Komandan IRGC Iran: Mulai Sekarang, Rudal yang Diluncurkan Berhulu Ledak Tak Kurang dari Satu Ton
TRIBUNNEWS.COM - Alih-alih mereda, aksi perlawanan Iran atas serangan yang mereka terima dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, memasuki hari kesepuluh peperangan, justru meningkat.
Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menegaskan kalau mulai sekarang tidak akan ada rudal dengan hulu ledak kurang dari satu ton yang diluncurkan.
Baca juga: Amerika Pertimbangkan Kirim Delta Force Masuk Wilayah Iran, Perang Darat Hancurkan Isfahan
Mousavi menambahkan, dalam sebuah unggahan di platform “X” pada Senin (9/3/2026), kalau intensitas rentetan rudal dan tingkat gelombang serangan akan meningkat, dan jangkauannya akan menjadi lebih luas.
Pada momen itu, Mousavi berpidato di hadapan rakyat Iran dari tengah alun-alun, menekankan kalau mereka harus yakin bahwa serangan terhadap musuh tidak akan berhenti sedetik pun.
Garda Revolusi Iran terus melancarkan gelombang peluncuran rudal sebagai bagian dari Operasi "True Promise 4," dengan jumlah gelombang mencapai 32 gelombang (setiap gelombang terdiri dari ratusan drone dan rudal) sejak dimulainya agresi Amerika-Israel terhadap Iran.
Baca juga: Iran Sudah Luncurkan 3 Ribu Rudal-Drone ke Negara Arab, AS Bayar Kompensasi atau Cuci Tangan?
Garda Revolusi meluncurkan rudal berat dengan hulu ledak besar dan ganda, yang menargetkan jantung entitas pendudukan dan pangkalan militer Amerika di wilayah tersebut.
Juru bicara Markas Besar Pusat IRGC, Khatam al-Anbiya mengkonfirmasi kalau pangkalan-pangkalan Amerika di wilayah tersebut dan di wilayah pendudukan mengalami serangan harian dari rudal dan drone Iran.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Selasa (10/3/2026) mengatakan kalau Amerika Serikat telah mendeteksi Iran meluncurkan jumlah rudal paling sedikit dalam 24 jam terakhir.
Peluncuran yang sedikit dibanding sebelumnya ini, kata dia, mengindikasikan kalau serangan AS yang dilakukan hari ini terhadap Iran "akan menjadi yang paling keras."
Dalam konferensi pers bersama Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Keane, Hegseth menjelaskan bahwa tujuan operasi militer tersebut adalah untuk menghancurkan rudal Iran dan basis industri pertahanannya, selain menghancurkan angkatan laut Iran.
Dia menekankan bahwa Amerika Serikat "mengalahkan Iran melalui dominasi udara dan dalam pelaksanaan keputusan presiden."
Dia menambahkan bahwa Iran "berdiri sendiri dan mengalami kekalahan telak," menganggapnya "putus asa dan goyah," serta menuduh Teheran meluncurkan rudal dari sekolah dan rumah sakit.
Ia mencatat bahwa misi Amerika Serikat adalah untuk "dengan tegas" mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, menekankan bahwa Iran "berpacu dengan waktu untuk mendapatkan bom nuklir dan menjadikan dunia sebagai sandera."
Dalam konteks yang sama, Kaine mengatakan bahwa pasukan AS fokus pada penghancuran rudal, drone, angkatan laut, dan basis industri Iran, menekankan bahwa "kemajuan signifikan telah dicapai dalam mengurangi kemampuan rudal Iran."
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa perang melawan Iran "belum berakhir,".
Dia menekankan kalau serangan berkelanjutan dari AS-Israel telah melemahkan rezim di Teheran.
Sebuah pernyataan dari kantor Netanyahu pada Selasa mengutip perkataannya pada Senin malam saat kunjungan ke Pusat Kesehatan Nasional:
"Kami bercita-cita agar rakyat Iran terbebas dari belenggu tirani, dan pada akhirnya itu terserah mereka. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa melalui tindakan yang telah kami ambil sejauh ini, kami sedang menghancurkan tulang-tulang mereka, dan kami belum selesai."
(oln/khbrn/*)