TRIBUNGAYO.COM - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo kembali meninjau langsung perkembangan penanganan longsoran atau lubang raksasa di Aceh Tengah, Senin (9/3/2026).
Peninjauan sebelumnya dilakukan sebagai tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya pada Februari 2026.
Peninjauan kali ini sekaligus menindaklanjuti arahan Presiden agar penanganan bencana dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi.
Terkait hal itu, Menteri PU juga mengungkap penyebab awal terjadinya lubang yang kini semakin meluas.
Melansir Kompas.com, resapan air yang masuk ke dalam rongga tanah diduga menjadi penyebab awal longsoran tebing di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Aliran air tersebut membuat rongga di bawah permukaan tanah melebar dan memicu pergerakan tanah secara progresif.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, panjang badan jalan yang terdampak longsoran kini mencapai sekitar 175 meter.
Longsoran sebelumnya sempat berkembang secara progresif hingga sekitar empat meter per hari akibat aliran air yang masuk ke rongga tanah di bawah permukaan.
“Awalnya, ada resapan air di bawah yang membuat lubang melebar. Bahkan sebelumnya sempat berkembang sampai sekitar empat meter per hari. Sekarang, kita lihat sudah jauh berkurang karena saluran yang menuju ke lubang sudah mulai kering,” ujar Dody, dikutip rilis, Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, pemerintah terus melakukan langkah-langkah teknis untuk menghentikan perkembangan longsoran dengan mengendalikan aliran air yang menjadi salah satu penyebab utama runtuhan.
“Sudah ada beberapa pekerjaan yang dikerjakan oleh teman-teman berdasarkan kajian teknis bersama tim pakar dari ITB dan Unsyiah. Tadi, juga ada masukan dari Pak Bupati Bener Meriah yang kami minta tim untuk mengkaji lagi, salah satunya adalah kemungkinan pembangunan embung,” katanya.
Seiring perkembangan longsoran, persimpangan menuju jalan detour pertama telah tergerus sehingga jalur tersebut tidak lagi dapat digunakan.
Saat ini, mobilitas masyarakat dialihkan melalui dua jalur alternatif lainnya, yakni detour kedua sepanjang sekitar 2,2 kilometer dan detour ketiga sepanjang sekitar 5,3 kilometer.
Pada kedua jalur tersebut telah dilakukan penanganan sementara berupa perapihan badan jalan dan perkerasan menggunakan material sirtu sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Pengambilan Data Lapangan Untuk memperkuat kajian teknis, Kementerian PU juga melakukan berbagai pengambilan data lapangan, antara lain survei lidar, pengeboran borelog di dua titik, survei geolistrik pada lima lintasan, georadar, serta pengamatan visual guna memetakan kondisi geologi kawasan secara lebih detail.
Selain itu, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh bersama Satuan Tugas Percepatan Penanganan Bencana Alam Provinsi Aceh Kementerian PU juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk merelokasi saluran irigasi agar menjauh dari area longsoran.
Dody menegaskan, keselamatan menjadi prioritas utama dalam penanganan longsoran tebing tersebut.
Karena itu, Kementerian PU saat ini memfokuskan upaya pada stabilisasi kondisi di sekitar lokasi sebelum dilakukan penguatan permanen.
“Yang paling penting sekarang adalah memastikan kondisi di sekitar longsoran benar-benar stabil dan aman. Kita tidak bisa memaksakan pekerjaan di titik lubang kalau masih ada potensi pergerakan.
Karena itu fokus kita saat ini adalah mengurangi aliran air dan melakukan penguatan lereng terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan penanganan permanen supaya longsoran tidak melebar lagi,” tandas dia.
Baca juga: Kementerian PU Libatkan Pakar Tangani Sinkhole, Sumur Bor Dibuat untuk Kurangi Aliran Air ke Lubang