SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Harga minyak dunia yang sebelumnya melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (10/3/2026).
Penurunan ini terjadi setelah muncul sinyal bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi segera mereda.
Sebelumnya, harga minyak sempat melesat hingga mendekati 120 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026).
Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.
Namun, setelah muncul pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa perang dengan Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama, harga minyak mulai terkoreksi.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah acuan global Brent bahkan sempat turun di bawah 84 dolar AS per barel sebelum kembali stabil di kisaran 90 dolar AS per barel.
Kekhawatiran Pasokan Energi Global
Lonjakan harga minyak sebelumnya dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia.
Para pelaku pasar khawatir konflik tersebut dapat mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk, terutama melalui jalur pelayaran strategis seperti Strait of Hormuz.
Selat sempit ini memiliki peran vital dalam perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Ketika konflik meningkat, lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan hampir terhenti, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan krisis pasokan energi.
Baca juga: Pasar Dunia Bernapas Lega! Harga Minyak Turun Setelah Trump Klaim Konflik Iran Segera Usai
Sinyal Konflik Akan Segera Berakhir
Penurunan harga minyak terjadi setelah Trump menyampaikan bahwa operasi militer terhadap Iran kemungkinan hanya berlangsung singkat.
Dalam konferensi pers di Florida, ia menyatakan bahwa konflik tersebut hampir selesai.
Pernyataan ini memberikan harapan kepada pasar bahwa gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah tidak akan berlangsung lama.
Optimisme tersebut mendorong sebagian pelaku pasar untuk melakukan aksi jual pada kontrak minyak yang sebelumnya melonjak akibat sentimen perang.
Ancaman Terhadap Jalur Energi Masih Ada
Meski memberikan sinyal bahwa konflik akan segera mereda, Trump tetap memperingatkan Iran agar tidak mengganggu arus distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons keras apabila Iran mencoba menghentikan aliran minyak dari kawasan tersebut.
Pernyataan saling ancam antara kedua pihak menunjukkan bahwa meskipun harga minyak telah turun, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih cukup tinggi.
Pasar Energi Dinilai Masih Rentan
Menurut pendiri dan Managing Director perusahaan investasi energi InterCapital Energy, Alberto Bellorin, penurunan harga minyak saat ini hanya memberi ruang sementara bagi pasar untuk bernapas.
Ia menilai kondisi pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Bellorin memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak fluktuatif selama konflik belum benar-benar berakhir.
Jika ketegangan meningkat kembali, harga minyak berpotensi melonjak lagi.
Sebaliknya, jika situasi membaik, harga dapat terus mengalami penurunan.
Baca juga: Krisis Minyak Mengintai, Aramco Peringatkan Dampak Penutupan Selat Hormuz
Dampak ke Pasar Keuangan Global
Turunnya harga minyak juga memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global.
Sejumlah bursa saham di berbagai negara mencatat penguatan setelah kekhawatiran terhadap pasokan energi mulai mereda.
Indeks saham di Eropa mencatat kenaikan, termasuk FTSE 100 di London yang naik hampir dua persen.
Sementara itu, indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis juga mencatat kenaikan signifikan.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan turut menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat lonjakan harga minyak.
Risiko Jika Selat Hormuz Tetap Terganggu
Meski harga minyak mulai turun, risiko terhadap pasar energi global masih cukup besar jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa penutupan jalur pelayaran tersebut dapat menimbulkan dampak serius bagi pasar energi dunia.
Menurutnya, cadangan minyak global saat ini berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir.
Jika gangguan pasokan berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memicu tekanan besar terhadap perekonomian global.
G7 Bahas Opsi Darurat
Lonjakan harga minyak juga mendorong negara-negara yang tergabung dalam Group of Seven atau G7 untuk membahas langkah darurat guna menjaga stabilitas pasar energi.
Dalam pertemuan bersama International Energy Agency (IEA), para pemimpin negara G7 membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis ke pasar.
Namun hingga kini belum ada keputusan final terkait penggunaan cadangan tersebut, karena langkah itu dianggap sebagai opsi terakhir yang hanya dapat digunakan sekali.
Para analis menilai keputusan tersebut menjadi dilema bagi pemerintah: apakah menunggu perkembangan konflik atau segera menambah pasokan untuk menenangkan pasar.
Baca juga: Polemik Sulitnya Penukaran Uang Baru, Haji Uma Datangi Bank Indonesia Lhokseumawe
Baca juga: Warga Tetap Dapat Akses Layanan BPJS di Kota Tujuan Mudik
Baca juga: Purbaya: Pemerintah Sudah Salurkan THR Rp11,16 Triliun untuk Lebih dari 2 Juta Aparatur Negara