Tribunlampung.co.id, Jakarta - Di satu bandara di Asia, seorang calon penumpang menatap layar ponselnya dengan wajah bingung. Harga tiket yang ia lihat semalam tiba-tiba melonjak.
Bagi banyak orang, perjalanan yang sudah direncanakan jauh hari kini terasa semakin mahal.
Di balik layar, maskapai-maskapai penerbangan, tengah berjibaku menghadapi lonjakan harga bahan bakar pesawat yang dipicu memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Perang di Timur Tengah membuat pasokan energi global terguncang. Harga minyak mentah bahkan sempat melampaui 100 dolar AS per barel, level yang jarang terjadi sejak krisis energi pada 1970-an.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com yang melansir Japan Times, kenaikan itu langsung terasa di industri penerbangan.
Baca juga: Serangan AS-Israel ke Depot Minyak Iran Bisa Picu Lonjakan Harga hingga 200 Dolar per Barel
Bahan bakar jet yang menjadi komponen biaya terbesar maskapai ikut melonjak. Akibatnya, sejumlah maskapai di Asia mulai menaikkan tarif tiket dan menyiapkan rencana darurat.
Di India, misalnya, maskapai sudah menaikkan harga tiket penerbangan jarak jauh hingga sekitar 15 persen. Kenaikan itu bahkan masih mungkin bertambah jika harga bahan bakar terus naik.
Sementara di Vietnam, media pemerintah memperingatkan tarif penerbangan bisa meningkat hingga 70 persen karena negara tersebut sangat bergantung pada impor bahan bakar pesawat.
Maskapai-maskapai di Asia berada dalam posisi yang lebih rentan dibandingkan pesaing mereka di Eropa atau Amerika.
Banyak di antaranya tidak memiliki program lindung nilai bahan bakar yang kuat, sehingga lebih mudah terpukul ketika harga minyak melonjak secara tiba-tiba.
“Semua orang sudah menekan tombol panik,” ujar analis pasar minyak senior di Sparta Commodities, June Goh, menggambarkan situasi industri penerbangan saat ini.
Di beberapa maskapai berbiaya rendah di Asia Tenggara, bahkan mulai muncul skenario paling ekstrem: menghentikan operasional pesawat jika bahan bakar jet menjadi terlalu mahal atau sulit didapat.
Bagi maskapai dengan margin keuntungan tipis, kondisi ini bisa sangat berbahaya.
Seorang sumber industri menyebut, jika situasi ini berlangsung lebih dari tiga bulan, beberapa maskapai kecil berisiko bangkrut.
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh maskapai.
Bandara-bandara besar di kawasan Timur Tengah juga mulai terdampak karena aktivitas penerbangan berkurang dan sejumlah rute dialihkan atau dibatalkan.
Analis industri penerbangan dari Deutsche Bank, Michael Linenberg, bahkan memperingatkan kemungkinan ribuan pesawat di seluruh dunia terpaksa berhenti beroperasi jika konflik terus berlanjut.
Namun di tengah ketidakpastian itu, masih ada secercah optimisme.
Sebagian pelaku industri berharap gejolak ini tidak berlangsung lama.
CEO Air Lease Corp., John Plueger, menilai dunia penerbangan mungkin hanya mengalami penundaan sementara.
“Dunia tidak berhenti. Mungkin hanya tertunda,” katanya.
Bagi para penumpang, kata-kata itu mungkin menjadi harapan kecil—bahwa perjalanan yang kini terasa mahal dan penuh ketidakpastian suatu saat akan kembali normal.
Konflik di Timur Tengah justru menguntungkan maskapai penerbangan di Eropa. Mereka tidak terimbas oleh tren naiknya harga bahan bakar pesawat.
Minggu lalu, CEO Deutsche Lufthansa AG, Carsten Spohr, mengatakan grup maskapai penerbangannya terlindungi dari fluktuasi harga bahan bakar. Sementara di saat yang sama kompetitornya harys menaikkan harga tiket.
Lufthansa bahkan manambah kapasitas pada rute Asia dan Afrika mengingat para pesaing di Timur Tengah masih jauh dari beroperasi normal, katanya.
Namun, saham maskapai penerbangan Asia kemungkinan akan tetap berfluktuasi karena ketidakpastian masih berlanjut.
Senin kemarin, saham-saham tersebut anjlok. Saham Asiana Airlines jatuh ke level terendah dalam lebih dari 21 tahun karena lonjakan harga minyak di atas 100 dolar per barel.
Indeks BI Asia Pacific Airlines jatuh ke level terendah dalam lebih dari lima tahun. InterGlobe Aviation, yang mengoperasikan maskapai penerbangan terbesar di India, IndiGo, merosot hingga 8,4 persen di Mumbai sebelum mengurangi sebagian kerugian hari itu.