telah dimasak dua kali, mengingat ini MBG untuk tiga hari sekaligus.

"Lele marinasi itu tahan satu hari. Kami sudah lakukan uji coba di dapur," kata dia.

Fikri menegasan bahwa dirinya sudah melakukan pengecekan, sehingga ia yakin tidak ada satu lele pun yang masih hidup.

"Saya sudah cek juga ke peternak lelenya," kat Fikri meyakinkan.

Baca juga: Menkeu Purbaya Buka Peluang Efisiensi MBG di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia: Yang Makanan Tidak

BGN Angkat Suara

MEMBERI PENJELASAN - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang memberi penjelasan setelah menemui para pemangku Makan Bergizi Gratis (MBG) wilayah Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, di Hotel Lojikka Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (10/1/2026). Dalam kesempatan ini Nanik mengaku akan membekukan dapur yang belum mendaftar pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), setelah memberi waktu selama 1 bulan.
MEMBERI PENJELASAN - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang memberi penjelasan setelah menemui para pemangku Makan Bergizi Gratis (MBG) wilayah Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, di Hotel Lojikka Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (10/1/2026). (Surya.co.id/David Yohanes)

Viralnya video yang menampilkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa lele mentah di Pamekasan, Jawa Timur, mendapat tanggapan dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang memberikan penjelasan bahwa potongan video yang beredar di media sosial hanya memperlihatkan sebagian isi paket makanan, sehingga memunculkan persepsi yang kurang tepat di masyarakat.

Ia menuturkan, laporan yang diterima BGN dari lapangan menyebutkan bahwa makanan yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya berisi lele saja.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, menu yang disiapkan SPPG sebenarnya lengkap. Namun, dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian menu karena pihak sekolah menolak mengeluarkan paket makanan dari kendaraan distribusi,” kata Nanik di Jakarta, Selasa (10/3) dalam siaran pers yang diterima Kompas.tv.

BGN juga menegaskan bahwa setiap menu dalam program MBG telah dirancang dengan mempertimbangkan keseimbangan nutrisi serta memenuhi standar keamanan pangan yang berlaku.

Lembaga tersebut menyatakan bahwa setiap laporan maupun polemik yang muncul di lapangan akan ditangani melalui koordinasi dan evaluasi guna memastikan pelayanan kepada para penerima manfaat tetap berjalan dengan baik.

“Program MBG menempatkan keamanan pangan dan kualitas gizi sebagai prioritas utama. Kami terus melakukan pemantauan serta evaluasi agar seluruh proses penyiapan hingga distribusi makanan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan,” kata Nanik.

Sementara itu, SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan diketahui melayani sebanyak 3.329 penerima manfaat. Mereka terdiri dari siswa tingkat SMA/SMK/MA, SMP/MTs, PAUD/TK, SLB, tenaga pendidik, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di wilayah tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.