TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Inilah kisah pangkas rambut lawas yang ada di Jalan Pemuda, Kecamatan Tanah Saeral, Kota Bogor.
Bagi kaum generasi tahun 90-an, pasti sudah tidak asing dengan tempat pangkas rambut yang satu ini.
Ya, namanya adalah Pangkas Rambut Pemuda.
Pangkas rambut ini memang sangat terkenal sejak puluhan tahun lalu dan masih eksis hingga saat ini.
Pangkas Rambut Pemuda ini persis berada tepat di depan Gedung DPRD Kota Bogor.
Lokasinya berada di lorong salah satu rumah sederhana milik warga yang terhimpit di antara bangunan megah bertingkat.
Nuansa jadul sangat terasa ketika akan memasuki pangkas rambut ini yang menggugah kenangan setiap orang yang pernah menikmati jasanya.
Di depan, terpampang sebuah spanduk lusuh bertuliskan Pangkas Rambut Pemuda sebagai penanda.
Motor-motor pengunjung terparkir rapi di halaman rumah yang tidak begitu luas itu.
Beranjak ke dalam, terdapat sebuah lorong untuk menuju pangkas rambut tersebut.
Kursi-kursi kayu pun berjajar sebagai ruang tunggu sederhana.
Alunan musik lawas dari speaker tua menambah kesan klasik yang menyejukkan hati.
Di balik itu semua berdiri seorang pria yang dengan cekatan mencukur rambut setiap pelanggan.
Tak banyak alat yang digunakannya. Hanya sebuah mesin cukur tua yang selalu digenggam tangannya.
Dia adalah Supri, sosok pemilik dari Pangkas Rambut Pemuda.
Usaha ini sudah ditekuninya sejak puluhan tahun lalu dan sudah mendarah daging.
Kepada Kompas.com, Supri bercerita sebelum membuka usaha pangkas rambut ia sempat bekerja di berbagai bidang seperti orang pada umumnya.
"Awalnya mah kerja biasa dulu, pertama kerja di hotel terus kerja lagi di sales, terus di pabrik gak lama jadi sopir gitu," kata Supri, Selasa (10/3/2026).
Semakin bertambah usianya, mencari pekerjaan sangatlah sulit.
Di tengah kesulitan itu, terbesit petuah keluarganya bahwa setidaknya harus memiliki tiga keterampilan untuk bertahan hidup yaitu menjahit, pangkas rambut, dan memasak.
Dari situ, Supri mulai belajar memangkas rambut dari orangtuanya.
Berjalannya waktu, sekitar tahun 1988 ia pun mulai membuka bisnis pangkas rambut di Bogor.
"Itu kalau memiliki tiga ilmu itu tidak akan kelaparan," imbuhnya.
Sejak awal buka, Supri mematok tarif pangkas rambutnya hanya Rp 500 untuk semua usia hingga tahun 1994.
Setelah itu, tarifnya naik secara bertahap dan hingga kini bertahan di angka Rp 5.000.
Bukan tanpa alasan, Supri memilih tidak lagi menaikkan harga karena memang menyasar kalangan menengah ke bawah.
Tetapi, pernah ada sosok penting yang memangkas rambut di tempatnya.
"Ada lah, orang penting juga pernah ke sini saya gak enak kalau nyebutnya," tambahnya.
Selain itu, Supri menganggap bahwa setiap orang yang datang merupakan keluarga baginya. Sehingga, banyak pelanggan lintas generasi datang kembali hanya untuk dipangkas oleh Supri.
"Saya anggapnya semua yang datang keluarga, keluarga saya itu," ungkapnya.
Tidak hanya karena historis dan harganya yang sangat murah, Pangkas Rambut Pemuda ini juga dikenal dengan kecepatannya dalam memangkas rambut karena tidak sampai 10 menit.
Bukan karena asal-asalan, tetapi Supri sudah bisa membaca potongan yang pantas untuk pelanggannya dari bentuk kepala meskipun baru melihat.
Meski begitu, sebagai bentuk menghargai Supri tetap bertanya terlebih dahulu model rambut yang diinginkan kepada pelanggannya.
Jika pelanggannya kesulitan, ia pun memberi masukan potongan yang pantas agar hasilnya memuaskan.
"Dari jauh saya sudah bisa lihat ini orang bentuk kepalanya cocoknya apa, sudah tergambar di kepala saya mungkin karena terbiasa," tuturnya.
Supri pun ternyata memiliki prinsip atau pilihan hidup yang cukup unik.
Ia tidak menggunakan ponsel untuk berkomunikasi apalagi bermedia sosial.
Menurutnya, di usia yang sudah tidak muda lagi, ia ingin menghindari segala sesuatu informasi negatif dari ponsel.
Kini, ia memilih untuk menikmati hidup dengan memangkas rambut.
"Komunikasi yang terbaik menurut saya adalah bertemu langsung. Sudah 10 tahun saya tidak menggunakan ponsel," terang Supri.
Kini, Supri hanya ingin bercita-cita membuka usaha pangkas rambutnya lebih besar lagi.
Tetapi, dengan harga lebih rendah dari tarif saat ini.
Bukan serta merta soal materi, dengan harga segitu ia merasa puas bisa membantu orang-orang yang memang membutuhkan jasanya.
Karena, tidak semua memiliki uang banyak hanya untuk pangkas rambut.
"Kalau bisa mah (harga) Rp 3.000 atau mungkin Rp 2.000. Karena percaya gak percaya harga seperti itu bisa bantu orang yang gak punya uang bisa disisihkan untuk kebutuhan lain," pungkasnya.
Sumber: Kompas.com