Transaksi Digital Meningkat Saat Mudik, Waspadai Modus Phishing dan Social Engineering
Muhamad Syarif Abdussalam March 10, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menjelang libur Lebaran, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih.

Aktivitas transaksi keuangan yang meningkat selama periode mudik dan libur panjang kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menjalankan aksinya.

Momentum Lebaran biasanya diwarnai dengan meningkatnya aktivitas belanja, transfer dana, hingga pembayaran berbagai kebutuhan perjalanan.

Situasi ini membuat masyarakat lebih sering melakukan transaksi digital, baik melalui mobile banking, e-wallet, maupun layanan keuangan lainnya. Di tengah kesibukan tersebut, pelaku kejahatan siber sering memanfaatkan kelengahan pengguna untuk melakukan penipuan.

Direktur Kepatuhan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) Yessika Effendi mengatakan, pelaku penipuan kini sering menggunakan teknik social engineering dan phishing untuk mendapatkan data pribadi serta akses ke perangkat korban.

“Modus penipuan digital terus berkembang dan menggunakan teknik manipulasi psikologis, dimana Pelaku memanfaatkan kepanikan korban agar secara sadar memberikan informasi sensitif seperti OTP, PIN, hingga password. Momentum Lebaran sering dimanfaatkan karena masyarakat cenderung lebih lengah dengan adanya berbagai kegiatan,” ujar Yessika secara virtual, Selasa (10/3/2026).

Dalam praktiknya, pelaku biasanya menghubungi korban dengan mengaku sebagai pegawai bank, petugas pajak, dinas kependudukan, hingga aparat penegak hukum.

Korban kemudian diinformasikan adanya transaksi mencurigakan dan diminta mengklik tautan palsu yang menyerupai situs resmi untuk membatalkan transaksi.

Tak hanya itu, pelaku juga kerap meminta korban mengunduh file APK berisi malware, melakukan share screen melalui WhatsApp, memberikan izin akses pada perangkat, hingga mentransfer sejumlah dana dengan dalih biaya materai atau administrasi.

Jika korban mengikuti instruksi tersebut, pelaku dapat mengambil alih ponsel dan mengakses mobile banking tanpa izin, membaca OTP dan notifikasi penting, mengubah password mobile banking atau M2U ID App (mobile banking milik Maybank Indonesia) serta akun email dan e-wallet, bahkan mengirim pesan palsu ke kontak korban.

“Perlu dipahami bahwa pelaku tidak meretas sistem bank. Mereka memanipulasi korban agar menyerahkan aksesnya sendiri. Oleh karena itu, kewaspadaan nasabah menjadi benteng Utama dalam pengamanan dana mereka sendiri,” tegas Yessika.

Sebagai langkah pencegahan, Maybank Indonesia mengimbau nasabah untuk tidak mengklik tautan atau mengunduh file yang mencurigakan.

Untuk transaksi perbankan, nasabah diminta hanya menggunakan kanal resmi seperti M2U ID Web dan M2U ID App yang tersedia di App Store dan Play Store dengan nama pencarian “Maybank2u ID”.

Nasabah juga diingatkan untuk tidak pernah membagikan data rahasia seperti OTP, PIN, TAC, passcode Secure2u, serta kode CVV/CVC. Maybank Indonesia, tegas Yessika, tidak pernah meminta data tersebut melalui telepon maupun tautan.

Nasabah juga disarankan untuk rutin memeriksa notifikasi transaksi, mengecek saldo, serta mengganti PIN dan password secara berkala.

“Keamanan transaksi digital adalah tanggung jawab bersama. Dengan kewaspadaan yang tinggi, masyarakat dapat menjalani momen Lebaran dengan aman dan nyaman tanpa gangguan kejahatan siber,” kata Yessika.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.