(Penulis: Putri Salsabilah, Mahasiswa Bahasa Indonesia UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Sabarudin Kamuli merupakan Imam Masjid Al-Muqarabbin yang terletak di Jl Madura, Dulalowo, Kota Tengah, Gorontalo.
Masjid Al-Muqarabbin sendiri bermula dari sebuah surau kecil berukuran 5 × 4 meter pada tahun 1937.
Setelah melewati perjalanan panjang, masjid ini mengalami renovasi besar-besaran senilai Rp14 miliar pada tahun 2021, dan kini berdiri megah sebagai pusat peradaban masyarakat.
Sabarudin Kamuli (44) telah mendedikasikan hidupnya sebagai imam sejak tahun 2007.
Perjalanan Sabarudin menjadi imam bermula dari ikatan kekeluargaan setelah ia menikahi istrinya, yang orang tuanya merupakan salah satu pendiri masjid tersebut.
Meski bukan cita-cita masa kecil, bakat kepemimpinannya dalam salat sudah terasah sejak masa kuliah.
Baginya, menjadi imam bukan sekadar rutinitas, melainkan amanah yang menghadirkan kebahagiaan spiritual luar biasa.
Ia meyakini bahwa upah sejati dari pengabdian ini bukanlah materi, melainkan kemudahan dalam segala urusan hidup yang dikaruniakan Allah SWT.
Dalam kesehariannya, Sabarudin berprofesi sebagai pedagang alat tulis kantor.
Namun, ia tetap teguh menjaga kualitas hafalannya dengan rutin melakukan murojaah setiap bakda Subuh dan Magrib.
Menurutnya, menjaga hafalan menuntut kedisiplinan tinggi, termasuk membatasi diri dari mendengarkan musik dan lebih banyak menyimak lantunan ayat suci dari para imam terkemuka melalui platform digital.
“Menjaga pandangan adalah hal tersulit, namun itulah cara utama kami menjaga kemurnian hafalan,” ujarnya.
Sabarudin menekankan bahwa akhlak dan perilaku yang baik adalah kualitas terpenting bagi seorang imam.
Walau merasa ilmunya masih terbatas untuk berdakwah di mimbar besar, ia konsisten berdakwah secara personal kepada satu hingga tiga orang jamaah.
Masjid Al-Muqarabbin juga berfungsi sebagai solusi sosial bagi masyarakat.
Baca juga: Sosok Angeline Alkatiri Halilović, Wakil Gorontalo di Ajang Putri Indonesia 2026
Salah satu keberhasilan yang membanggakan adalah penggalangan donasi hingga Rp40 juta hanya dalam empat hari untuk membantu korban kebakaran, selaras dengan visi masjid sebagai tempat penyelesaian berbagai kesulitan hidup jamaah.
Sabarudin menemukan penawar lelah dengan menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia menerapkan prinsip “baku-baku sedu” atau bercanda akrab dengan anak-anaknya, mengutamakan kedekatan fisik dan emosional sebagai obat penat.
Memasuki bulan Ramadan tahun ini, ia menaruh harapan besar agar semangat beribadah masyarakat semakin meningkat.
Kebahagiaan Sabarudin memuncak saat melihat barisan jamaah iktikaf yang kian bertambah, serta terlaksananya program sahur bersama yang mempererat tali silaturahmi. (*)