TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menegaskan bahwa urgensi ketahanan energi saat ini identik dengan ketahanan nasional.
Hal tersebut ia sampaikan dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus.
Universitas Hasanuddin menjadi kampus ke-45 dalam rangkaian acara yang diinisiasi Eddy sejak menjabat sebagai Pimpinan MPR RI. Kegiatan ini dihadiri antusias oleh mahasiswa, dosen, dan para guru besar di lingkungan kampus.
Menurut Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia itu, sektor industri dan transportasi berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional sehingga ketahanan energi dan ketahanan nasional Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
"Ketergantungan dunia, termasuk Indonesia, terhadap minyak mentah dan gas masih sangat besar. Ini mengingat sektor industri, seperti petrokimia, pupuk, farmasi, serat sintetis, dan sektor transportasi membutuhkan migas sebagai bahan baku serta bahan bakar. Saat ini, belum ada substitusi terhadap keduanya," ujar Eddy dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Selasa (10/3/2026).
Ia mengingatkan, jika pasokan migas terganggu dan Indonesia kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini diimpor, kegiatan ekonomi akan melambat atau bahkan terhenti.
Baca juga: Eddy Soeparno Gelar PANsar Murah di Bogor, Siapkan 3.000 Paket Sembako untuk Masyarakat
"Tidak ada mobil, pesawat terbang, dan kapal laut yang dapat beroperasi jika tidak ada BBM. Begitu pula sektor industri yang bergantung pada bahan baku migas juga akan berhenti beroperasi. Dengan kata lain, mobilitas masyarakat dan proses produksi akan lumpuh seketika," terangnya.
Menyikapi gejolak harga minyak mentah dan gas dunia akibat ketegangan di Timur Tengah, Wakil Ketua Umum PAN tersebut menyarankan agar pemerintah, khususnya Pertamina, mengamankan pasokan migas nasional melalui diversifikasi sumber dari negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz.
"Saat ini, reliability of supply lebih penting dari availability of supply, mengingat seluruh negara yang mengimpor kebutuhan migasnya mencari sumber pasokan dari negara lain yang mampu menjamin ketersediaan pasokan. Dalam situasi seperti ini, Indonesia bisa saling bersaing dengan negara importir migas besar, seperti China, India, Jepang, dan Korea untuk mendapatkan kepastian pasokan," ucapnya.
Ke depan, Eddy mendorong percepatan transisi energi, termasuk peningkatan kapasitas simpanan BBM dari 20 hari saat ini menjadi 90 hari sesuai arahan Presiden Prabowo.
"Melalui pengembangan energi terbarukan, kita akan mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang selama ini diimpor. Selain menghemat devisa dan memperkuat ketahanan energi dalam negeri, kita juga mendapatkan energi bersih dan hijau," kata Eddy.
Eddy berharap, ketahanan fiskal Indonesia tetap kuat di tengah lonjakan harga minyak mentah yang berpotensi membebani anggaran negara.
"Saya berharap, Kementerian Keuangan telah sedia payung sebelum hujan sehingga kebutuhan pasokan migas Indonesia tetap bisa terpenuhi meski harganya melonjak dan nilai tukar rupiah melemah. Kami di lembaga legislatif tentu akan mendukung berbagai kebijakan untuk menciptakan ketahanan energi yang kuat ke depannya," tutup Anggota Komisi XII DPR RI ini.
Baca juga: Perang Iran-AS-Israel Berlanjut, Eddy Soeparno Waspada Kenaikan Harga Minyak Mentah