China Jadi Penentu Nasib Minyak Iran
GH News March 10, 2026 09:10 PM
Jakarta -

Iran memblokade Selat Hormuz, jalur distribusi minyak dari timur tengah, sebagai balasan dari serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Namun, pakar meragukan Iran akan mengambil risiko memblokade jalur pelayaran jangka panjang. Pakar Energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International mengatakan pemblokiran selat Hormuz dalam jangka panjang justru akan merugikan Iran sendiri.

"Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju Cina dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri," ujar Sara kepada Bloomberg TV dikutip dari Deutsche Welle (DW), Selasa (10/3/2026).

Menurut Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) Amerika Serikat, sekitar 20% minyak mentah yang dikonsumsi dunia diangkut melalui jalur laut ini. Lebih dari 80% pengiriman tersebut menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang.

Menurut media Iran International, penutupan Selat Hormuz tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak, tetapi juga bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG). Sekitar 30% bahan bakar penerbangan Eropa dan 20% LNG global diangkut melalui jalur tersebut.

Banyak negara, termasuk AS, negara anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada, memiliki cadangan strategis yang cukup untuk menghadapi gangguan pasokan sementara selama beberapa minggu.

Iran bergantung pada China

Blokade tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke Barat, tetapi juga ekspor Iran yang ditujukan ke China dan India. Hal ini akan memperparah krisis ekonomi Iran.

Iran telah dikenai sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terhadap ekspornya. Sanksi tambahan dari PBB diberlakukan antara 2006 hingga 2015 terkait program nuklir Iran.

Sanksi sempat dilonggarkan antara 2016 dan 2018 setelah Iran ikut dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan sanksi ketat setelah menarik AS dari kesepakatan tersebut.

Sanksi Barat juga membuka celah bagi Iran untuk tetap berdagang karena tidak ada sanksi bagi negara yang tidak mematuhi pembatasan tersebut.

Akibatnya, lebih dari 80% ekspor Iran dikirim ke China, menurut platform data dan analisis Kpler. Saat ini, China menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia.

Sanksi Barat terhadap ketiga negara itu memaksa mereka menjual minyak dengan harga diskon. China diuntungkan oleh harga yang lebih murah, sementara Iran harus menerima pendapatan ekspor yang lebih rendah.

Selain itu, sanksi yang memaksa penggunaan armada kapal bayangan, perantara, dan rute alternatif juga meningkatkan biaya transportasi.

"Saat ini, China merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi," kata Nikolay Kozhanov dari Qatar University.

China diversifikasi impor minyak

Itulah mengapa perkembangan ekonomi China lebih penting bagi Iran dibandingkan sanksi baru dari PBB. Sanksi terhadap Iran, Rusia, dan Venezuela juga memungkinkan China mendiversifikasi sumber impor minyaknya.

China telah menjauh dari pemasok yang memiliki hubungan erat dengan AS, seperti negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang banyak terintegrasi dalam sistem keamanan dan keuangan yang dipimpin AS.

Menurut Kozhanov, sanksi telah melemahkan Iran terlepas dari ketahanan ekonominya. Hal ini karena sanksi sangat membatasi akses Iran terhadap teknologi baru, pembiayaan internasional, dan investasi. Hal ini mengurangi produksi minyak Iran dalam jangka panjang.

"Iran kemungkinan tetap hadir di pasar minyak global, tetapi sebagai pemasok yang secara struktural dilemahkan dan menjual dengan diskon besar, secara bertahap mempertahankan volume perdagangan yang stabil dengan pendapatan per unit yang lebih rendah," kata Kozhanov.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.