TRIBUNPRIANGAN.COM - Bulan Ramadan telah mencapai 10 hari terakhirnya dengan berbagai penghargaan dan kerjakeras.
Menjelang berakhirnya bulan yang suci ini banyak keutamaannya yang dapat disampaikan dalam ceramah di majelis maupun masjid-masjid.
Banyak orang yang melakukan I'tikaf atau berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah, yang juga merupakan sesuatu yang diteladani dari Nabi Muhammad SAW.
Pasalnya, keutamaan 10 hari terakhir bulan Ramadan sendiri salah satunya adanya malam Lailatul Qadar.
Bagi anda yang tengah mencari naskah dengan tema bersangkutan, berikut tersedia satu naskah singkat terbaik yang bisa jadi penduan pada puasa hari ke 21 Ramadhan 2026 mendatang nanti.
Baca juga: Naskah Kultum Singkat 21 Ramadan 1447/11 Maret 2026: Menyayangi Anak Yatim dan Selalu Bersyukur
Jamaah rahimakumuLlah...
Sebagai umat Islam yang gembira menyambut kedatangan bulan suci ini dan mengisi waktu dengan serangkaian amalan, kita berharap dapat memanfaatkan momen yang berharga ini sebaik mungkin.
Rasulullah SAW juga mengutamakan ibadah pada 10 hari terakhir ini. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah,
كَانَ رَسُوْلُ اللهً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ
Artinya: "Pada malam sepuluh terakhir, Rasulullah SAW (lebih) bersungguh-sungguh (untuk beribadah), melebihi keunggulan pada malam yang lain." (HR Muslim).
Berikut beberapa ibadah yang dianjurkan oleh Rasul sebelum Ramadhan pergi meninggalkan kita:
Baca juga: Teks Kultum Salat Subuh 20 Ramadan 1447 H/Selasa 10 Maret 2026: Hindari Diperbudak Hawa Nafsu
- Giat qiyamullail
Amalan ibadah yang sangat ditekankan selama sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah meningkatkan intensitas ibadah di malam hari. Ini berarti, setiap malam selama bulan suci ini, kita disarankan untuk melakukan ibadah, tetapi saat memasuki sepuluh hari terakhir, kita diminta untuk lebih tekun dan bersemangat. Diriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya: "Dari Aisyah RA, dia berkata, pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan), nabi SAW biasa mengkombinasikan antara sholat, puasa dan tidurnya. Namun jika sudah memasuki 10 hari terakhir beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya)." (HR Ahmad).
- Mengajak orang lain qiyamullail
Keutamaan melakukan qiyamullail bukan hanya tentang meningkatkan intensitas ibadah kita sendiri, tetapi juga mengajak orang lain untuk bersama-sama menghidupkan malam dalam 10 hari terakhir Ramadhan. Dalam lingkup keluarga, suami dapat membangunkan istrinya, sementara dalam skala yang lebih luas, seorang ustadz atau kiai dapat menggerakkan jamaahnya untuk bersama-sama merayakan malam yang mulia ini. Dasar dari anjuran ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Artinya: "Jika telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadhan) nabi mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah) dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah)." (HR Bukhari dan Muslim).
- Memperbanyak I'tikaf
I'tikaf merupakan salah satu ibadah yang disarankan pada saat ini. Praktiknya adalah dengan tinggal di dalam masjid dan mengisi waktu dengan beribadah seperti sholat sunnah, berdzikir, membaca Al-Quran, dan kegiatan lainnya. Praktek ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah sebagai berikut,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ
Artinya: "Dari Aisyah RA dia berkata sesungguhnya Nabi SAW beri'tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat." (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Naskah Kultum Singkat 18 Ramadan 1447/2026: Ciri-Ciri orang Mu’min
- Membersihkan badan
Salah satu anjuran sebelum melakukan ibadah adalah menjaga kebersihan tubuh dan menggunakan wewangian. Hal yang sama berlaku saat memasuki malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan. Dengan tubuh yang bersih dan harum, kita akan merasa lebih semangat dan fokus dalam ibadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah disebutkan,
كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ قَامَ وَنَامَ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَاجْتَنَبَ النِّسَاءَ وَاغْتَسَلَ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ وَجَعَلَ الْعِشَاءَ سَحُوْرًا
Artinya: "Ketika memasuki bulan Ramadhan Rasulullah bangun malam (untuk beribadah) dan juga menggunakannya untuk tidur. Begitu masuk sepuluh hari terakhir beliau kencangkan sarung, menjauhi istri-istrinya (untuk beribadah), mandi antara dua adzan (dua waktu sholat maghrib dan isya)." (HR Ibnu Abi'Ashim).
- Bersungguh-sungguh dalam meraih Lailatul Qadar
Dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan, kita sangat dianjurkan untuk sungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar, yang merupakan malam paling istimewa dibanding seribu bulan. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan ibadah pada malam itu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: "carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan." (HR Al-Bukhari dan Muslim).
- Berdoa memohon ampunan
Saat malam Lailatul Qadar tiba, Rasulullah menyarankan kita untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Doa yang dianjurkan seperti berikut,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: "Ya Allah Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku."
Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah,
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ: تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya, "Dari 'Aisyah RA, sesungguhnya dia berkata, '(Aku pernah bertanya kepada Rasulullah), 'Wahai Rasulullah, doa apa yang bisa aku baca ketika mendapati Lailatul Qadar?' Nabi menjawab, 'Bacalah Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbul 'afwa fa'fu 'annī (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).'" (HR Ibnu Majah).
(*)